PLUT-KUMKM, Mengubah Mindset Pekerja Menjadi Wirausaha

Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM di Kabupaten Sukabumi mulai dibangun pada 2013 dan diresmikan Menteri Koperasi dan UKM saat itu pada 28 Februari 2014. Dan dari data potensi UMKM di Kabupaten Sukabumi yang terdata sebanyak 27 ribu, ada sekitar 2.505 UMKM dan 438 Koperasi yang sudah dibina oleh PLUT. Salah satunya adalah Henry Wijanarko, pelaku UKM yang bergerak di sektor usaha konveksi dan sablon digital.

Henry yang warga Desa Karang Tengah Kecamatan Cibadak mengaku, keberadaan PLUT di wilayahnya sangat membantu dalam mengembangkan usaha yang sudah dijalaninya sejak 2014 lalu. “Bagi saya, PLUT yang mengubah mindset saya dari pekerja menjadi pengusaha. Selain itu, PLUT memberikan koneksi serta sering melakukan pelatihan pelatihan yang bermanfaat bagi saya dan pelaku UKM lain”, kata Henry.

Menurut Henry, kelebihan PLUT bagi UKM diantaranya sebagai pusat informasi pelaku ukm dalam segala hal, wadah bersilaturahmi pelaku UKM di Sukabumi, memperluas jaringan pelaku UKM, membuka peluang ide-ide bisnis bagi startup, hingga meningkatkan kapasitas pelaku UKM. “Kekurangannya, saya merasa PLUT masih bersifat lokal/domestic dan belum ada sistem pengembangan UKM yang terintegrasi”, ungkap dia.

Oleh karena itu, Henry berharap PLUT sebagai pusat layanan usaha terpadu perlu lebih melebarkan sayap mencari mitra-mitra usaha baik dari domestik maupun luar negeri, agar produk-produk UKM bisa menembus pasar yang lebih luas.

Kesuksesan Henry dalam dunia usaha, memang tak selalu berjalan mulus. Henry pun bercerita, minat berwirausaha sudah ada sejak kecil. “Mungkin, karena memang ibu saya bergerak di bidang usaha jual beli baju”, ujar Henry.

Setelah lulus SMA pada 2005, Henry melanjutkan kuliah di Jakarta. “Sambil kuliah, saya juga bekerja di perusahaan Event Organizer Gematama Kreasindo yang dulu berkantor di Mampang Prapatan selama dua tahun. Lalu, berlanjut bekerja di bidang perfilman/production house selama kurang lebih dua tahun”, kata Henry.

Pada pertengahan 2009, lanjut Henry, kakak pertamanya sakit keras (stroke). Karena itu, Henry memilih untuk berhenti dari perusahaan production house dan membantu orangtua untuk merawat kakaknya sambil memulai usaha sablon digital (press mug, kaos, pin, dan lain-lain). “Usaha sablon digital saya terus berlanjut sampai suatu ketika saya tertipu oleh penyelenggara event internasional yang memesan kaos peserta dan panitia sejumlah Rp42 juta. Itu nominal yang besar untuk saya”, kenang Henry.

Henry mengaku, kejadian tersebut melemahkan dirinya dan membuatnya kembali bekerja di production house sampai 2013. “Namun, minat untuk berwirausaha tetap kuat dalam diri saya. Setelah terkumpul cukup modal, saya kembali pulang dengan niat untuk melanjutkan usaha sablon digital sekaligus juga menemani kedua orangtua saya. Keputusan untuk kembali berwirausaha ternyata membawa berkah bagi saya, sehingga usaha saya berkembang ke bidang konveksi sampai saat ini”, tandas Henry lagi.

Hal serupa dialami Adi Abdilah (31 tahun). Warga Cicurug, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi yang berbisnis konveksi boneka ini mengaku, keberadaan PLUT KUMKM di wilayahnya banyak membantu dirinya dalam mengembangkan usaha dan lebih meyakinkan dirinya pentingnya menjadi pengusaha, ketimbang pekerja. “PLUT KUMKM sering mengadakan pelatihan kewirausahaan yang bermanfaat bagi saya, karena saya buka usaha benar-benar secara otodidak”, tandas Adi.

Adi bercerita, sebelum menjadi pengusaha boneka, dirinya bekerja di sebuah garmen sebagai Kepala Sample Produk. “Sebenarnya, saya kerja saat itu sedang dalam posisi sangat nyaman. Namun, saat itu pula saya mendengar di kampung-kampung banyak ibu-ibu rumahtangga yang mau bekerja di garmen tapi tak diijinkan suaminya. Termasuk saudara saya. Di situ saya berpikir untuk membuka usaha boneka, karena bisa dikerjakan dirumah masing-masing. Jadi, tidak mengganggu kerjaan rumah tangga. Tahun 2012, saya putuskan berhenti bekerja di perusahaan garmen dan membuka usaha boneka di rumah sampai sekarang”, papar Adi lagi.

Selain itu, Bagi Adi, PLUT KUMKM sebagai pusat layanan usaha terpadu yang bisa memberi dan mengenalkan para mitra usaha untuk membuka pangsa pasar baru. “Menurut saya, kelebihan PLUT yang saya rasakan adalah mampu meningkatkan kapasitas UKM, sebagai pusat informasi bagi UKM, serta membuka peluang ide-ide bisnis. Kekurangan PLUT, belum ada sistem pengembangan UKM secara terintegrasi”, kata Adi.

Program Strategis

Sementara Kepala Bidang Bina UKM Pemkab Sukabumi Nandang Sunandar menjelaskan, PLUT KUMKM di wilayahnya memiliki beberapa program strategis. Yaitu, sinergitas program dengan stakeholders dan leading sektor PLUT KUMKM, pengembangan usaha PLUT KUMKM, hingga peningkatan kapasitas PLUT KUMKM dengan pengusaha besar. “Melalui anggaran Kementerian Koperasi dan UKM meliputi bangunan fisik termasuk ruang promosi, anggaran untuk pembinaan termasuk honor konsultan, pengelola PNS dan non-PNS, dan anggaran kegiatan dekonsetrasi/APBN”, jelas Nandang.

Anggaran yang dibiayai APBD Kabupaten Sukabumi meliputi pengadaan sarana mebeuler, pembuatan taman, dan renovasi gedung pertemuan serta Pujasera. Ada juga sinergitas program melali CSR dengan pengusaha besar. Seperti, sarana kuliner bagi KUMKM (paket gerobak dorong), sarana jaringan internet, dan sarana perpustakaan meliputi computer. “Manfaat PLUT bagi KUMKM meliputi bertambahnya potensi unggulan daerah yang dikembangkan koperasi dan UMKM, meningkatnya produktivitas koperasi dan UMKM, meningkatnya nilai tambah koperasi dan UMKM, meningkatnya kualitas kerja koperasi dan UMKM, meningkatnya daya saing koperasi dan UMKM, hingga menguatnya jaringan layanan usaha yang dikembangkan bersama dengan lembaga setempat”, papar Nandang.

Meski begitu, Nandang mengakui masih terdapat kendala yang dihadapi PLUT dalam memberdayakan KUMKM. Aspek internal meliputi infrastruktur/akses jalan lalu lintas yang belum dilalui kendaraan umum sepenuhnya, sarana promosi (galeri) yang belum optimal, sarana Pujasera yang belum dimanfaatkan secara maksimal, dari sisi anggaran relatif kurang maksimal guna meningkatkan eksistensi lima layanan PLUT-KUMKM, belum mempunyai sarana mobilitas untuk menunjang operasional teknis, sampai belum terbentuknya kelembagaan PLUT secara permanen.

Sedangkan kendala dalam aspek eksternal adalah terbatasnya kuantitas sumberdaya manusia PLUT untuk menjangkau UMKM yang meliputi 47 Kecamatan, dan belum maksimalnya publikasi mengenai lima layanan PLUT bagi KUMKM di 47 Kecamatan.

Solusinya, kata Nandang, perlu dibangun langkah koordinasi yang tepat dan berkelanjutan dengan OPD terkait guna merubah arus lalulintas agar PLUT KUMKM mudah dikunjungi oleh KUMKM atau masyarakat. Juga, perlu dibangun kerangka kebersamaan baik dengan OPD terkait maupun pelaku usaha untuk mengisi ruang promosi/galeri.

“Untuk sementara ini, ruang Pujasera belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha dikarenakan terbatasnya situasi atau iklim belum memungkinkan secara bisnis. Dari sisi anggaran, perlu koordinasi lebih lanjut untuk meningkatkan anggaran untuk menunjang optimalisasi pengembangan PLUT bagi pemberdayaan pelaku usaha, dan perlu dibentuknya kelembagaan sejenis UPTD bagi PLUT KUMKM”, pungkas Nandang.

BERITA TERKAIT

Pemerataan Harus Jadi Mainstream Strategi Pembangunan - Mindset Pembangunan Perlu Diubah

    NERACA   Jakarta - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemerataan tidak boleh lagi dilhat sebagai efek…

Serikat Pekerja Dukung Pemberantasan Korupsi Di PLN

      NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Dirut PLN Syofyan Basir terkait dengan OTT…

BPPSDMP Kementan Terus Ikhtiar Cetak Wirausaha Pertanian

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengambil langkah strategis dengan penyediaan sumber daya…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Intip Usaha Minuman Alpukat Kocok - Lagi Naik Daun

Di tengah cuaca yang lagi panas-panasnya memang paling cocok kalau minum minuman dingin yang bisa menyejukkan tenggorokan. Di daerah Jalan…

Cara Menyusun Anggaran Usaha Kecil

Memulai sebuah bisnis membutuhkan modal yang tidak sedikit. Setelah modalnya ada, harus ada pengaturan anggaran supaya bisa dipakai dengan baik.…

Mengaduk Peruntungan Bisnis Keju Rumahan

Siapa yang tidak kenal keju? Produk olahan susu ini sudah sangat populer di kalangan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Citarasanya…