Cegah Gagal Bayar, Aperni Segera Bayar Utang Rp 48,7 Miliar

Neraca

Jakarta — Tidak mau mengalami kejadian buruk yang dialami PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) yang macet dalam pembayaran utang jatuh tempo, perusahaan pelayaran PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk (APOL) berencana membayar sebagian utang yang akan jatuh tempo di tahun ini senilai US$20 juta atau sekitar Rp48,73 miliar.

Direktur Keuangan dan Akutansi APOL Hardi Hanubrata mengatakan, dana pembayaran utang ini akan didanai dari kas perseroan, “Pembayaran utang memang telah dijadwalkan sesuai dengan composition plan yang telah dibuat dalam program restrukturisasi," katanya di Jakarta, Rabu (15/2).

Tercatat utang yang jatuh tempo perseroan terdiri dari obligasi dolar, utang modal kerja, bunga obligasi dan utang lainnya. Sementara Presiden Direktur APOL Oentoro Surya mengatakan pihaknya baru saja menyelesaikan proses penjadwalan kembali utang yang dengan beberapa kreditur melaui pembelian kembali utang (buyback) senilai US$67,9 juta.

Setelah buyback tersebut, utang yang terdiri dari utang modal kerja turun dari Rp551,3 miliar menjadi Rp328,8 miliar, utang derivatif turun dari Rp457,6 miliar menjadi Rp311,9 miliar. Kemudian, utang obligasi dan hutang yang dijamin turun dari Rp4,071 triliun menjadi Rp3,823 triliun.

Menurutnya, dengan selesainya proses buyback pada 30 Juni 2012, total kewajiban perseroan saat ini tersisa sekitar Rp4,464 triliun. "Penurunan jumlah utang dapat meringankan beban perseroan dalam menjalankan usaha dalam kondisi yang fluktuatif saat ini,"jelasnya.

Tambah Kapal Baru

Selain itu, diakhir Februari tahun ini, perseroan akan mendatangkan dua buah kapal jenis Panamax yang memiliki kapasitas 76 ribu ribu deadweight tonnes (DWT). Kata Oentoro Surya, kedua kapal saat ini sedang dalam tahap pengiriman dari China. “Diperkirakan akan datang dua minggu lagi, sehingga dengan kedatangan kapal-kapal ini menjadikan jumlah kapal perseroan sebanyak 78 unit kapal,”jelasnya.

Dia juga menambahkan, untuk mendatangkan kapal-kapal tersebut perseroan memperoleh pendanaannya dari konsorsium perbankan luar negeri sekitar 80%, di mana harga unit masing-masing kapal senilai US$41 juta. Asal tahu saja, perseroan mendapat pinjaman dari UOB Singapura dan SEB Bank, sementara sisanya sekitar 20% akan diambilkan dari kas internal. Untuk pinjaman perbankan luar negeri ini memiliki tenor selama 10 tahun dengan bunga sekitar 6%.

Sebelumnya, PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) terpaksa harus menunda pembayaran fasilitas pinjaman bank dan obligasi sebesar US$ 418 juta atau sekitar Rp 3,762 triliun yang jatuh tempo tahun ini. Alhasil, peringkat perseroan turun tajam dan penundaan pembayaran utang ini lantaran lesunya ekonomi dunia yang mengakibatkan permintaan armada menurun, sehingga secara signifikan mempengaruhi usaha dan posisi keuangan perseroan. (bani)

BERITA TERKAIT

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp200 miliar

      NERACA   Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pembiayaan dengan model financial technology (fintech)…

Wapres: Laporan Kekayaan dan Pajak Cegah Korupsi

  NERACA Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan rutin melaporkan harta kekayaan dan pajak kepada Komisi Pemberantasan Korupsi…

Dinas: 16 Hektare Sawah Karawang Gagal Panen

Dinas: 16 Hektare Sawah Karawang Gagal Panen NERACA Karawang - Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menyatakan areal sawah seluas…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…