Pabrik Baru Martina Berto Sudah Beroperasi

NERACA

Jakarta – Perusahaan kosmetik PT Martina Berto Tbk (MBTO) telah mengoperasikan pabrik jamu baru di kawasan Cikarang, Jawa Barat. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 269 ton per tahun. Untuk tahap awal tingkat produksi pabrik tidak akan dipasang hingga mencapai level tersebut. "Diawal tahun ini sebenarnya pabrik itu sudah beroperasi. Mengingat produksinya masih kecil, jadi belum bisa kami launching secara resmi," kata Corporate Secretary MBTO Desril Mochtar di Jakarta, kemarin.

Pabrik yang memiliki bagian utama dengan luas sekitar 4 hektar (ha) ini menelan biaya investasi sekitar Rp20 miliar. Rinciannya, lahan seluas 1 ha dimanfaatkan untuk bangunan fisik pabrik dan lahan seluas 3 ha dipergunakan untuk perkebunan tanaman herbal yang menjadi bahan baku jamu yang nantinya akan dirpoduksi.
Lebih lanjut Desril mengatakan, awal beroperasi, kontribusi penjualan dari pabrik jamu tersebut tidak ditargetkan teralu tinggi. Hal itu karena harga produk kosmetik dan jamu herbal pun sudah jauh rentangnya,”Misalnya, sama-sama satu truk, namun harganya tetap lebih mahal kosmetik ketimbang jamu. Kami perkirakan kontribusi bisnis ini hanya sekitar 2% untuk tahun ini," ujar Desril.

Sementara itu, MBTO tahun ini menargetkan pertumbuhan penjualan sekitar 9% hingga 10%. Artinya tahun ini perseroan menargetkan penjualan sekitar Rp768,89 miliar hingga Rp775,95 miliar, dari target penjualan tahun sebelumnya Rp705,41 miliar. Dengan demikian, dapat diasumsikan kalau kontribusi penjualan jamu dari pabrik baru tersebut sekitar Rp15,38 miliar-Rp15,52 miliar.

Asal tahu saja, perseroan mengucurkan biaya investasi Rp 20 miliar untuk membangun pabrik  di lahan seluas 1 hektare (ha). Di sekitar pabrik Cikarang tersebut, ada lahan perkebunan tanaman herbal seluas 3 ha. Tanaman herbal itulah yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan jamu.

Selain volume produksi yang belum maksimal. Manajemen perusahaan itu menyebut harga jual jamu lebih murah ketimbang kosmetik. Karenanya, Manajemen  perusahaan ini hanya mematok target kontribusi penjualan jamu 2% terhadap total pendapatan tahun ini. Asal tahu saja, tahun ini perusahaan berkode MBTO di Bursa Efek Indonesia mengincar pertumbuhan penjualan 9%-10% dari realisasi 2014. (bani)

BERITA TERKAIT

Minim Sentimen Positif Bawa IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/1) sore kemarin, ditutup di zona…

Optimisme Pemulihan Ekonomi - Pasar Saham Masih Menarik Investor Asing

NERACA Jakarta – Meski sentiment negatif pandemi Covid-19 masih menghantui perekonomian Indonesia dan termasuk pasar saham, namun menurut PT Manulife…

Geliat Bisnis Ban ke Amerika - Menakar Kekuatan Fundamental Gajah Tunggal

NERACA Jakarta – Kabar investor kawakan Lo Kheng Hong borong saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membawa harga saham emiten…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Minim Sentimen Positif Bawa IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/1) sore kemarin, ditutup di zona…

Optimisme Pemulihan Ekonomi - Pasar Saham Masih Menarik Investor Asing

NERACA Jakarta – Meski sentiment negatif pandemi Covid-19 masih menghantui perekonomian Indonesia dan termasuk pasar saham, namun menurut PT Manulife…

Geliat Bisnis Ban ke Amerika - Menakar Kekuatan Fundamental Gajah Tunggal

NERACA Jakarta – Kabar investor kawakan Lo Kheng Hong borong saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membawa harga saham emiten…