Ekonomi 2013 Dipercaya Tidak Terganggu Politik

NERACA

Jakarta – Bisa dikatakan 2013 adalah tahun politik karena Indonesia akan mempersiapkan pesta demokrasi nasional pada 2014. Menurut Kepala Badan Supervisi Bank Indonesia Umar Juoro, aktivitas pemerintah sedikit banyak akan terganggu. “Apalagi cukup banyak anggota kabinet bidang ekonomi adalah pimpinan partai politik. Perhatian mereka akan terpecah antara pekerjaan pemerintah dengan pekerjaan sebagai pimpinan partai politik,” kata dia di Jakarta, Kamis (31/1).

Namun begitu, kata Umar, sekalipun aktivitas politik akan semakin hiruk-pikuk, kegiatan ekonomi pada umumnya tidak akan terganggu selama aktivitas itu masih dalam batas-batas tidak merusak stabilitas keamanan.

“Tahun 2013, ekonomi Indonesia kemungkinan akan masih dapat tumbuh cukup tinggi, yaitu sekitar 6,4%, terutama ditopang oleh investasi dan konsumsi masyarakat. Peran investasi semakin penting dengan besarnya PMA (Penanaman Modal Asing) yang masuk ke Indonesia dan juga PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri). Pertumbuhan investasi diperkirakan 8% pada 2013,” kata Umar.

Pada umumnya, lanjut dia, orientasi investasi adalah pada pasar domestik seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

“Konsumsi masyarakat pertumbuhannya masih stabil pada kisaran 4,5-5%. Peningkatan daya beli masyarakat dan relatif tingginya kepercayaan konsumen mendorong perkembangan konsumsi masyarakat, terutama pada barang-barang konsumsi tahan lama, seperti kendaraan bermotor dan peralatan elektronika,” jelas Umar.

Jumlah kelas menengah dengan pendapatan lebih dari US$ 2 per hari, lanjut dia, meningkat sampai sekitar 45 juta penduduk, sehingga mendorong perkembangan konsumsi masyarakat.

Kalaupun perekonomian terganggu pada tahun 2013, masih banyak hal lain yang menjadi penyebab, selain politik.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDIP Arif Budimanta memperkirakan bahwa ekonomi AS dan Eropa masih akan melambat karena menghadapi risiko alotnya debt ceiling dan automotic spending cut pada akhir Februari atau awal Maret 2013. “Kalau ekonomi AS dan Eropa bergejolak, maka imbasnya juga ke Indonesia,” kata Arif.

Menurut Sekretaris Center for Information and Development Studies (CIDES) Rudi Wahyono, dalam mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 6%, Indonesia dibayang-bayangi oleh beberapa permasalahan. “Salah satu permasalahan itu adalah pengangguran,” kata dia.

Belum ada solusi jitu dalam mengatasi masalah pengangguran. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) memprediksi pengangguran terbuka pada tahun ini mencapai 6.32% atau hanya berkurang sedikit dari 2012, yaitu 6,56%. Sementara itu, tingkat pengangguran terselubung melebihi 33,46% juga hanya berkurang sedikit dibanding tahun 2012, yaitu 34,01%. “Prediksi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka tidak mengalami penurunan signifikan dan tetap tergolong paling tinffi di Asia Tenggara.

Masalah lain, kata Rudi, adalah alokasi subsidi BBM yang sangat besar, mencapai Rp 193,8 triliun atau setara dengan 11,5% dari total belanja APBN 2013.

Ketua Dewan Direktur CIDES Rohmad Hadiwijoyo menambahkan, dari keseimbangan fiskal dan belajar dari krisis yang terjadi di zona Eropa, defisit anggaran dan utang perlu menjadi perhatian.

“DPR dan Pemerintah telah menyepakati defisit anggaran terhadap PDB pada 2013 sebesar 1,65% dan di bawah rule of thumb standar aman sebesar 3%. Sedangkan rasio utang terhadap PDB adalah 25%. Proporsi ini harus terus kita jaga dan pertahankan untuk menciptakan fundamental ekonomi yang semakin kuat. Ini sekaligus juga sebagai antisipasi terhadap setiap external-shock terhadap kesehatan belanja dan fiskal Indonesia pada 2013,” pungkas Rohmad.

 

BERITA TERKAIT

BUMN Bangkitkan Ekonomi Dimulai dari UMKM

NERACA Jakarta – Sebagai perusahaan plat merah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang jumlahnya terus dipangkas oleh Kementerian BUMN ini…

Makanan dan Minuman Favorit Konsumen saat Pandemi

    NERACA   Jakarta - Sejak awal pandemi, Tokopedia menggelar kampanye Tokopedia Nyam. Tujuannya, mempermudah masyarakat mendapatkan produk makanan…

Per September, Satgas PEN Salurkan Rp3,6 Triliun untuk Subsidi Upah

NERACA Jakarta - Hingga pertengahan September 2020, program Bantuan Subsidi Upah (BSU) bagi karyawan yang berpenghasilan dibawah Rp5 juta dan…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Makro

BUMN Bangkitkan Ekonomi Dimulai dari UMKM

NERACA Jakarta – Sebagai perusahaan plat merah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang jumlahnya terus dipangkas oleh Kementerian BUMN ini…

Makanan dan Minuman Favorit Konsumen saat Pandemi

    NERACA   Jakarta - Sejak awal pandemi, Tokopedia menggelar kampanye Tokopedia Nyam. Tujuannya, mempermudah masyarakat mendapatkan produk makanan…

Per September, Satgas PEN Salurkan Rp3,6 Triliun untuk Subsidi Upah

NERACA Jakarta - Hingga pertengahan September 2020, program Bantuan Subsidi Upah (BSU) bagi karyawan yang berpenghasilan dibawah Rp5 juta dan…