Pertumbuhan Didominasi Nontradable

Apabila kita memperhatikan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cukup menyakinkan. Fakta memperlihatkan tren pada beberapa tahun terakhir menunjukkan tingkat pertumbuhan kuartal pertama selalu lebih rendah dari kuartal selanjutnya. Jika tren ini terus berlanjut, kemungkinan pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya akan lebih tinggi dari 6,5% sehingga akumulasi pertumbuhan ekonomi 2011 bisa lebih tinggi dari yang ditargetkan (6,4%).

Namun sayangnya, kualitas pertumbuhan yang mengandalkan sektor nontradeable juga akan mandul di dalam memerangi kemiskinan. Kajian yang dikembangkan P2E-LIPI mengungkapkan, kemampuan sektor tradable dalam menekan proporsi kemiskinan tujuh kali lebih besar daripada sektor non-tradable. Artinya, setiap 1% pertumbuhan sektor tradable berpotensi mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,069, sedangkan 1% pertumbuhan sektor non-tradable hanya akan mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,011.

Karena dalam sektor tradable, kemampuan sektor industri dalam memerangi kemiskinan lebih baik ketimbang sektor pertanian (dan pertambangan). Setiap 1% pertumbuhan sektor industri berpotensi mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,034, sedangkan 1% pertumbuhan sektor pertanian hanya mengurangi proporsi kemiskinan sebesar 0,027.

Ini disebabkan kemampuan sektor industri dalam menyediakan pekerjaan jauh lebih berkualitas (seperti jaminan sosial, upah regional provinsi, dan perlindungan terhadap PHK), dibandingkan sektor pertanian kemungkinan menjadi elemen krusial yang membuat sektor industri lebih mampu daripada sektor pertanian dalam menekan proporsi kemiskinan.

Berdasarkan data BPS, sektor industri termasuk salah satu sektor yang pada kuartal I/2011 mengalami pertumbuhan negatif (-1,2%). Dalam kaitan dengan sektor pertanian, walau kemampuan sektor ini dalam menekan angka kemiskinan tidak setinggi seperti sektor industri, tidak bisa diterjemahkan bahwa upaya pengembangan sektor pertanian tidak perlu mendapat prioritas.

Sebaliknya, pembangunan sektor ini perlu mendapat perhatian penting, tidak hanya karena sektor pertanian mampu menciptakan kesempatan kerja yang lebih besar dibandingkan dengan sektorsektor ekonomi lainnya, tetapi juga proporsi terbesar dari penduduk miskin banyak yang bekerja di sektor ini (63,6% dari total orang miskin).

Jadi, meski tumbuh secara meyakinkan, seperti yang terjadi pada beberapa tahun terakhir, motor penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2011 ternyata masih didominasi sektor nontradable. Secara year on year, sektor nontradable berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 66,2%, sedangkan sektor tradable hanya menyumbang 33,8%.

Artinya, relatif masih kecilnya peran sektor tradable dalam mendorong pertumbuhan menunjukkan bahwa meski tumbuh relatif tinggi, pola pertumbuhan ekonomi negeri ini tidak cukup berkualitas untuk mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Ini tantangan pemerintah untuk lebih menggairahkan lagi kegiatan transaksi tradable yang sejatinya membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai.


 

BERITA TERKAIT

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…

BERITA LAINNYA DI Opini

Sukseskan Penanganan Virus Corona!

  Oleh : Rangga Raditya, Pengamat Kesehatan Masyarakat   Penanganan pandemi covid-19 selama ini sudah dilakukan pemerintah dengan baik. Seluruh…

Tantangan Pemberian Ruang Fiskal Kredit di Saat Pandemi

  Oleh: Rifky Bagas Nugrahanto, Staf Ditjen Pajak *) Tergabung dalam program percepatan pemulihan ekonomi nasional, PMK Nomor 70 tahun…

Jangan Abai Protokol Kesehatan dalam Adaptasi Kebiasaan Baru

  Oleh: Lisa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila   Masyarakat diingatkan untuk terus menaati protokol kesehatan. Pelonggaran pembatasan yang dilakukan…