Pusat Pertumbuhan Properti dan Infrastruktur Jalan Tol

 

NERACA

 

Pembangunan infrastruktur berupa jalan tol ternyata erat kaitannya dengan perkembangan yang marak di bidang properti. Itulah sebabnya, para pemasar proyek perumahan mengatakan bahwa tiga daya tarik utama proyek propertinya  adalah:  lokasi, lokasi, dan lokasi.

Lokasi itu disebutkan tiga kali, hal itu menunjukkan bahwa akses jalan ke perumahan itu menjadi daya tarik utama dalam upaya menjual produk perumahan.

Untuk menjadi pusat pertumbuhan yang baik, memang diperlukan dukungan infrastruktur yang membuka simpul-simpul transportasi dari dan ke suatu kawasan.

Terdapat satu fenamena yang menarik, bahwa suatu daerah yang terbuka jalur transportasinya membuat daerah yang dikepung oleh infrastruktur jalan—terutama jalan tol—itu mempunyai tingkat pertumbuhan yang relatif jauh lebih tinggi daripada  daerah yang sulit dicapai dengan sistem transportasi yang ada.

Hal itu terasa sekali di DKI Jakarta. Daerah Ibukota yang mempunyai penduduk sekitar 12 juta pada siang hari, pada malam hari penduduknya hanya berjumlah sekitar tujuh juta. Sisanya  adalah  pelaju yang bergerak dari daerah penyangga yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Itulah pula sebabnya arus lalu lintas yang berasal dari daerah penyangga Ibukota itu menjadi macet, karena para pelaju yang merupakan eksekutif, pebisnis, pekerja, dan sektor nonformal lainnya mondar-mandir ke ibukota.

Ibukota Jakarta, kalau boleh diibaratkan sebagai ”gula”, maka daerah ini mampu menarik  ”semut” ke sana. Dari data Bank Indonesia terungkap bahwa sebelum reformasi, sekitar 70% dari uang beredar berada di DKI. Namun setelah reformasi dengan diberlakukannya UU 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka uang beredar itu turun menjadi 47%. Jumlah uang beredar itu sedikitnya Rp2.992,06 triliun atau US$317,97 miliar pada akhir bulan Mei 2012. Berarti uang yang beredar di Jakarta adalah sekitar Rp 1.406 triliun.

Ke manakah uang sebanyak itu terserap? Selain untuk kendaraan, tentu saja dipergunakan untuk membeli rumah.

Dari suatu riset pasar yang dilakukan seorang pengamat properti, ternyata daerah Tangerang-Serpong mempunyai aksesibilitas yang tinggi. Kedua daerah ini ternyata mempunyai lima akses jalan tol yaitu TB Simatupang, Jakarta-Tangerang, Tangerang-Merak, tol Sediyatmo, dan rencana tol Bandara.

Aksesibilitas Tangerang-Serpong itulah yang mengangkat harga tanah di kawasan ini menjulang ke atas. (agus)

 

 

 

BERITA TERKAIT

Labuan Bajo Berbenah

Labuan Bajo Berbenah  ITDC bekerja sama dengan BOP Labuan Bajo Flores serta kementerian dan instansi terkait untuk membenahi kawasan Tana…

Gandeng Kerjasama Nexford University - Indosat Berikan Beasiswa Bagi 10 Ribu Pelajar

Bantu dunia pendidikan di dalam negeri, khususnya para siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, Indosat Ooredoo sebagai perusahaan telekomunikasi dan…

Eksistensi Program RISE di Tengah Pandemi - Semangat Memberdayakan Disabilitas Tak Pernah Surut

Meski dilanda pandemi Covid-19 dengan adanya pembatasan sosial berskala besar dan juga dampak pada lesunya ekonomi, tidak menyurutkan semangat PT…

BERITA LAINNYA DI

Acer Rilis Empat Laptop di Acer Day 2020

  Acer selalu ingin dekat dan menjadi bagian dari keseharian pelanggan melalui aktifitas tahunan Acer Day 2020 yang akan digelar…

Onda Sanitary dan Plumbing Dukung Gerakan Indonesia Sehat

Indonesia akan merayakan HUT RI ke‐75 dengan tema "Indonesia Maju". Suatu slogan singkat yang menggambarkan mentalitas dan keyakinan bangsa kita ditengah…

Tawarkan Konsep Walk To Shop, Vasaka Bali Kenalkan Cluster Terbarunya

  NERACA Denpasar - Bisnis properti ikut terpapar wabah covid-19. Namun, tidak berlaku bagi Waskita Realty yang terus berinovasi dengan produk…