Geliat Ekonomi Mulai Pulih - Pasar IPO Bakal Kembali Mengulang Kesuksesan

Dihadapkan pada sentiment negatif dari lonjakan inflasi global, konflik Rusia - Ukraina yang belum juga usai turut membuat inflasi semakin menanjak karena mengakibatkan ketidakpastian pasokan berbagai komoditas membuat kekhawatir para pelaku pasar modal di Indonesia. Namun seperti sudah teruji, justru minat perusahanan mencari pendanaan di pasar modal dengan berbagai aksi korporasi, seperti penerbitan surat utang, rights issue hingga penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) masih ramai dilakukan.

Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI),  ada 37 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham dan ada beberapa sejumlah perusahaan teknologi yang masuk dalam daftar tersebut. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna Setia menyampaikan, sampai dengan 8 Juli 2022 telah tercatat 25 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, terdapat 37 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI. "Hingga saat ini, ada 37 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,"ujarnya.

Panjanganya antrian perusahaan untuk menggelar IPO, rupanya bakal mengulang kesuksesan BEI di tahun sebelumnya meski dihadapkan pada pandemi Covid-19. Bahkan begitu tingginya pelaku pasar menggelar IPO menjadikan Indonesia juara dalam IPO. Dalam laporan Ernst & Young (EY), terdapat 22 emiten baru melakukan IPO di Indonesia dengan perolehan dana sekitar US$1,3 miliar. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi di wilayah Asia Tenggara, baik dari sisi jumlah emiten maupun dana yang dihimpun.

Kata Sahala Situmorang, Lead Advisory - Strategy and Transactions Partner, PT Ernst & Young Indonesia dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, jumlah IPO Indonesia lebih sedikit bila dibandingkan dengan kuartal II/2021 sebanyak 23 perusahaan, tetapi perolehan dana secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$0,5 miliar.

Disampaikan Sahala, jumlah kegiatan penggalangan dana di pasar modal Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang kuat, didukung oleh keberlanjutan pemulihan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2022. Sementara, inflasi telah mengalami peningkatan sepanjang tahun berjalan 2022, Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga yang merupakan kebijakan utamanya, yakni 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), pada titik terendah sepanjang masa sebesar 3,5%. “Pertumbuhan aktivitas jasa, harga ekspor komoditas yang tinggi, dan perbaikan prospek investasi secara keseluruhan telah berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara. Pemerintah juga telah mempercepat pengeluarannya untuk meningkatkan konsumsi dan permintaan, didukung oleh langkah-langkah fiskal utama untuk melawan inflasi,” imbuhnya.

Dia memaparkan, beberapa sektor utama mengalami pertumbuhan tinggi di tengah pandemi dan memanfaatkan momentum untuk melihat level baru pertumbuhan yang lebih tinggi. Prospek IPO dinilai tetap positif mengingat banyaknya jumlah perusahaan yang siap mengakses pasar publik di kuartal mendatang. “Selain itu, kesinambungan pemulihan ekonomi secara keseluruhan ditambah dengan meningkatnya jumlah investor akan semakin memacu pertumbuhan aktivitas penggalangan dana di pasar modal,” jelasnya.

Ya, optimisme pemulihan ekonomi menjadi keyakinan pelaku pasar untuk memacu bisnisnya lebih agresif lagi. Maka untuk memenuhi target bisnis, penguatan struktur permodalan dengan penerbitan surat utang atau obligasi menjadi pilihannya. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat di semester pertama 2022, jumlah penerbitan surat utang korporasi di Tanah Air mencapai Rp 72,7 triliun.

Jumlah itu meningkat sekitar 67,5% dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 43,4 triliun. “Penerbitan surat utang semester I tahun 2022 sudah mencapai Rp 72,7 triliun. Jadi kalau dibandingkan periode sama 2021 itu meningkat,”kata Kepala Divisi Pemeringkatan Non Jasa Keuangan I Pefindo, Niken Indriarsih.

Disampaikannya, dari total penerbitan surat utang korporasi di semester I-2022, sebanyak Rp 60,5 triliun dilakukan pemeringkatan oleh Pefindo. Adapun khusus untuk kuartal II-2022 saja, jumlah penerbitan surat utang mencapai Rp 32,4 triliun atau meningkat 60,7% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 20,1 triliun. Jenis surat utang sebagian besar masih bentuk obligasi 84,5%, sukuk 10,5%, dan MTN 5%.

Dari sisi jumlahnya, obiligasi jumlahnya Rp 27,4 triliun, sukuk Rp 3,4 triliun, dan MTN Rp 1,4 triliun. Untuk kuartal II-2022, lanjut Niken, meningkat menjadi Rp 32,4 triliun. Dari sisi growth 60,7% dibandingkan penerbitan surat utang kuartal I-2021 Rp 20,1 triliun. Masih sebagian besar diperingkat oleh Pefindo.

BERITA TERKAIT

Dinilai Melanggar UU KPK - Lagi, Bumigas Polisikan Mantan Anggota KPK Pahala Nainggolan

Kuasa hukum PT Bumigas Energi, Khresna Guntarto akan mempolisikan mantan Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pahala Nainggolan.…

RMK Energy Bidik Laba Bersih Rp 558,6 Miliar

NERACA Jakarta – Meningkatnya permintaan batu bara menjadi sentiment positif bagi emiten pertambangan untuk memacu pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi.…

Kantongi Pinjaman - Transcoal Pacific Bakal Tambah 20 Kapal Baru

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, emiten pelayaran PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) melalui anak usahanya PT Sentra Makmur Lines…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Dinilai Melanggar UU KPK - Lagi, Bumigas Polisikan Mantan Anggota KPK Pahala Nainggolan

Kuasa hukum PT Bumigas Energi, Khresna Guntarto akan mempolisikan mantan Deputi Pencegahan dan Monitoring Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pahala Nainggolan.…

RMK Energy Bidik Laba Bersih Rp 558,6 Miliar

NERACA Jakarta – Meningkatnya permintaan batu bara menjadi sentiment positif bagi emiten pertambangan untuk memacu pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi.…

Kantongi Pinjaman - Transcoal Pacific Bakal Tambah 20 Kapal Baru

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, emiten pelayaran PT Transcoal Pacific Tbk. (TCPI) melalui anak usahanya PT Sentra Makmur Lines…