Kimia Farma Ingin Wujudkan Kemandirian Obat

NERACA

Cikarang - PT Kimia Farma Tbk melakukan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, salah satunya dengan pengembangan dan produksi Bahan Baku Obat (BBO) dalam negeri bersama dengan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia. Sejauh ini, anak usaha Kimia Farma dengan perusahaan asal Korea Selatan itu telah menghasilkan 12 bahan baku obat yang telah digunakan oleh industri obat.

Dalam Media Gathering di PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, Cikarang, Jawa Barat, Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk David Utama menyampaikan bahwa selama ini bahan baku obat 95% berasal dari impor. “Hadirnya kami yang bisa memproduksi bahan baku obat maka Indonesia memiliki ketahanan nasional lantaran mampu menyediakan bahan baku secara mandiri,” katanya.

Pembangunan fasilitas produksi BBO berlokasi di Cikarang, Jawa Barat yang telah selesai dilakukan pada tahun 2018 ini terus melakukan inovasi untuk mewujudkan ketahanan kesehatan nasional melalui produksi BBO. Sampai kini, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia sudah memilki sertifikat Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) RI.

Pengembangan Bahan Baku Obat dilakukan sesuai dengan program pemerintah dan prioritas kebutuhan nasional, dimana sampai tahun 2022 telah berhasil memproduksi 12 item BBO yang telah memiliki sertifikat GMP dari Badan POM RI sehingga siap untuk digunakan oleh seluruh Industri Farmasi dalam negeri yaitu, 3 BBO anti kolesterol yaitu Simvastatin, Atorvastatin dan Rosuvastatin, 1 BBO anti platelet untuk obat jantung yaitu Clopidogrel, 2 BBO anti virus Entecavir dan Remdesivir, 4 BBO Anti Retroviral (ARV) untuk HIV AIDS yaitu Tenofovir, Lamivudin, Zidovudin dan Efavirenz, 1 BBO untuk diare yaitu Attapulgite dan 1 BBO untuk antiseptic dan desinfectan yaitu Iodium Povidon.

Adapun BBO tersebut telah memperoleh sertifikat Halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendukung implementasi UU 33/2014 Tahun 2019 tentang Jaminan Produk Halal. Seluruh upaya Kimia Farma ini juga merupakan wujud dukungan Kimia Farma dengan program pemerintah sesuai dengan arahan pemerintah pada Peraturan Menteri Perindustrian No 16 Tahun 2020 yang menjelaskan mengenai nilai bobot untuk komponen BBO sebesar 50%.

David menyampai berbagai macam tantangan Kimia Farma dalam memproduksi bahan baku obat di dalam negeri. Pertama, diperlukan integrasi dengan banyak pihak karena membangun industri BBO butuh dukungan infrastruktur, teknologi, tersedianya industri kimia dasar, fasilitas regulasi hingga prospek potensi pasar. Kedua, tantangan pelaku industri yang mana diperlukan penguasaan teknologi dan terbatasnya SDM yang memiliki keahlian dan keterampilan serta minimnya infrastruktur penelitian.

Ketiga, permintaan yang mana pangsa pasar Indonesia dibandingkan dengan dunia cukup kecil sekitar 0,5%. Untuk mencapai skala ekonomi, maka volume industri BBO harus besar. Keempat, pasokan untuk industri BBO dari industri kimia dasar belum menunjang dan berlum terintegrasi sehingga menyebabkan ketergantungan impor.

Meski demikian, akan ada banyak keuntungan ketika mampu memproduksi bahan baku obat di dalam negeri. Salah satunya adalah nilai impor yang berkurang. David memprediksi dengan kemampuan Kimia Farma yang saat ini mampu memproduksi 12 bahan baku obat dan akan terus ditingkatkan hingga 28 bahan baku obat maka impor BBO bisa berkurang hingga 20%.

BERITA TERKAIT

SNI Tidak Atur BPA dan Usia Pakai Galon Pada Industri AMDK

  NERACA   Jakarta - Dalam workshop pada Senin (8/11), Pengawas Perdagangan di Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Kementerian…

Syngenta Resmikan Fasilitas Benih Jagung Sekaligus Luncurkan Official Store E-Commerce

  NERACA   Jakarta – Syngenta Seeds Indonesia telah meresmikan fasilitas benih jagung Grain Dryer, Parent Seeds Post Harvest Operation…

Manufacturing Indonesia 2022 Dorong Program Keberlanjutan Industri dan Pertumbuhan Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Investasi di industri manufaktur kuartal III 2022 yang menguat semakin memotivasi pelaku industri optimalisasikan pertumbuhan…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Makro

SNI Tidak Atur BPA dan Usia Pakai Galon Pada Industri AMDK

  NERACA   Jakarta - Dalam workshop pada Senin (8/11), Pengawas Perdagangan di Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa, Kementerian…

Syngenta Resmikan Fasilitas Benih Jagung Sekaligus Luncurkan Official Store E-Commerce

  NERACA   Jakarta – Syngenta Seeds Indonesia telah meresmikan fasilitas benih jagung Grain Dryer, Parent Seeds Post Harvest Operation…

Manufacturing Indonesia 2022 Dorong Program Keberlanjutan Industri dan Pertumbuhan Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Investasi di industri manufaktur kuartal III 2022 yang menguat semakin memotivasi pelaku industri optimalisasikan pertumbuhan…