Tren Ekonomi ke Depan

Tren peningkatan pertumbuhan ekonomi di paruh pertama 2022 ini tentu membawa ‘angin segar’ bagi pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi. Namun demikian, tentu tidak ada alasan untuk euforia merayakan capaian kinerja semester pertama, mengingat dua triwulan berikutnya di 2022 ini perekonomian Indonesia dihadapkan pada situasi ketidakpastian global yang tampak semakin nyata. Terlebih lagi capaian kinerja triwulan II tidak lepas dari adanya ‘booster’ aktivitas ekonomi berupa momentum lebaran, setelah dua kali lebaran sebelumnya larangan mudik dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Selain itu, windfall surplus dagang dari lonjakan harga komoditas di pasar global pun ke depan akan kian menipis seiring perkembangan ekonomi negara-negara mitra dagang yang cenderung pesimis.

Dalam diskusi Indef pekan lalu di Jakarta, lembaga ekonomi itu memprediksi pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2022 akan mengalami penurunan menjadi sekitar 5% (yoy). Oleh karena itu, untuk memitigasi risiko penurunan pertumbuhan ekonomi, ada beberapa catatan evaluasi kinerja ekonomi dengan harapan ekonomi Indonesia dapat bertahan di tengah meningkatnya tensi ketidakpastian global.

Pasalnya, ketiadaan momentum hari besar keagamaan seperti lebaran 2022 pada triwulan III berisiko membuat laju konsumsi rumah tangga melambat. Lebih dari itu, tekanan inflasi di triwulan III juga semakin meningkat yang mulai berdampak pada tergerusnya daya beli. Oleh karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk setidaknya mampu menjaga daya beli bertahan di laju 5 persenan agar ekonomi triwulan III-2022 tidak mengalami penurunan kinerja.

Kinerja konsumsi pemerintah di zona merah.  Dua triwulan berturut-turut kinerja pengeluaran konsumsi selalu tumbuh negatif. Pada triwulan II-2022 pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh -5,24% (yoy), melanjutkan rapor merahnya di triwulan I-2022 yang juga tumbuh negatif sebesar -7,59% (yoy).

Kinerja stimulasi belanja APBN yang tidak optimal mendorong perekonomian ini tentu sangat disayangkan mengingat konsumsi pemerintah merupakan salah satu akseleran penting dalam memacu pemulihan ekonomi dari pandemi. Masalahnya, justru pada sisi belanja pemerintah inilah percepatan itu tidak terjadi.

Adapun sektor dominan masih berkinerja lamban.  Ada empat sektor ekonomi yang memiliki kontribusi double digit bagi pertumbuhan ekonomi (yaitu sektor industri, pertambangan, pertanian, dan perdagangan) kesemuanya tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022 (5,44% yoy). Padahal secara distribusi pertumbuhan keempat sektor tersebut mendominasi PDB hingga 56,59%. Dengan masih lambannya pertumbuhan sektor-sektor yang mendominasi PDB ini, menggambarkan masih adanya belenggu persoalan yang menjadi batu sandungan bagi pemulihan di masing-masing sektor.

Di sisi lain, dengan kondisi demikian sesungguhnya masih ada ruang ke depan untuk bisa mendorong empat sektor penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ini agar mampu tumbuh lebih tinggi atau bahkan kembali ke jalur pertumbuhan rata-rata di atas pertumbuhan ekonomi nasional guna memperkuat daya tahan ekonomi dari ancaman resesi perekonomian global ke depan.

Terdapat pergeseran struktur ekonomi pasca pandemi yang terlihat dari kontribusi subsektor industri pengolahan semakin menurun, sementara kontribusi sektor pertambangan meningkat melebihi sektor perdagangan. Jika dibandingkan sebelum pandemi, sektor pertambangan di kuartal II-2022 memiliki capaian kontribusi terhadap ekonomi yang tinggi sebesar 13,1% yang mana sudah melampaui sektor perdagangan sebesar 12,7%. Kecepatan pertumbuhan sektor pertambangan yang tinggi mendorong semakin cepatnya sektor pertambangan memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian.

Laju ekspor yang mampu tumbuh lebih baik dari triwulan I-2022 juga turut andil dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2022. Pada triwulan II ekspor tumbuh 19,74% (yoy), lebih tinggi dari triwulan I-2022 sebesar 16,69% (yoy). Namun demikian, tekanan inflasi yang meningkat di negara-negara mitra dagang utama Indonesia bisa berisiko menggerus surplus di periode dua triwulan mendatang. Ketika daya beli negara mitra dagang utama tertekan, maka konsekuensinya permintaan barang dan jasa bisa saja berkurang.

BERITA TERKAIT

Wajib Kolaborasi dengan Pengusaha Lokal

Gencarnya penanaman modal asing di Indonesia belakangan ini merupakan dampak dari kemudahan regulasi yang terus menerus digaungkan pemerintah, sebagai upaya…

Prospek Ekonomi RI Masih Positif

Konflik geopolitik serta badai inflasi yang menyerang berbagai negara di dunia belakangan ini memang berdampak pada perekonomian di Indonesia. Risiko…

Tragedi Sepak Bola

Masyarakat Indonesia sangat terkejut atas meninggalnya lebih dari 150 orang dan lainnya luka-luka dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan,…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Wajib Kolaborasi dengan Pengusaha Lokal

Gencarnya penanaman modal asing di Indonesia belakangan ini merupakan dampak dari kemudahan regulasi yang terus menerus digaungkan pemerintah, sebagai upaya…

Prospek Ekonomi RI Masih Positif

Konflik geopolitik serta badai inflasi yang menyerang berbagai negara di dunia belakangan ini memang berdampak pada perekonomian di Indonesia. Risiko…

Tragedi Sepak Bola

Masyarakat Indonesia sangat terkejut atas meninggalnya lebih dari 150 orang dan lainnya luka-luka dalam tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan,…