Perluas Pasar, Pelaku Ekraf dan Kuliner Terus Didorong

NERACA

Bengkulu - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendorong Kota Bengkulu yang memiliki subsektor unggulan kuliner, kriya, dan seni pertunjukan untuk dapat memaksimalkan sektor ekonomi kreatif (ekraf)-nya sehingga penciptaan 1,1 juta lapangan kerja baru di tahun 2022 dapat terwujud.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, menjelaskan bahwa Kota Bengkulu pada tahun 2019, telah melaksanakan uji petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Subsektor kuliner ditetapkan sebagai subsektor unggulan Kota Bengkulu. Acara workshop ini adalah tindak lanjut dari PMK3I tersebut.

“Saya memberikan apresiasi kepada Bengkulu yang telah mengembangkan subsektor kuliner di tahun 2019 dan telah mencetak Rp7,2 miliar hasil dari program KaTa. Kita menargetkan 1,1 juta lapangan baru, oleh karena itu Bengkulu harus bisa memanfaatkan potensi yang ada, karena selain memiliki potensi kuliner juga memilki kriya dan subsektor seni pertunjukan,” kata Sandiaga.

Dalam meningkatkan penjualan produk ekonomi kreatif di Kota Bengkulu, Sandiaga turut membantu mempromosikan produk-produk ekraf yang hadir pada workshop KaTa, dengan cara foto produk bersama. 

“Saya berikan promosi langsung on the spot dalam peningkatan penjualan secara signifikan, sehingga juga bisa meningkatan lapangan kerja. Kami membuat photo booth, dan kami foto dengan teknik fotografi yang optimal, maka hasilnya bisa meningkatkan antara 35-45 persen. Photo booth ini memberikan terobosan dan inovasi. Tidak pakai lama, tidak pakai ribet, tidak pakai mumet, kita langsung mempromosikan produk ekonomi kreatif di sini,” kata Sandiaga. 

Lebih lanjut, Sandiaga mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) untuk turut mendukung pelaku ekonomi kreatif agar bergabung ke e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sehingga dapat meningkatkan peluang usaha dan mewujudkan kebangkitan ekonomi. 

“Kami tadi meminta dukungan Pemda untuk memasukan produk ekonomi kreatif di Bengkulu ke e-katalog, agar bisa menciptakan pasarnya sendiri, jadi nanti kalau Pemda secara konsisten produk-produk ini bisa juga go internasional,” kata Sandiaga. 

Melalui berbagai workshop diharapkan para pelaku usaha ekonomi kreatif khususnya subsektor kuliner, kriya, dan fesyen dapat meningkatkan kapasitas yang telah dimiliki sehingga dapat bersaing dan juga meningkatkan sinergi antar pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan.

Wakil Walikota Bengkulu, Deddy Wahyudi, mengatakan, ekonomi kreatif di Kota Bengkulu memang menunjukkan perkembangan yang positif, tapi belum digarap secara optimal. Oleh karenanya pihaknya juga telah melakukan beberapa program untuk menggenjot pelaku ekraf di Kota Bengkulu.

“Kami ada potensi wisata sejarah, alamnya juga bagus, namun kunjungan wisatawan masih kurang, perlu campur tangan pemerintah pusat,” kata Deddy. 

Lebih lanjut, tidak hanya Kemenparekraf yang mendorong pelaku kuliner, tapi juga Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) juga memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha mikro kuliner karena ini merupakan salah satu bidang usaha yang dominan di sektor usaha mikro. Program bantuan berupa  pendampingan dan berbagai kemudahan usaha yang sedang digarap pemerintah diberikan kepada para pelaku usaha mikro. 

“Ada banyak program bantuan kemudahan berusaha yang diberikan pemerintah karena itu sesuai dengan PP No 7/2021 sebagai turunan dari Undang-undang Cipta Kerja," kata Deputi bidang Usaha Mikro KemenKopUKM Eddy Satriya. 

Eddy pun mendorong agar pelaku usaha mikro kuliner yang membutuhkan bantuan pendampingan atau legalitas dapat menghubungi dinas yang membidangi koperasi dan UKM di daerahnya atau ke menghubungi KemenKopUKM melalui kanal-kanal resmi. 

Lebih lanjut, KemenKopUKM sangat mendukung dan berkomitmen membantu pelaku usaha mikro yang mengalami kesulitan berusaha, termasuk kuliner.

Selain itu, harus diakui pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bidang kuliner atau makanan dan makanan merupakan sektor yang paling cepat pulih dari keterpurukan dampak dari pandemi Covid-19. Shopee dan World Bank (2020) mencatat bahwa sektor makanan menjadi sektor yang populer sebagai usaha peralihan alternatif UMKM dari sektor lain yang mengalami dampak pandemi lebih keras.

 

BERITA TERKAIT

PHR Berhasil Tingkat Produksi Sekitar 161 Ribu BOPD

NERACA Pekanbaru - Wilayah Kerja (WK) Rokan di Provinsi Riau menjadi model terbaik untuk alih kelola wilayah kerja migas di…

Realisasi Batubara untuk Kelistrikan Capai 72,94 Juta Ton - Semester I 2022

NERACA Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan akan terus menjaga kebutuhan batubara dalam negeri atau Domestic…

Peningkatan Investasi Keramik Optimalkan Substitusi Impor

Dalam kondisi perekonomian dunia yang tengah dibayangi oleh inflasi, investasi di sektor industri mampu mendukung substitusi impor 35% yang telah…

BERITA LAINNYA DI Industri

PHR Berhasil Tingkat Produksi Sekitar 161 Ribu BOPD

NERACA Pekanbaru - Wilayah Kerja (WK) Rokan di Provinsi Riau menjadi model terbaik untuk alih kelola wilayah kerja migas di…

Realisasi Batubara untuk Kelistrikan Capai 72,94 Juta Ton - Semester I 2022

NERACA Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan akan terus menjaga kebutuhan batubara dalam negeri atau Domestic…

Peningkatan Investasi Keramik Optimalkan Substitusi Impor

Dalam kondisi perekonomian dunia yang tengah dibayangi oleh inflasi, investasi di sektor industri mampu mendukung substitusi impor 35% yang telah…