Pentingnya Berpikir Kritis Hindari Penipuan Digital

NERACA

Jakarta - Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan jagat digital, ada potensi kejahatan yang patut diwaspadai dengan cara selalu berpikir, bersikap, dan bertindak kritis atas setiap tawaran di dunia maya.

Mengapa? Karena praktik penipuan di dunia digital seiring waktu juga kian canggih. Mereka tak kalah canggih dari kreator berbagai aplikasi digital yang memiliki tujuan mulia, yakni memberi kemudahan bertransaksi dan berkomunikasi bagi miliaran manusia di Bumi ini.

Mengingat potensi kejahatan di dunia siber sedemikian besar dan di depan mata maka masyarakat atau warganet harus makin cakap dan kritis mengantisipasinya.

Terlebih kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan oleh platform berbasis digital menjadikan masyarakat kian bergantung kepadanya. Namun demikian kewaspadaan harus ditanamkan untuk mencegah penipuan-penipuan yang berpotensi terjadi di jagat digital.

Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning-UMKM Investor Andry Hamida saat Webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok masyarakat dan komunitas di wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, belum lama ini mengajak masyarakat untuk memikirkan dampak negatif digitalisasi sebelum tergiur dengan berbagai penawaran yang ada di dunia digital.

Selalu bersikap dan berpikir lebih kritis serta tidak mudah memakai perasaan namun lebih menggunakan otak.

Seiring makin terdidiknya masyarakat dengan penggunaan platform berbasis teknologi informasi, masyarakat memang kian nyaman dan percaya dalam melakukan aktivitas keuangan digital yang selama ini dianggap berisiko tinggi.

Semua transaksi dilakukan secara daring. Di sisi lain, ada oknum-oknum memanfaatkan digitalisasi untuk penipuan dan pencurian akun.

Pencuri akun pun semakin leluasa mengoleksi data calon incarannya. Mereka mendapatkan data pribadi target, sedikit demi sedikit, sehingga menjadi satu kesatuan yang dapat digunakan untuk menipu, mencuri, atau bahkan memanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Oleh karena itu, Andry menekankan masyarakat jangan pernah membagikan data pribadi ke media sosial hingga aplikasi-aplikasi yang tidak legal.

“Kita harus lihat dulu, aplikasi belanja daring tersebut apa? Aman atau legal tidak? Kalau legal, mereka sudah ada hukumnya sehingga dijamin data tersebut aman. Kalau bocor pun mereka akan bertanggung jawab,” ujar Andry.

Risiko itu semakin besar manakala masyarakat kini banyak yang menggunakan media sosial untuk kebutuhan konsumtif.

Digital Marketer Lim Sau Liang saat Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok masyarakat dan komunitas di wilayah Ngawi, Jawa Timur, belum lama ini mengatakan setiap orang yang cakap digital di Indonesia cenderung akan memanfaatkannya untuk hal-hal produktif sehingga media sosial sekarang ini kerap dimanfaatkan untuk menjual produk/jasa. Ant

 

 

BERITA TERKAIT

Terorisme Tidak Berkaitan dengan Ajaran Agama

NERACA Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan, dan sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama…

Islam Anut Nilai Kemanusiaan

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan bahwa kehadiran Islam telah menjelma menjadi peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.…

MPR Berupaya Wujudkan PPHN

NERACA Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan saat ini MPR berupaya untuk mewujudkan Indonesia yang adil beradab…

BERITA LAINNYA DI

Terorisme Tidak Berkaitan dengan Ajaran Agama

NERACA Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan, dan sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama…

Islam Anut Nilai Kemanusiaan

NERACA Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin menegaskan bahwa kehadiran Islam telah menjelma menjadi peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.…

MPR Berupaya Wujudkan PPHN

NERACA Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan saat ini MPR berupaya untuk mewujudkan Indonesia yang adil beradab…