Hasil Survei Tak Menentu Rugikan Kandidat

Beberapa waktu lalu sebuah lembaga survei menampilkan slogan “Satu Putaran Buat Foke-Nara” sebagai strategi komunikasi untuk merebut hati peserta Pilkada Gubernur DKI Jakarta 2012. Namun slogan itu tak terbukti, setelah  hasil putaran pertama Pilgub sungguh di luar dugaan banyak pihak.

Hasil sementara hitung cepat (quick count) berbagai lembaga survei terkait Pilgub DKI Jakarta 2012, ternyata dalam  putaran pertama, pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengungguli incumbent  Fauzi Bowo (Foke) yang menggandeng Nachrowi Ramli (Nara).

Pilgub saat  ini memang  cukup fenomenal karena menjadi pembuktian beberapa hal.  Pertama, terkait dengan isu primordialisme mengingat ada kandidat dari daerah, yaitu Jokowi-Ahok dan Alex Noerdin-Nono Sampono . Ucapan selamat pantas diberikan kepada warga DKI karena mampu  menunjukkan kedewasaannya berpolitik, dengan tidak larut dalam sentimen primordialisme. Ini langkah maju bagi kehidupan berbangsa di negeri ini.

Kedua, adalah trial elektabilitas kandidat dari jalur nonparpol atau independen, yaitu Biem Benyamin-Faisal Basri (Biem-Faizal) dan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria (Adji- Reza). Hasil sementara tersebut membuktikan bahwa ternyata mesin parpol masih lebih unggul.

Hasil sementara hitung cepat itu akhirnya “mementahkan”  berbagai survei tingkat kepuasan publik atas kinerja Foke pada masa kerja  2007-2012. Sebelumnya, peringkat kepuasan publik terhadap kinerjanya dinyatakan oleh Indo Barometer sebesar 53 %.  Demikian juga oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), peringkat kepuasan publik terhadap Foke ditempatkan pada kisaran 40%.

Bagi pasangan Alex-Nono menjadi pembuktian atas keraguan warga Jakarta terhadap janjinya membebaskan Ibu Kota dari banjir dalam 3 tahun atau mundur jika gagal. Adapun bagi pasangan Jokowi-Ahok, menjadi pembuktian minat publik terhadap perbaikan pelayanan publik yang ditawarkan. Terkait pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, hasil sementara itu  menunjukkan rendahnya minat publik pada isu pelayanan kesehatan yang diusungnya.

Demikian halnya bagi duet Adji-Reza, menunjukkan kurang populernya program yang ditawarkan terkait pemenuhan ruang terbuka hijau, dari yang sekarang masih di bawah 10% menjadi 20% seperti dijanjikannya. Hal yang sama bagi pasangan Faizal-Biem, telah menjadi tolok ukur kurang berminatnya publik terhadap efektivitas kinerja birokrasi yang ditawarkan.

Ketiga,  ditandai oleh tidak adanya evaluasi mendalam terhadap kinerja kandidat yang sudah pernah dipilihnya. Pemilih dengan tingkat keterlibatan rendah ini seringkali gampang berubah pilihan hanya dengan program “diskon” tertentu (serangan fajar). Populasi warga Jakarta yang mewakili level ini adalah 5.3%.

Sedangkan tingkat keterlibatan pemilih yang tinggi dalam pilgub ditandai juga oleh beberapa hal. Seperti tingginya keingintahuan tentang profil para kandidat. Kemudian adanya berbagai pilihan evaluasi, dan adanya evaluasi lebih mendalam terhadap kandidat yang pernah dipilihnya. Pemilih dengan tingkat keterlibatan tinggi akan mempertimbangkan secara matang mendalam sebelum menetapkan pilihan.


Sementara kandidat pengusung program kampanye yang praktis, tepat sasaran, tidak terlalu teoritis, sudah ada bukti rekam jejak  meski belum seberapa besar,  yang telah direpresentasikan oleh Jokowi-Ahok terbukti bisa memikat segmen konsumen ini. Memang pilgub masih menunggu hasil putaran kedua tapi minimal sudah terlihat beberapa hal positif, yaitu komitmen tidak bermain politik uang dan kesediaan KPU memperbaiki DPT dari 6.983.692 menjadi 6.962.348 karena revisi pemilih ganda.

BERITA TERKAIT

PSBB Setengah Hati

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta memperpanjang penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jilid 2 yang dimulai Senin (14/9) hingga 28…

Sinergi Bersama Atasi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah membuat segalanya terdampak secara serius, baik status kesehatan hingga perekonomian rakyat Indonesia. Apalagi ketika PSBB diterapkan, tidak…

Tingkatkan Belanja Negara!

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi pernah menginstruksikan para menteri untuk mempercepat belanja di kementerian agar uang beredar di masyarakat semakin…

BERITA LAINNYA DI Editorial

PSBB Setengah Hati

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta memperpanjang penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jilid 2 yang dimulai Senin (14/9) hingga 28…

Sinergi Bersama Atasi Covid-19

Pandemi Covid-19 telah membuat segalanya terdampak secara serius, baik status kesehatan hingga perekonomian rakyat Indonesia. Apalagi ketika PSBB diterapkan, tidak…

Tingkatkan Belanja Negara!

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi pernah menginstruksikan para menteri untuk mempercepat belanja di kementerian agar uang beredar di masyarakat semakin…