Flash Coffee Manfaatkan Teknologi Cloud untuk Akselerasi Usaha

 

NERACA

Jakarta – Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang food and beverage, Flash Coffee tak hanya mengandalkan kualitas produk namun juga pelayanan bagi costumer yaitu dengan memanfaatkan teknologi. Flash Coffee memanfaatkan teknologi cloud computing untuk mengakselerasi usahanya sehingga memudahkan untuk mengelola data.

Head of Engineering Flash Coffee untuk kawasan Asia Pasifik, Ali Irawan menceritakan kisahnya saat pertama gabung dengan Flash Coffee lalu dalam waktu 7 hari harus menyiapkan aplikasi untuk pemesanan kopi hingga pembayarannya. Menurutnya itu sebuah tantangan yang harus dijalani dan ia memanfaatkan teknologi AWS Lambda sehingga aplikasi bisa berjalan dengan baik.  

Ia menjelaskan bahwa operasional Flash Coffee memanfaatkan cloud computing dengan menggunakan teknologi serverless atau komputasi tanpa server dimana sejumlah proses krusial hanya berlangsung disaat memang dibutuhkan dan tidak ada biaya penggunaan server yang terbuang percuma.

“Teknologi serverless dapat mengurangi biaya operasional, karena biasanya proses menjalankan kode, mengelola data dan mengintegrasikan aplikasi membutuhkan server yang harus beroperasi tiap hari, sepanjang hari. Selain itu, kapasitas memory server bisa berubah sesuai kebutuhan. Contohnya, pada jam-jam traffic pemesanan tinggi, memory server akan otomatis meningkat. Banyak sekali layanan siap pakai yang ditawarkan cloud computing, sehingga kami pun bisa menghemat waktu buat pengembangan teknologi,” kata Ali Irawan dalam dialog bersama perusahaan teknologi cloud, eCloudvalley Digital Technology di Jakarta, Rabu (25/5).

Sementara itu, Senior Business Development Manager untuk eCloudvalley Indonesia, Dwiantoro Wibowo mengatakan penggunaan layanan cloud computing berperan penting dalam mewujudkan transformasi digital dan transformasi industri 4.0. “Saat ini setiap perusahaan mengukur kinerjanya dari efektivitas operasional serta pengalaman dan kepuasan pelanggan. Cloud computing dapat membantu sebuah perusahaan meningkatkan keduanya, dan menawarkan potensi tak terbatas kepada pelanggan mereka. Hal ini menjadi strategi kunci untuk bisa tetap bersaing di era pandemi saat ini,” kata Dwiantoro.

Namun begitu, Dwiantoro menyebutkan ada tantangan dalam mengadopsi cloud dalam bisnis yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), regulasi dan keamanannya. “Tidak semua perusahaan memiliki SDM yang bisa memanfaatkan cloud. Akan tetapi dengan partnership itu bisa menjadi jalan keluar dari masalah tersebut sambil menyiapkan talenta yang nantinya bisa diswitching,” jelasnya.

 

BERITA TERKAIT

PHK Massal Perusahaan Startup, HashMicro Justru Rekrutmen Karyawan Baru

  NERACA Jakarta - Fenomena berbagai startup yang melakukan proses efisiensi melalui PHK (Pemutusan Hak Karyawan) massal sedang marak terjadi…

Hadirkan Platform Low Code, Mendix Percepat Trasformasi Digital di Indonesia

  NERACA Jakarta – Mendix, Grup Siemens menghadirkan platform low code Mendix yang dengan mudah mengakselerasi aplikasi digital melalui penggunaan…

Sukses di Singapura, Lusiana Kembali ke Indonesia untuk Majukan Industri Teknologi Nasional

NERACA Jakarta - Kemajuan industri teknologi sebagai sektor pemimpin industri 4.0 tidak lepas dari peran perempuan di dalamnya. Deloitte mencatat,…

BERITA LAINNYA DI Teknologi

PHK Massal Perusahaan Startup, HashMicro Justru Rekrutmen Karyawan Baru

  NERACA Jakarta - Fenomena berbagai startup yang melakukan proses efisiensi melalui PHK (Pemutusan Hak Karyawan) massal sedang marak terjadi…

Hadirkan Platform Low Code, Mendix Percepat Trasformasi Digital di Indonesia

  NERACA Jakarta – Mendix, Grup Siemens menghadirkan platform low code Mendix yang dengan mudah mengakselerasi aplikasi digital melalui penggunaan…

Sukses di Singapura, Lusiana Kembali ke Indonesia untuk Majukan Industri Teknologi Nasional

NERACA Jakarta - Kemajuan industri teknologi sebagai sektor pemimpin industri 4.0 tidak lepas dari peran perempuan di dalamnya. Deloitte mencatat,…