Kesadaran Aksebilitas Bagi Disabilitas - Mengedepankan Kesetaran Untuk Menangkap Peluang Ekonomi

Membangun kemajuan bangsa dengan membuka akses partisipasi masyarakat tanpa perlakuan diskrimanisi menjadi semangat yang harus digaungkan. Berangkat dari hal tersebut, Google membuka akses dan kesetaraan bagi semua, terlebih para penyandang disabilitas. Di Google, selalu percaya bahwa kesetaraan sangat terkait erat dengan peluang ekonomi. Oleh karena alasan tersebut, perseroan melakukan investasi secara bertanggung jawab dalam berbagai program untuk memastikan komunitas lokal dan kelompok-kelompok yang kurang terwakili mempunyai peluang yang tepat agar berhasil mencapai apa pun cita-citanya.

Salah satu program utama adalah dukungan Google terhadap Plan Indonesia melalui cabang filantropi  Google.org. Dengan dana hibah senilai $1 juta, Plan Indonesia bekerja sama dengan ASEAN Foundation meluncurkan program Bridges to the Future, yakni program pelatihan keterampilan dan penyaluran kerja untuk membantu meningkatkan penerimaan kerja yang lebih inklusif di antara generasi muda yang rentan, terutama di kalangan perempuan dan penyandang disabilitas.

Perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengungkapkan, hingga saat ini, program tersebut telah memberikan pelatihan capacity building kepada lebih dari 3.000 kaum muda perempuan dan laki-laki di Indonesia, dan hampir 600 di antaranya berhasil diterima bekerja di berbagai perusahaan yang bermitra dengan Plan Indonesia. Untuk memperingati Hari Kesadaran Aksesibilitas Global (19 Mei), pihak Google berbincang-bincang dengan tiga penyandang disabilitas dari Indonesia yang telah mengikuti program yang didukung oleh Google.org, untuk berbagi pengalaman mereka saat mengikuti program dan pentingnya memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meningkatkan keterampilan, dan mencapai cita-cita.

 

Rira(29) dari Tangerang bercerita, pada Maret 2020 memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai desainer grafis karena kurangnya dukungan dan akses bagi karyawan penyandang disabilitas, termasuk dirinya sebagai individu Tuli. “Ketika itu, saya kesulitan untuk memenuhi peran saya dalam pekerjaan dan saya mencoba mencari cara untuk mengelola stres dengan berolahraga atau melakukan aktivitas luar ruangan lainnya. Namun, saya tahu bahwa saya ingin memakai keterampilan saya dengan lebih baik lagi. Oleh karena itu, saya akhirnya bergabung dalam program Bridges to the Future (BTF) yang didukung oleh Google.org setelah melihat iklannya di media sosial,”ujarnya.

Disampaikannya, program ini menyediakan penerjemah bahasa isyarat dan transkripsi teks bahasa Indonesia dan dirinya pun aktif mengikuti berbagai sesi pelatihan. Mulai dari pelatihan soft-skill hingga kelas desain grafis. “Sungguh luar biasa rasanya bahwa ada program inklusif di Indonesia yang menyambut generasi muda dari semua latar belakang, termasuk individu penyandang disabilitas,”ungkapnya.

Disampaikan Rira, program ini adalah ruang yang aman di mana dirinya dan anggota disabilitas lainnya diberikan banyak kesempatan dan panduan untuk mengembangkan keterampilan melalui bimbingan pelatihan, webinar edukasi, dan kelas pengembangan karier. “Saya bersyukur atas program ini, dan saya merasa lebih percaya diri. Saya berharap masyarakat luas mengetahui bahwa walaupun kondisi kita mungkin berbeda, kita dapat menunjukkan kemampuan ketika diberikan kesempatan,”ungkapnya.

Dia pun memberikan pesan bagi generasi muda penyandang disabilitas: Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar selama kita mau atau bekerja keras. Meski butuh waktu, bersabarlah dengan diri kita sendiri, karena perjalanan kita itu unik.

Pengalaman lainnya datang dari Ravindra (23), tinggal di Jakarta Timur. Dirinya yang tinggal bersama orang tua di Jakarta Timur menemukan banyak cara untuk mandiri dengan aktif mencari kerja. “Saya senang belajar hal-hal baru melalui webinar online, jadi ketika saya diberi tahu teman bahwa ada program yang memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, saya langsung antusias,”ungkapnya.

 

Bangun Keterampilan

 

Awalnya, dia bercerita sulit menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan program pelatihan. Karena tidak punya pengalaman kerja, tidak terbiasa dengan suasana lingkungan kerja sesungguhnya dan tidak tahu bagaimana harus bersikap saat bekerja bersama orang lain. Namun kemudian dirinya menyadari bahwa harus meningkatkan technical skill dan soft skill jika ingin sukses di dunia kerja.” Berkat program ini, saya belajar banyak keterampilan baru, termasuk cara membuat CV (curriculum vitae). Saya masih ingat ketika September 2021 mengikuti bursa kerja yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia dan Kormo Jobs dan melamar posisi customer service hingga akhirnya berhasil lolos ke tahap wawancara. Hal itu membuktikan bahwa CV saya menarik! Saat ini, saya bangga karena telah diterima bekerja sebagai guru honorer di sekolah penyandang disabilitas melalui keterampilan yang saya pelajari di BTF,”tuturnya.

 

Sebagai penderita low vision (berpenglihatan rendah), kondisi ini tidak menghalangi dirinya untuk membangun keterampilan baru. “Saya bersyukur bisa bergabung dan berinteraksi dengan sesama anak muda dalam komunitas yang sangat inklusif dan positif ini. Saya harap akan ada lebih banyak kesempatan bagi seluruh generasi muda, terutama penyandang disabilitas, untuk membangun keterampilan mereka dan mencapai impian dalam pekerjaan apa pun yang mereka inginkan,”harapnya.

Kata Ravindra, bagi pemuda penyandang disabilitas diharapkan bisa lebih aktif dan berani mengambil peluang baru. Mari tunjukkan kemampuan kita, terlepas dari semua stigma yang tercipta di masyarakat. Lalu hal yang sama juga disampaikan Anik, (29) tinggal di Jakarta Pusat , jangan takut untuk mengambil peluang baru atau mengikuti kegiatan di luar zona nyamanmu. “Kamu akan kagum sendiri dengan apa yang bisa kamu pelajari dan kembangkan dari pengalamanmu. Kamu juga akan punya banyak teman,”jelasnya.

Diriya yang menjadi menjadi penyandang disabilitas fisik sejak 10 tahun lalu akibat kecelakaan memiliki trauma dan berhasil mengatasinya, hingga akhirnya saat ini bisa bekerja sebagai pegawai bank BUMN.”Awalnya saya tidak begitu tertarik untuk ikut program Bridges to the Future. Namun, begitu saya mempelajari program ini lebih jauh, saya langsung mendaftar karena ingin tahu hal apa saja yang akan saya dapatkan dari program ini dan saya senang karena sudah ikut,”ceritanya.

Selama mengikuti program, kata Anik,ada perubahan dalam dirinya. Dimana dirinya mampu berkomunikasi lebih efektif dan mampu membuat prioritas yang lebih baik dalam kehidupan profesional. Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika diundang  sebagai pembicara di webinar Hari Disabilitas Internasional yang diselenggarakan oleh BTF. “Saya diberikan kesempatan untuk berbagi lebih banyak tentang pengalaman pribadi saya bekerja di perusahaan untuk menginspirasi anak muda lainnya. Program dan komunitas yang suportif seperti ini sangat penting bagi penyandang disabilitas, karena memberikan kesempatan kepada mereka yang termarginalkan untuk berkembang dan menjadi profesional yang lebih baik dengan bimbingan dan panduan yang tepat,”katanya.

BERITA TERKAIT

CKB Group Bantu Kompetensi Para Guru - Wujudkan Pemerataan Kualitas Pendidikan Berkebutuhan Khusus

Pendidikan memegang peranan penting dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, tanpa terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) penyandang autis.…

Mereka Juga Punya Hak Tidak Tertinggal - Menaruh Asa Pembangunan Iklusif Bagi Disabilitas

Sejatinya keberadaan masyarakat disabilitas bukan menjadi beban negara dalam memajukan pembangunan, tetapi sebaliknya asset yang bisa mendorong pertumbuhan pembangunan itu…

Dukung Digitalisasi Pendidikan SLBN - Peduli Pendidikan, Telkom Sumbang Perangkat Komputer

Dalam rangka merayakan hari jadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) ke-57, perseroan melakukan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan untuk…

BERITA LAINNYA DI CSR

Mereka Juga Punya Hak Tidak Tertinggal - Menaruh Asa Pembangunan Iklusif Bagi Disabilitas

Sejatinya keberadaan masyarakat disabilitas bukan menjadi beban negara dalam memajukan pembangunan, tetapi sebaliknya asset yang bisa mendorong pertumbuhan pembangunan itu…

Dukung Digitalisasi Pendidikan SLBN - Peduli Pendidikan, Telkom Sumbang Perangkat Komputer

Dalam rangka merayakan hari jadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) ke-57, perseroan melakukan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan untuk…

Rayakan Hari Jadi Ke-46 - PT Timah Gelar Sunatan Masal dan Donor Darah

Dalam rangka merayakan hari jadi ke-46 PT Timah Tbk, perseroan menggelar rangkaian acara sosial dalam rangka tanggung jawab sosial perusahaan…