Gunung Raja Bidik Pendapatan Tumbuh 70%

NERACA

Jakarta - Tahun ini, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) menargetkan pendapatan tumbuh 50-70%. Dimana target pertumbuhan ini akan didukung dua katalisator utama, yakni pasar lokal dan ekspor.”Dari sisi pasar lokal, volume penjualan GRP di segmen pasar lokal di ekspektasikan meningkat seiring dengan permintaan pasar lokal yang mulai pulih,"kata Corporate Affairs Director Gunung Raja Paksi, Fedaus seperti dikutip bisnis di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sektor infrastruktur yang dianggarkan pemerintah sebesar Rp385 triliun, serta proyek Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan akan berdampak positif terhadap permintaan di industri baja. Sementara itu dari sisi pasar ekspor, Fedaus melihat rencana pemerintah Tiongkok untuk memangkas produksi baja dan kegiatan ekspor baja akan berimbas positif terhadap industri baja lainnya, salah satunya Gunung Raja Paksi.

Selain itu, emiten baja ini menargetkan peningkatan penjualan ekspor guna mengisi penurunan pasokan baja dari Tiongkok. Adapun, perseroan menargetkan ekspor tersebut ke negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan lain sebagainya. Sebagai informasi, pada kuartal III-2021, perseroan membukukan laba bersih US$ 40,2 juta. Padahal, periode yang sama tahun lalu, GRP sempat merugi US$ 14,9 juta.”Ini merupakan buah kerja keras dan kami bersyukur, kinerja positif tersebut diraih ketika kita semua masih dalam tekanan pandemi, termasuk saat menghadapi gelombang kedua,”kata Presiden Direktur GRP, Abednedju Giovano Warani Sangkaeng.

Sangkaeng menjelaskan, kinerja baik tersebut tak lepas dari penetrasi pasar yang dilakukan perseroan. Penetrasi pasar tersebut, lanjut Sangkaeng, membuat penjualan juga meningkat. Penjualan bersih hingga kuartal III lalu, misalnya, mencapai US$ 502,4 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu US$ 467,5 juta.

Selain itu, dia melanjutkan, perseroan juga terus menerapkan strategi efisiensi yang terukur. Karena efisiensi itulah, ungkap dia, beban pokok penjualan juga menurun tajam meski penjualan meningkat, dari US$ 452,1 juta periode sama tahun sebelumnya menjadi US$ 431,4 juta.”Penurunan beban penjualan mengakibatkan laba bruto juga naik dari US$ 15,3 juta per kuartal III-2020 menjadi US$ 71 juta periode sama tahun ini.  Margin laba bruto naik dari 3,3% menjadi 14,1%.,” kata dia.

 

 

BERITA TERKAIT

Dampak Wacana Palabelan BPA - BPOM Diingatkan Potensi Masalah Baru

Para pemangku kepentingan (stakeholders) dari kementerian, akademisi, KPPU, asosiasi industri, dan pakar persaingan usaha meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan…

Perempuan Berpendidikan Tinggi Dorong Generasi Emas

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR menggelar acara yang terdiri dari Forum Diskusi Inspirasi Kepemimpinan Perempuan,…

Chitose Targetkan Penjualan Tumbuh 21,04%

NERACA Jakarta – Berhasil membukukan pertumbuhan penjualan di kuartal pertama 2022 sebesar 36,24%, menjadi keyakinan PT Chitose Internasional Tbk (CINT)…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Dampak Wacana Palabelan BPA - BPOM Diingatkan Potensi Masalah Baru

Para pemangku kepentingan (stakeholders) dari kementerian, akademisi, KPPU, asosiasi industri, dan pakar persaingan usaha meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan…

Perempuan Berpendidikan Tinggi Dorong Generasi Emas

Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR menggelar acara yang terdiri dari Forum Diskusi Inspirasi Kepemimpinan Perempuan,…

Chitose Targetkan Penjualan Tumbuh 21,04%

NERACA Jakarta – Berhasil membukukan pertumbuhan penjualan di kuartal pertama 2022 sebesar 36,24%, menjadi keyakinan PT Chitose Internasional Tbk (CINT)…