Rebranding dari Asuransi Tugu Mandiri, Pertalife Targetkan Laba Tumbuh 148%

 

NERACA

Jakarta – PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (AJTM) resmi berganti nama (rebranding) menjadi PT Pertalife Insurance. Pergantian nama perusahaan, merek dagang (brand) dan logo menjadi upaya repositioning identitas perusahaan selaras dengan transformasi berkelanjutan. Perubahan nama tersebut sudah sesuai dengan keputusan OJK melalui keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP 881/NB 11/2021 tertanggal 28 Desember 2021.

Direktur Keuangan dan Investasi Pertalife Insurance Yuzran Bustamar mengatakan bahwa perseroan menargetkan partumbuhan laba mencapai 148% dari pencapaian di November 2021. “Kita targetkan tumbuh laba 148% dengan berbagai strategi yang akan disiapkan mulai dengan meluncurkan produk baru hingga digitalisasi,” kata Yuzran saat konferensi persnya di Jakarta, Senin (17/1).

Ia memaparkan soal perolehan laba per November 2021 yang mana laba bersih mencapai Rp27,30 miliar atau meningkat 48,53% dibandingkan sepanjang 2020 sebesar Rp18,38 miliar. Menurut Yuzran, perbaikan laba bersih itu ditopang pendapatan investasi, imbalan jasa Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), dan penurunan biaya operasional. Per November 2021, pendapatan investasi tercatat sebesar Rp 58,27 miliar, meningkat dibandingkan sepanjang 2020 sebesar Rp 44,96 miliar, sedangkan biaya operasional menurun dari Rp 155,3 miliar menjadi Rp 80,1 miliar.

Diakui juga pandemi Covid 19 menjadi tantangan cukup berat untuk mendongkrak pertumbuhan bisnis asuransi. Tekanan itu tercermin pada pendapatan premi yang belum optimal. "Per November 2021, pendapatan premi tercatat sebesar Rp 445,32 miliar, di bawah pendapatan premi sepanjang 2020 sebesar Rp470,10 miliar. Hingga akhir Desember 2021, kami memperkirakan pendapatan premi sedikit di atas perolehan tahun sebelumnya,” katanya. Kemudian, total aset PertaLife Insurance meningkat menjadi sebesar Rp 2,21 triliun dari sebelumnya sebesar Rp1,97 triliun.

Soal rebranding, Direktur Utama Pertalife Insurance Hanindio W. Hadi, mengungkap pergantian nama ini sekaligus dengan perubahan nama brand (PertaLife Insurance) hingga logo perusahaan.
“Rebranding corporate identity ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan performa perusahaan ke arah yang lebih baik sekaligus menumbuhkan kepercayaan lebih kepada para stakeholders, termasuk nasabah,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan dengan identitas baru, perseroan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan inovasi produk sesuai kebutuhan nasabah. Hal itu dilakukan dengan melakukan transformasi secara komprehensif dengan tujuan utama memperbaiki kinerja keuangan dan menciptakan bisnis yang lebih sehat. "Transformasi mencakup tiga hal, yaitu Transformasi Sumber Daya Manusia (People). Produk dan Proses bisnis melalui sistem yang terintegrasi. Transformasi dilakukan dengan mengimplementasikan budaya kinerja yang produktif, optimalisasi produk melalui restrukturisasi portofolio produk, serta perbaikan tata kelola salah satunya dengan mengimplementasikan kendali IT System," jelasnya.

Selain transformasi bisnis, perusahaan akan mengembangkan digitalisasi untuk proses bisnis dan pemasaran. "Kami juga akan melakukan efisiensi sebagai salah satu upaya untuk bertahan dan berkembang di tengah kondisi Pandemi yang masih belum bisa diprediksi kapan akan berakhir," jelas Hanindio.

BERITA TERKAIT

Kredit Macet Perusahaan Tambang di Bank BUMN, MAKI Sebut Masuk Kategori Korupsi

  NERACA Jakarta – Industri perbankan masih memberikan pendanaan untuk industri batubara, bahkan jumlahnya mencapai Rp 89 triliun.  Bahkan muncul…

Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Jaga Kecukupan Pasokan Bahan Bakar

NERACA Sumatera Selatan - Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) memastikan kecukupan pasokan bahan bakar minyak/gas terjaga khususnya selama…

Perlu Kolaborasi Wujudkan Pilar Ketiga Muhammadiyah

Selain berkolaborasi dengan berbagai pihak eksternal seperti BUMN dan Swasta dalam mengembangkan pilar ketiga (bidang ekonomi) Muhammadiyah, Jaringan Saudagar Muhammadiyah…

BERITA LAINNYA DI Jasa Keuangan

Kredit Macet Perusahaan Tambang di Bank BUMN, MAKI Sebut Masuk Kategori Korupsi

  NERACA Jakarta – Industri perbankan masih memberikan pendanaan untuk industri batubara, bahkan jumlahnya mencapai Rp 89 triliun.  Bahkan muncul…

Pertamina Patra Niaga Sumbagsel Jaga Kecukupan Pasokan Bahan Bakar

NERACA Sumatera Selatan - Pertamina Patra Niaga Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) memastikan kecukupan pasokan bahan bakar minyak/gas terjaga khususnya selama…

Perlu Kolaborasi Wujudkan Pilar Ketiga Muhammadiyah

Selain berkolaborasi dengan berbagai pihak eksternal seperti BUMN dan Swasta dalam mengembangkan pilar ketiga (bidang ekonomi) Muhammadiyah, Jaringan Saudagar Muhammadiyah…