Rencanakan Go Public - Pertamina Geothermal Targetkan Dana Rp 7,15 Triliun

NERACA

Jakarta – Dalam rangka mencari permodalan di pasar guna mendukung pengembangan bisnisnya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bakal melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester pertama tahun ini.

Kata Wakil Menteri II BUMN, Pahala Nugraha Mansury, alasan pelaksanaan IPO PGE bertujuan tiga hal, yakni tentunya mencari dana segar, mengetes potensi pengembangan potensi EBT di Indonesia, serta menarik mitra strategis yang baik. “Saat ini merupakan momentum yang dianggap tepat, karena secara internasional seluruh negara tengah bicara mengenai dekarbonisasi dan berpindah ke energi baru terbarukan (EBT),”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Apalagi panas bumi atau geothermal merupakan energi asli Indonesia, sehingga dapat menjadi energi dasar. Sementara dari sisi biaya dibandingkan dengan EBT lain boleh dibilang tidak mahal, produksi rata-rata ini sekitar US$7,5 sen hingga US$8 sen, jadi dibandingkan dengan menggunakan baterai dan solar, paling murah 12 sen, 6 sen produksi , 6 sen solar, bandingkan dengan mereka yang ada biaya produksi US$7,5 sen-US$8 sen.

Kementerian BUMN, lanjutnya, menargetkan IPO Pertamina Geothermal Energy bakal rampung pada semester I/2022 ini. Rencananya, registrasi dimulai pada Maret 2022, kemudian Juni 2022 mulai tercatat di lantai bursa. Dengan mencatatkan sahamnya di pasar modal, harapannya bisa mengembangkan energi baru terbarukan yang kurang lebih dana yang dibutuhkan US$400-500 juta atau setara Rp 7,15 triliun. Untuk bisa kembangkan 672 megawatt tambahan dalam waktu 3-4 tahun mendatang.

Kemudian, PGE bakal mengembangkan sejumlah potensi bisnis seperti green hidrogen, mengembangkan juga rencana green industry cluster, dengan potensi pengembangan beberapa lokasi di Jawa Barat. Kebutuhan dana ini sebagai bagian dari pengembangan penambahan 20 gigawatt sumber energi Indonesia pada 2030. Targetnya, dari total penambahan tersebut 2 gigawatt diantaranya berasal dari EBT. Dalam IPO, PGE akan melepas 20%-30% saham yang sebelumnya dimilik oleh Pertamina.

Selain itu, Kementerian BUMN juga mengungkapkan Pertamina bakal memboyong PT Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk IPO. Disampaikan Pahala, saat ini Pertamina tengah memperhatikan potensi dapat melepas saham PHE ke publik. "Pertamina melihat tahun ini bisa tidak Pertamina Hulu Energi untuk IPO, jadi selain PGE, kami juga melihat PHE, tapi masih akan lihat, mungkin atau tidak. Apalagi sentimen saat ini anti hidrokarbon yang merupakan hasil dari PHE," urainya.

Menurutnya, Pertamina Hulu Energi ini lebih optimistis karena PHE menghasilkan minyak dan gas secara berimbang, yakni 50% minyak dan 50% gas. Apalagi, saat ini transisi energi ke arah yang rendah karbon cenderung menggeser penggunaan minyak dan batubara ke gas. Pengembangan bisnis gas ini dapat dikembangkan menjadi narasi yang akan dibawa PHE jika melakukan IPO. Selain itu, PHE juga masih menghadapi tantangan yang mesti diselesaikan seperti impor minyak mentah yang masih tinggi.

 

 

BERITA TERKAIT

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…