Miliki Likuiditas Tebal dari IPO - Widodo Makmur Perkasa Optimis Capai Pertumbuhan

NERACA

Jakarta -Meski debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) merosot 4,3% ke level Rp 148 berdasarkan data RTI. Namun emiten bergerak bidang perunggasan dan turunannya mengaku optimis mampu menorehkan kinerja positif di tahun ini dengan kenaikan pendapatan hingga 300% dan laba bersih 290% dari kinerja tahun lalu. Sedangkan hingga tahun 2025 mendatang, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih secara rata-rata ditargetkan 59% per tahunnya.

CEO & Founder WMP, Tumiyana dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, dalam mengakselerasi pertumbuhan kinerja, maka dengan langkah prosesi IPO ini merupakan salah satu strategi perseroan dalam meningkatkan kapasitas pendanaan.”Selain itu, dengan langkah ini, kami juga akan menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang lebih baik yang juga akan mempercepat pertumbuhan WMPP Group secara umum,”ujarnya.

Sektor pangan di Indonesia, ungkap Tumiyana, masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan kelas menengah yang akan menjadi pendorong utama peningkatan konsumsi daging sapi dan produk unggas di Indonesia, di mana terdapat 80,3 juta penduduk Indonesia (30% dari total populasi) yang termasuk dalam kategori segmen kelas menengah. Ditambah masih rendahnya konsumsi daging sapi dan unggas di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, menghadirkan ruang pertumbuhan yang cukup besar.“Belum lagi diperkirakan bahwa 5–10 tahun ke depan akan terjadi krisis pangan dunia, yang mana kami yakini dengan kekayaan alam yang kita miliki Indonesia akan berperan sebagai salah satu kekuatan pangan dunia,” tambahnya.

Dalam penawaran umum perdana (IPO) saham, WMP melepas 4,41 miliar saham baru, dimana jumlah tersebut mewakili 15,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga penawaran senilai Rp 160, maka perseroan mengantongi Rp 707,04 miliar dalam aksi IPO ini. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CIMB Niaga Sekuritas, PT Surya Fajar Sekuritas, dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Sementara itu, penjamin emisi efek adalah PT Samuel Sekuritas Indonesia, PT Valbury Sekuritas Indonesia, dan PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk.

Sementara CFO WMP, Eko Agmi Andriana menyebutkan, selama masa penawaran umum pada 30 November–2 Desember 2021, saham WMPP mendapatkan minat yang sangat positif dari para investor dan seluruh saham yang ditawarkan dapat terserap dengan baik. ”Kami berencana menggunakan sekitar 11,50% dari dana IPO untuk membiayai pengembangan kerja sama operasi (KSO) export yard, logistik, dan rumah potong hewan di Australia bersama mitra. Sekitar 19% akan digunakan untuk membiayai pembangunan fasilitas peternakan terintegrasi dan perkebunan jagung di Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Lalu 19% akan digunakan untuk pemberian modal kepada entitas usaha, sedangkan sisanya sekitar 50,50% akan digunakan untuk modal kerja perseroan,” jelasnya.

Berdiri sejak 1995, WMP merupakan salah satu perusahaan consumer goods dan agricultural commodity terdepan di Indonesia. Didukung lima lini bisnis yakni livestock, meat processing, poultry, commodity, construction & energy yang terintegrasi secara holistik, WMP mencatatkan pertumbuhan yang positif, ditambah lagi perseroan telah merancang rencana pertumbuhan jangka panjang, melalui pengembangan fasilitas integrated farming di Sumatera, Sulawesi, dan Papua. Selain itu, WMP juga saat ini telah mengaplikasikan penggunaan energi terbarukan di berbagai fasilitas produksinya, dan akan terus dikembangkan di seluruh fasilitas produksi hingga mencapai kapasitas 158 MWp.

 

BERITA TERKAIT

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…