Indocement Buyback Saham Rp 3 Triliun

NERACA

Jakarta – Jaga likuiditas harga saham di pasar, emiten semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) berencana melakukan pembelian kembali sahamnya atau buyback maksimal Rp3 triliun. Dimana jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor perseroan.

Direktur dan Corporate Secretary Indocement, Oey Marcos dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan,  pembelian kembali saham perseroan akan dilakukan secara bertahap untuk periode tiga bulan, terhitung sejak 6 Desember 2021 sampai 4 Maret 2022,"Kita meyakini pelaksanaan buyback saham tidak akan mengakibatkan penurunan pendapatan perseroan, dan tidak memberikan dampak negatif atas biaya pembiayaan perseroan. Hal tersebut mengingat dana yang digunakan adalah dana internal perseroan,”ujarnya.

Saat ini, perseroan memiliki permodalan dan arus kas yang baik dan cukup untuk membiayai seluruh kegiatan usaha dan operasional belanja modal perseroan, serta pembelian kembali saham perseroan. INTP berharap, pelaksanaan buyback ini akan memberikan tingkat pengembalian yang baik bagi pemegang saham, serta meningkatkan kepercayaan investor. Dengan demikian, harga saham perseroan dapat mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya.

Hingga kuartal tiga 2021, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp1,208 triliun atau tumbuh 8,24% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp1,116 triliun. Hasil itu meningkatkan laba per saham dasar menjadi Rp328,22. Sedangkan di akhir kuartal III 2020 senilai Rp303,36. Sementara pendapatan bersih tumbuh 4,52% menjadi Rp10,608 triliun. Rincinya, penjualan semen sebesar Rp9,84 triliun dan beton siap pakai senilai Rp750,7 miliar serta penjualan semen kepada pihak berelasi Rp 178,98 miliar.

Walau beban pokok pendapatan membengkak 4,5% menjadi Rp7,016 triliun, tapi laba kotor tumbuh 4,5% menjadi Rp3,592 triliun. Kemudian aset perseroan menyusut sedalam 3,97% menjadi Rp26,256 triliun. Hal itu didorong penyusutan saldo laba belum dicadangkan sedalam 3,59% menjadi Rp16,61 triliun. Selanjutnya, kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat sebesar Rp1,29 triliun atau terpapas 9,7% dibanding akhir September 2020, yang terbilang Rp1,439 triliun. Asal tahu saja, berdasarkan segmen geografis, penjualan kepada pihak ketiga di pasar pulau Jawa masih mendominasi, yakni mencapai Rp 7,86 triliun, disusul penjualan ke Luar Jawa senilai Rp 2,5 triliun.

INTP juga mendapatkan pendapatan dari hasil ekspor kepada pihak berelasi senilai Rp 178,98 miliar. Namun, sejumlah beban INTP terpantau ikut terkerek naik. Misalnya, beban pokok pendapatan yang naik 4,5% menjadi Rp 7.01 triliun dari sebelumnya Rp 6,71 triliun. Salah satu komponen yang naik adalah komponen bahan bakar dan listrik, yang naik 15,78% menjadi Rp 2,97 triliun dari sebelumnya hanya Rp 2,57 triliun.

 

BERITA TERKAIT

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Dapat Kunjungan dari Presiden - Proyek Summarecon Serpong Jadi Percontohan IKN

Sukses menuai prestasi dengan beragam penghargaan, Summarecon Serpong yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Summarecon Agung Tbk mendapat…

Lindungi Investor - OJK Bakal Bikin Pemeringkat Reksa Dana

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengkaji untuk menerbitkan peraturan terkait perlindungan investor produk reksa dana. Salah satu…

BEI Masih Kaji Soal Diskon Biaya Pencatatan

NERACA Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan masih mengkaji perpanjangan kebijakan terkait diskon biaya pencatatan awal saham dan…