Kinerja Mitratel Jangka Panjang Dinilai Prospektif

NERACA

Jakarta - Kalangan analis menilai PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel punya potensi pertumbuhan kinerja keuangan bagus dalam jangka panjang. Peluang tersebut karena perseroan memiliki menara telekomunikasi terbanyak dan tersebar merata hampir di seluruh Indonesia. Hal ini sesuai dengan rencana kebutuhan operator telekomunikasi ke depan yang akan expansi coverage secara agresif khususnya di luar Jawa di mana 57% tower Mitratel juga berada di luar Jawa.

Menurut analis PT Verdhana Sekuritas Indonesia Nicholas Santoso dan Raymond Kosasih, Mitratel memiliki potensi pertumbuhan organik pesat dalam jangka panjang, seiring besarnya potensi penyewaan menara telekomunikasi di Indonesia. “Kami memberikan outlook positif terhadap bisnis menara telekomunikasi di Indonesia, seiring pesatnya pertumbuhan trafik data di dalam negeri dan sejalan dengan mulai diterapkannya 5G. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap Mitratel,” tulis Nicholas dan Raymond dalam risetnya di Jakarta, kemarin.

Hingga Agustus 2021, Mitratel memiliki 28.030 menara telekomunikasi dengan 42.016 penyewa. Angka tersebut menunjukkan rasio kolokasi 1,5 kali. Menara perseroan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan komposisi 57,3% menara berada di luar Pulau Jawa. Berdasarkan data, rasio kolokasi menara perseroan di luar Pulau Jawa mencapai 1,39 kali dibandingkan di Jawa sekitar 1,64 kali. Hal ini menggambarkan masih besarnya potensi pertumbuhan penyewaan menara perseroan, khususnya di luar Pulau Jawa.

Saat ini, Mitratel diperkirakan menguasai pangsa pasar sebesar 24% di Tanah Air. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun 2018 yang sekitar 17%. Baru-baru ini, Mitratel meraih dana Rp 18 triliun dari hasil IPO saham. Perseroan melepas sebanyak 22,9 miliar saham atau setara 27%. “Kami memperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) laba bersih Mitratel setelah IPO sebesar 44,8% untuk periode 2021-2023. CAGR pendapatan diperkirakan mencapai 10%,” ungkap Nicholas dan Raymond.

Tak hanya itu, Mitratel diproyeksikan sebagai perusahaan dengan net debt to EBITDA terendah sebesar 0,09 kali pada 2022. Dengan posisi utang yang rendah, perseroan memiliki kemampuan untuk mendapatkan pinjaman guna merealisasikan akuisisi menara dalam jangka panjang. Berbagai faktor tersebut mendorong Verdhana Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham MTEL dengan target harga Rp 1.200. Target harga tersebut mengasumsikan EV/EBITDA sekitar 18,1 kali. Target tersebut juga menggambarkan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 965 miliar tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 602 miliar. Begitu juga dengan pendapatan perseroan diprediksi bertumbuh menjadi Rp 6,88 triliun dibandingkan perolehan tahun 2020 yang sebanyak Rp 6,18 triliun.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Yosua Zisokhi mengungkapkan, Mitratel memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan perusahaan menara telekomunikasi lainnya di Indonesia. “Dengan besarnya perkembangan industri telekomunikasi yang didukung masifnya bisnis digital, pertumbuhan penyewaan menara di luar Jawa bakal tinggi ke depannya. Apalagi, adanya keinginan operator untuk memperluas jangkauan,” tulis Yosua dalam risetnya.

Keunggulan perseroan lainnya adalah kondisi keuangan yang sehat dengan DER 0,9 kali per semester I 2021 dan rasio net debt/EBITDA 2,3 kali. EV/EBITDA Mitratel juga diperkirakan sebesar 15,8 kali dibandingkan dengan rata-rata EV/EBITDA global sekitar 23 kali tahun ini.

BERITA TERKAIT

Bukaka Kantungi Kontrak Rp2,19 Triliun

NERACA Jakarta – Pada penghujung tahun 2021, PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) melalui anak usahanya PT Baja Titian Utama…

Miliki Likuiditas Tebal dari IPO - Widodo Makmur Perkasa Optimis Capai Pertumbuhan

NERACA Jakarta -Meski debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) merosot 4,3% ke level…

OJK Yakini IHSG Tembus 7000 Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal beberapa pekan lagi, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang tumbuh…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bukaka Kantungi Kontrak Rp2,19 Triliun

NERACA Jakarta – Pada penghujung tahun 2021, PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) melalui anak usahanya PT Baja Titian Utama…

Miliki Likuiditas Tebal dari IPO - Widodo Makmur Perkasa Optimis Capai Pertumbuhan

NERACA Jakarta -Meski debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) merosot 4,3% ke level…

OJK Yakini IHSG Tembus 7000 Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal beberapa pekan lagi, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang tumbuh…