Konsumen "Menjerit" Harga Migor Cabe Keriting Telur Naik 150 Persen - Dipicu Perdagangan CPO & Distribusi

NERACA

Depok - ‎Dipicu masalah perdagangan dan ekspor CPO berakibat bahan baku Minyak Goreng (Migor) melonjak naik. Dan, juga adanya kesulitan masalah kebijakan di berbagai kebijakan distribusi dari berbagai kementerian terkait lainya, makin berdampak terjadinya kenaikan harga migor kemasan dan curah serta cabe merah keriting juga telur ayam, melonjak naik terus harganya di tingkat konsumen pengecer dan ibu rumah tangga. Bahkan, kenaikannya ada yang mencapai hingga sekitar 150 persen lebih .Kondisi ini membuat rakyat di Kota Depok makin menjerit apalagi kondisi kesulitan ekonomi masih dilanda pandemi dan dampak kebijakan PPK Covid'19. Demikian liputan NERACA dari berbagai sumber di Kota Depok dari para konsumen di tingkat pedagang dan ibu rumah tangga hingga kemarin.

"Kalau masalah ekspor CPO. Tidak diubah kebijakannya, maka harga minyak goreng akan semakin meningkat yang bisa membuat para pedagang menjerit kesulitan menjual dagangan gorengan dan lainnya," ujar jalil, Pedagang Gorengan Bakwan dan Lainnya yang sehari-hari mangkal pakai gerobak di perkantoran sekitar jalan Margonda Kota Depok.

‎Menurutnya, migor curah sebelum ada kebijakan ekspor CPO harga migor curah "Kualitas Terbaik" masih sekitar Rp 12 ribu per kilogram. Tapi, sekarang sudah mencapai Rp 20 ribu lebih, sekarang ini.

Dikatakannya, kalau masalah ekspor CPO tidak diubah pemerintah, maka harga minyak goreng tetap akan terus meningkat."Pemerintah harus membuat kebijakan yang tidak menyulitkan kami pedagang yang berusaha dalam usaha mikro kecil ini," tuturnya yang tampak hanya bisa pasrah menjalani jerit usahanya.

Apalagi, lanjutnya, dirinya makin menjerit karena sehari-hari menggunakan minyak goreng kemasan, ternyata kenaikan harganya lebih mahal lagi."Biasanya sebelum ada masalah ekspor harganya masih sekitar Rp 25 ribu perliternya. Namun sekarang harganya sudah mencapai Rp40 ribu perliternya. Harga ini jika dikonversi. "Perliter"dengan Kilogram, maka harganya bisa mencapai sekitar Rp 50 ribu lebih untuk 2 kilogram minyak goreng kemasan.”

Kesulitan lain yang dijeritkan konsumen pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk melayani konsumen Ibu rumah tangga pengguna bahan pokok pangan tersebut, juga adanya kenaikan‎ harga cabe merah keriting yang mencapai Rp 60 ribu perkilogram. Sebelumnya hanya sekitar Rp 25 ribu per kilogram di tingkat konsumen pedagang UMKM dan ibu rumah tangga. 

"Kalau beli cabe merah keriting Lima Ribu Rupiah hanya dapat tiga buah cabe," kata seorang Ibu saat belanja di warung dekat rumahnya yang mengeluhkan banyak bahan pokok pangan lain juga melunjak harganya.

Diantaranya, lanjut ibu rumah tangga tersebut, harga telur ayam negeri pun tidak stabil harganya. "Sebelumnya hanya berkisar antara 23 sampai 22 ribu. Tapi, sekarang paling murah 23 ribu dan naik harganya hingga 27 ribu rupiah per kilogramnya," ujarnya mengeluh dan berharap pemerintah khususnya Menteri Perdagangan RI harus segera stabilkan harga untuk kepentingan rakyat murah terjangkau sesuai kondisi ekonomi rakyat apalagi masih terdampak pandemi kebijakan PPKM.

Sementara karyawan yang tidak bersedia menyebutkan namanya, produsen minyak goreng dengan kondisi CPO dan kondisi iklim alam saat ini mebuat biaya produksi meningkat dan juga kesulitan bahan bakunya yang selama ini lancar.

Menurutnya, sebelumnya tidak ada masalah kenaikan biaya produksi, karena adanya kenaikan harga berbagai komponen distribusinya dari kebun kelapa sawit hingga ke pabrik CPO dan yang kemudian didistribusikan CPO ke pabrik minyak goreng.

Selain berbagai kenaikan  komponen distribusi, juga dipengaruhi oleh iklim cuaca yang ekstrem, sehingga membuat CPO yang diperlukan pabrik minyak goreng sulit didapat dan harganya juga menjadi mahal.

"Akibatnya ‎, dengan bahan baku yang sulit dan meningkat harganya, harga Ditingkat produsen Juga meningkat. Selanjutnya, distribusi di tingkat distributor, agen dan pedagang hinga konsumen.”

"Dampak selanjutnya, kenaikan harganya juga bervariasi peningkatan harganya, sesuai daerah produsen CPO, minyak goreng dan konsumen. Sebaiknya pemerintah mengadakan bazar murah untuk mengendalikan harga yang terjangkau bagi konsumen," ujar sumber NERACA menganalisa masalahnya dan memperkirakan halnya selain Kota Depok juga terjadi di Jabotabek dan sekitarnya hingga masalah ekspor dan distribusi dibenahi harga di tingkat konsumen aparatur pemerintah secara nasional. Dasmir

 

BERITA TERKAIT

JPS Minta Anies Segera Copot Kepala Dinas SDA

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS), Mohamad Syaiful Jihad mendesak agar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mencopot…

Diduga Bermotif Persaingan, Pengusaha Depo Air Isi Ulang Tolak Pelabelan

  NERACA Jakarta-Desakan agar BPOM bersikap jujur dan adik dalam membuat dan menerapkan peraturan pangan kembali bergaung. Kali ini Ketua…

Amartha Tingkatkan Produktivitas Warga Pedesaan Sumsel - Salurkan 500 Lampu Solar untuk Penerangan

NERACA Palembang - PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha), pionir fintech p2p lending di Indonesia yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengusaha…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Daerah

JPS Minta Anies Segera Copot Kepala Dinas SDA

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Jakarta Public Service (JPS), Mohamad Syaiful Jihad mendesak agar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mencopot…

Diduga Bermotif Persaingan, Pengusaha Depo Air Isi Ulang Tolak Pelabelan

  NERACA Jakarta-Desakan agar BPOM bersikap jujur dan adik dalam membuat dan menerapkan peraturan pangan kembali bergaung. Kali ini Ketua…

Amartha Tingkatkan Produktivitas Warga Pedesaan Sumsel - Salurkan 500 Lampu Solar untuk Penerangan

NERACA Palembang - PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha), pionir fintech p2p lending di Indonesia yang berfokus pada pemberdayaan perempuan pengusaha…