Bank Ina Patok Harga Righ Issue Rp 4.200

NERACA

Jakarta – Perkuat modal dengan cara rights issue menjadi aksi korporasi yang dilakukan PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Pada aksi korporasi tersebut, perseroan telah menetapkan harga pelaksanaan Penawaran Umum Terbatas (PUT) III dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 4.200 per saham. Dengan harga tersebut, Bank Ina berpeluang meraih dana sebesar Rp 1,18 triliun.

Seperti dikutip dalam prospektusnya yang dirilis di Jakarta, kemarin, Bank Ina akan menawarkan 282,71 juta saham atau setara 4,76% dari total modal perseroan. PT Indolife Pensiontama sebagai pemegang saham pengendali akan melaksanakan haknya dalam PUT III. Apabila saham yang ditawarkan tidak diambil seluruhnya oleh pemegang saham, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang saham lainnya. Apabila setelah alokasi tersebut masih terdapat sisa saham, maka saham tersebut tidak akan dikeluarkan dari portepel.

Sejauh ini, DBS Bank LTD S/A LTSL As Trustee of NS Financial Fund memiliki 10,5% saham di Bank Ina. Kemudian, Liontrust S/A NS Asean Financial Fund memiliki 18,29%, PT Gaya Hidup Masa Kini 9,98%, PT Philadel Terra Lestari 7,25%, PT Samudra Biru 16,51% dan Indolife Pensiontama memiliki jumlah saham terbanyak, yakni 22,47%. Sesuai jadwal, Bank Ina sudah mendapatkan pernyataan efektif rights issue dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 19 November 2021. Cum dan Ex-HMETD di pasar reguler, negosiasi dan tunai akan dilakukan pada 29 November hingga 2 Desember 2021. HMETD akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 3 Desember 2021.

Adapun dana yang diperoleh dari rights issue akan digunakan untuk modal kerja kegiatan dan pengembangan usaha sesuai dengan strategi perseroan untuk menerapkan digitalisasi. Pengembangan usaha yang dimaksud dikategorikan sebagai operational expenditure (OPEX) karena pengembangan digitalisasi melalui kerjasama managed service dengan vendor (pihak ketiga) sehingga perseroan tidak berinvestasi langsung dengan membeli aset atau peralatan.

Biaya IT untuk pengembangan digitalisasi terutama untuk software license yang bersifat subscription dan infrastruktur yang bekerjasama dengan cloud provider dan managed service provider, pembayarannya dilakukan secara berkala yaitu per tahun. Lebih lanjut, dengan dana yang diperoleh dari rights issue, perseroan juga bisa memenuhi modal inti seperti yang disyaratkan regulator. Adapun hingga semester I-2021, Bank Ina memiliki total ekuitas Rp 1,14 triliun.

BERITA TERKAIT

Bukaka Kantungi Kontrak Rp2,19 Triliun

NERACA Jakarta – Pada penghujung tahun 2021, PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) melalui anak usahanya PT Baja Titian Utama…

Miliki Likuiditas Tebal dari IPO - Widodo Makmur Perkasa Optimis Capai Pertumbuhan

NERACA Jakarta -Meski debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) merosot 4,3% ke level…

OJK Yakini IHSG Tembus 7000 Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal beberapa pekan lagi, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang tumbuh…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bukaka Kantungi Kontrak Rp2,19 Triliun

NERACA Jakarta – Pada penghujung tahun 2021, PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) melalui anak usahanya PT Baja Titian Utama…

Miliki Likuiditas Tebal dari IPO - Widodo Makmur Perkasa Optimis Capai Pertumbuhan

NERACA Jakarta -Meski debut perdana di pasar modal, perdagangan saham PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) merosot 4,3% ke level…

OJK Yakini IHSG Tembus 7000 Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal beberapa pekan lagi, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berpeluang tumbuh…