Arahan Presiden untuk Pertamina dan PLN Harus Ditindaklanjuti

NERACA

Jakarta - Presiden Joko Widodo telah memberikan pengarahan kepada jajaran Direksi dan Komisaris Pertamina dan PLN. Cukup banyak yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam pengarahan tersebut. Menanggapi hal tersebut, Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan menyampaikan apresisasi atas keterbukaan yang disampaikan oleh Presiden tersebut.

“Apa yang disampaikan Presiden dengan begitu gamblang dan terbuka kepada masyarakat, menandakan adanya keterbukaan yang dibangun oleh pemerintah saat ini. Saya sangat mengapresiasi langkah tersebut. Dengan demikian kita/masyarakat bisa melakukan kontroling terhadap apa yang disampaikan oleh Presiden kepada Pertamina dan PLN,” ujar Mamit Setiawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/11).

Terkait dengan point-point arahan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, menurut Mamit apa yang disampaikan sudah tepat dan menjadi catatan bagi PLN dan Pertamina untuk menindaklanjuti apa yang disampaikan tersebut. Mengingat catatan-catatan tersebut sangat penting terhadap keberlanjutan investasi yang dilakukan.

Perihal sulitnya berinvestasi di BUMN kita, Mamit menyampaikan bahwa kemudahan berinvestasi bukan hanya berada di BUMN tapi juga terkait dengan Kementerian Investasi/BKPM dalam memperlancar dan mempermudah masuknya investasi

“PLN dan Pertamina saya kira sudah sangat terbuka untuk mencari partner/ investor bagi proyek yang sedang berjalan, sehingga tidak akan memperlambat jika semua syarat sudah terpenuhi. Untuk mencari partner itu bukan hal yang mudah. Butuh penilaian sesuai dengan standar Good Corporate Governance (GCG) dan juga kebutuhan. Investor harus memastikan bahwa mereka mempunyai dana dan juga kapasitas dalam bermitra,” lanjut Mamit kembali.

Terkait dengan rencana pembangunan kilang di Tuban yang disampaikan progresnya masih lambat, Mamit menilai karena pembangunan ini membutuhkan lahan yang cukup besar maka masih terkendala dengan pembebasan lahan. Menurut dia, program pembangunan infrastruktur yang ada di Indonesia pasti ada kendala terhadap pembebasa lahan ini sehingga akan menghambat progress pembangunan.

“Pembebasan lahan ini mesti dilakukan secara bertahap dan perlahan karena luasan area yang dibebaskan besar sekali. Belum lagi Pertamina harus memikirkan juga relokasi terhadap warga yang terdampak. Pastinya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan perihal lahan tersebut. Isu soal lingkungan juga bisa menganggu pelaksanaan pekerjaan pembebasan, padahal sejatinya Pertamina sudah mendapatkan ijin AMDAL dari KLHK untuk pekerjaan tersebut,” papar Mamit.

Menurut Mamit, berjalan secara pararel dengan pembebasan lahan saat ini Pertamina juga sedang melakukan proses pembuat desain engineering (FEED) untuk kilang Tuban sehingga pada saat pembebasan lahan selesai dilakukan bisa dilakukan dengan proses pembangunan konstruksi kilang.

“Jadi, Pertamina sudah berada dijalur yang tepat karena memang sudah dikejar deadline untuk bisa selesai di 2027 untuk Kilang Tuban ini. Apalagi, Pertamina sudah membentuk JV bersama partner yaitu Rosneft dengan adanya Pertamina Rosneft. Semua akan bekerja secara optimal dan terarah,” kembali Mamit sampaikan. 

Dia juga berpendapat perihal permasalahan yang terjadi di TPPI. Menurut Mamit,saat ini Pertamina sedang melakukan tender untuk pembangunan petrokimia Olefin yang mana meliputi Basic Enginering Desaign , Front End Engineering Design dimana saat ini sudah ada dua peserta yang kemarin ikut tender awal yang menang yaitu joint operation Hyundai Engineering Co Ltd-PT Rekayasa Industri-PT Enviromate Technology International-Saipem SpA dan konsorsium Technip Italy SpA-PT Tripatra Engineers and Constructors-PT Technip Indonesia-Samsung Engineering Co Ltd. Nanti mereka akan bersaing dalam penyusunan FEED dan penyusunan terkait dengan EPC proyek olefin TPPI ini. Dimana yang paling murah akan dipilih untuk meneruskan pembangunan pabrik olefin ini.

“Saya yakin bahwa proses pengadaan ini sudah berjalan transparan dan sesuai dengan GCG perusahaan. Apalagi Pertamina melibatkan kepolisan dan kejaksaan dalam mengawal proses tender ini," ujar Mamit. Selain itu, menurut dia dengan target selesainya pembangunan pabrik olefin ditahun 2025 yang akan datang, maka semua mata akan memandang ke pekerjaan ini agar bisa berjalan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

“Melalui serapan investasi yang sangat besar untuk pembangunan ini dimana nanti akan dihasilkan produk-produk polyprohylene dan polyethylene untuk meningkatkan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan oleh TPPI sehingga mencapai nilai keekonomiannya. Jadi, seharusnya proyek pembangunan ini bisa berjalan dan selesai tepat waktu. Mudah-mudahan tidak ada permasalahan lagi ke depannya seperti orang-orang yang mencari keuntungan pribadi yang menyebabkan tertundanya pembangunan pabrik olefin ini. Jikapun ada, maka apparat penegak hukum yang akan menyelesaikan persoalan tersebut,” pungkas Mamit Setiawan.

 

BERITA TERKAIT

PII Berikan Penjaminan di Proyek Jembatan Callender Hamilton di Pulau Jawa

NERACA Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT PII) berkomitmen untuk mendukung upaya Pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan proyek-proyek…

LPEI Manfaatkan Skema PKE untuk Tingkatkan Daya Saing Ekspor Indonesia

 NERACA Jakarta – Pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian bersama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melakukan…

Syngenta Indonesia Siapkan Aplikasi untuk Bantu Petani

  NERACA Jakarta – Sebagai perusahaan penyedia teknologi dan ilmu pertanian, Syngenta Indonesia terus melakukan inovasi untuk menciptakan produk dalam…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Makro

PII Berikan Penjaminan di Proyek Jembatan Callender Hamilton di Pulau Jawa

NERACA Jakarta - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (PT PII) berkomitmen untuk mendukung upaya Pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan proyek-proyek…

LPEI Manfaatkan Skema PKE untuk Tingkatkan Daya Saing Ekspor Indonesia

 NERACA Jakarta – Pemerintah yang diwakili Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian bersama dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melakukan…

Syngenta Indonesia Siapkan Aplikasi untuk Bantu Petani

  NERACA Jakarta – Sebagai perusahaan penyedia teknologi dan ilmu pertanian, Syngenta Indonesia terus melakukan inovasi untuk menciptakan produk dalam…