Kominfo dan Kemendikbud Asah Kemampuan Public Speaking Para Tenaga Pendidik

 

Dalam mewujudkan proses pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan, peran komunikasi dan kemampuan public speaking sangatlah penting. Untuk itu, dalam rangka mendukung terciptanya hal tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama GNLD Siberkreasi, dan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristekdikti) menyelenggarakan rangkaian Kelas Mengajar Online Sesi II dengan tema “Public Speaking untuk Tenaga Pendidik”, pada Kamis, 7 Oktober 2021.

Kelas Mengajar Online tersebut dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Webinar, serta disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube Siberkreasi, Kemkominfo TV, Direktorat Pendidikan Sekolah Dasar, Pendidikan.id, serta Facebook Page Siberkreasi.

Narasumber yang hadir mengisi materi tentang public speaking adalah Nadia Mulya (Fasilitator & Founder CommPassion), dan dimoderatori oleh Harya Rifky Pratama, serta hadir pula untuk memberikan sambutan Dirjen PAUD, Dikdas & Dikmen Kemendikbud Ristekdikti, Jumeri, S.TP., M.Si., dan Dirjen Aptika Kemkominfo, Semuel A. Pangerapan, B.Sc., sebagai keynote speaker.

Dalam menyongsong era Industri 4.0, kemampuan berkomunikasi atau public speaking menjadi ujung tombak bagi pendidik dan peserta didik. Tidak hanya sekedar memperlancar komunikasi dan interaksi dengan sesama manusia, tetapi keterampilan public speaking akan mendukung kesuksesan dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, mendukung kinerja dan meningkatkan prestasi kerja serta karir, juga berdampak positif terhadap citra diri, integritas dan kredibilitas.

Dirjen Jumeri dalam sambutannya mengatakan jika pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas terutama bagi para pendidik merupakan langkah mutlak yang harus dilakukan guna menghadapi tantangan era industri 4.0. Tidak hanya mengandalkan kemampuan akademis dan mengajar saja, kualitas tenaga pendidik di Indonesia juga perlu dibarengi melalui berbagai soft skill guna meningkatkan kecerdasan emosional yang telah mampu membawa putra-putri terbaik Indonesia menjadi generasi unggul dan maju.

“Salah satu soft skill yang perlu dibekali kepada tenaga pendidik adalah public speaking. Ini merupakan sebuah kunci untuk dapat menyampaikan informasi, ide, gagasan, serta ilmu. Dengan adanya kemampuan public speaking yang baik dan mumpuni tentunya akan memudahkan dalam menyampaikan visi dan gagasannya serta dapat meyakinkan kepada audience-nya,” kata Dirjen Jumeri.

Dirjen Semuel juga memberikan sambutannya dan menjelaskan bahwa untuk menghadapi hal tersebut, semua pihak harus mempercepat kerja sama dalam mewujudkan agenda transformasi digital Indonesia. Salah satu pilar pentingnya adalah dengan menciptakan masyarakat digital, di mana kemampuan literasi digital masyarakat memegang peranan penting di dalamnya.

“Kemampuan literasi digital merupakan kemampuan yang paling krusial dalam menghadapi perkembangan teknologi saat ini, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tidak hanya mengenal teknologi, namun juga cermat dalam menggunakannya,” ujar Dirjen Semuel.

Aspek-Aspek Dalam Public Speaking

Nadia Mulya memulai pemaparannya dengan menjelaskan bahwa tenaga pendidik adalah sebagai sender atau yang memberikan informasi. Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk mengasah kemampuan public speaking yang ia istilahkan dengan YMCA (Yourself, Message, Channel, Audience).

Yourself artinya diri sendiri atau yang menyampaikan pesan, lalu Message adalah pesan yang ingin disampaikan, Channel adalah kanal atau saluran untuk menyampaikan pesan tersebut, dan Audience adalah yang menerima pesan. “Hal paling basic yang perlu ada dalam public speaking adalah dengan mulai memanaskan dan mempersiapkan alat vokal, pahami grogi, dan mulailah belajar menguasai komunikasi verbal dan nonverbal,” kata Nadia.

Nadia juga menambahkan jika dalam public speaking kata-kata itu hanya 7% kontribusinya, 38%-nya adalah vocal dan sisanya 55% adalah body language, ekspresi, gestur dan penampilan. Hal ini perlu diperhatikan dan diterapkan guna meningkatkan rasa kepercayaan diri serta informasi yang tersampaikan pun akan lebih jelas.

Generasi Z dan Kemampuan Literasi Digital

Nadia juga mengatakan jika peserta didik yang dalam Generasi Z saat ini lahir dengan kondisi digital yang luar biasa, dan kemampuan mereka sudah mumpuni. Menurutnya, tenaga pendidik bisa mempersilahkan mereka untuk semakin menggali informasi.

“Sebagai tenaga pendidik, yang harus kita lakukan adalah dengan memprovokasi pemikiran mereka dan membuat rasa penasaran. Misalnya dengan memberikan beberapa fakta yang unik dan menarik, karena dengan itu biasanya para peserta didik akan terpacu untuk ingin tahu atau biasa disebut kepo, sehingga biasanya mereka akan melakukan sebuah riset atau mencari fakta yang sebenarnya.” jelas Nadia.

BERITA TERKAIT

FIB UI Ajak Generasi Milenial Lebih Mencintai Naskah Nusantara

  NERACA   Depok - Pada 2030, Indonesia bakal memasuki puncak bonus demografi. Jumlah penduduk berusia produktif akan lebih banyak…

Anak Disabilitas Membutuhkan Perhatian Emosional

  Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dr. Marlisye Marpaung, Sp.A(K), mengemukakan beberapa tindakan dan perhatian dapat dilakukan masyarakat di…

Ide Permainan Anak Tanpa Gawai dan Cara Mengatasi Kecanduan

  Di era serba teknologi, terkadang sulit untuk memberi gawai ke anak. Namun, jika anak ketergantungan terhadap gawai makan akan…

BERITA LAINNYA DI

FIB UI Ajak Generasi Milenial Lebih Mencintai Naskah Nusantara

  NERACA   Depok - Pada 2030, Indonesia bakal memasuki puncak bonus demografi. Jumlah penduduk berusia produktif akan lebih banyak…

Anak Disabilitas Membutuhkan Perhatian Emosional

  Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang dr. Marlisye Marpaung, Sp.A(K), mengemukakan beberapa tindakan dan perhatian dapat dilakukan masyarakat di…

Ide Permainan Anak Tanpa Gawai dan Cara Mengatasi Kecanduan

  Di era serba teknologi, terkadang sulit untuk memberi gawai ke anak. Namun, jika anak ketergantungan terhadap gawai makan akan…