Bali Akan Dibuka, WNA Berharap Transparansi Aturan Karantina

Rencana pembukaan penerbangan internasional ke Bandara Ngurah Rai Bali pada 14 Oktober 2021 disambut baik oleh Warga Negara Asing (WNA) yang selama ini menjadikan Pulau Dewata sebagai destinasi workcation (bekerja sembari liburan), jauh sebelum pandemi virus corona melanda dunia.

Pembukaan kembali Bali tetap disertai peraturan yang ketat, mencakup mengenai karantina selama delapan hari dan tes virus corona.  WNA yang hendak masuk ke Bali harus mengantongi bukti booking hotel untuk karantina minimal delapan hari dengan biaya sendiri. Namun, ketentuan masuk Bali yang paling terbaru masih belum diumumkan lebih lanjut.

John, salah satu pekerja nomad yang berbasis di Bali namun harus terpaksa pulang kampung ke Los Angeles, Amerika Serikat, saat situasi Covid-19 menggawat pada awal tahun lalu, mengaku senang sekaligus bingung dengan pengumuman pembukaan Bali ini.

Di satu sisi ia senang punya kesempatan lagi bekerja di Bali, yang notabene cocok dari segi waktu. Pasalnya, banyak klien desainnya yang berasal dari negara-negara Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong dan Singapura yang zona waktunya berdekatan dengan Indonesia.

Plus, ia bisa lebih santai melalui pandemi di tengah kehangatan cuaca, pemandangan indah dan keramahan para penduduk Bali. Rumah sewanya di kawasan Ubud pun terbilang berhalaman luas, tak sesempit lahan apartemennya di LA. Tapi di sisi lain, ia selama ini bingung dengan pencarian informasi resmi mengenai peraturan masuk ke Indonesia. Patokannya saat ini ialah situs resmi Kedutaan Besar Amerika di Indonesia.

"Sangat rumit mencari informasi dari situs resmi pemerintah Indonesia mengenai syarat masuk bagi WNA, baik yang sudah vaksin atau belum vaksin. Selama ini saya mencari informasi terbarunya di situs resmi pemerintah AS, dan semoga saja aturannya tidak banyak berubah saat di lapangan," kata John dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (4/10).

Melihat situs Imigrasi Indonesia, sudah tersedia halaman informasi mengenai cara masuk WNA. Hanya saja, saat diubah ke fitur halaman berbahasa Inggris, banyak informasi yang masih ditulis dalam bahasa Indonesia. Untuk membaca lebih lanjut bisa melalui link ini.

Sementara itu, informasi yang diberikan oleh Kedutaan Besar Indonesia di Los Angeles masih terbilang lebih mumpuni, meski terakhir diperbaharui pada Maret 2021. Untuk membaca lebih lanjut bisa melalui link ini.

Kekhawatiran John bukan tanpa alasan. Dua bulan lalu, ramai tersiar berita seorang WNA asal AS yang merasa dirinya dipalak selama menjalani karantina di hotel besar di Jakarta. Ketika sampai di Jakarta dan mulai menjalani karantina di hotel selama lima hari, ia diketahui positif Covid-19. Langsung ia diangkut dengan ambulans ke hotel isolasi.

Yang membuat dirinya heran, banyak orang yang berpengalaman sama dengannya namun tak harus merogoh kocek hingga Rp2 juta untuk naik ambulans. Diminta membayar biaya tak terduga dengan informasi yang seadanya tentu saja membuat siapapun kesal. Ditambah lagi, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya isolasi di hotel baru selama 14 hari.

Ashley, WNA asal Australia yang juga diwawancara dalam kesempatan lain, mengatakan kalau berbedanya informasi di situs resmi dan di lapangan saat datang ke Indonesia sangat mengkhawatirkan bagi pekerja nomad, yang notabene datang dengan biaya sendiri tanpa disponsori perusahaan seperti ekspatriat yang kantoran.

"Apakah WNA yang sudah vaksin tetap harus karantina selama delapan hari? Lalu apa saja vaksin yang diterima masuk ke Indonesia? Dua hal itu yang sejak tadi saya cari informasinya dari sumber resmi, tapi belum ketemu. Mungkin saya akan mendatangi Kedutaan Besar pekan depan," ujarnya.

Selain saran untuk merapikan sistem informasi di situs resmi, John juga menyebutkan pemerintah Indonesia harus lebih transparan dalam hal biaya kedatangan WNA, baik soal biaya karantina sampai tes virus corona.

Jangan sampai Indonesia mendapat cap sebagai "negara scam" di mata wisatawan mancenagara, hanya karena ketidakjelasan informasi dari sumber resmi. "Orang yang ke luar negeri pasti menginginkan kepastian dalam hal kenyamanan dan keamanan dirinya. Apalagi jika melakukan perjalanan di tengah pandemi. Jangan sampai Indonesia yang indah ini jadi sepi pengunjung asing, hanya karena mereka malas dipusingkan dengan birokrasinya yang rumit," pungkas John.

BERITA TERKAIT

Syarat Wisman Datang ke Bali, Durasi Karantina Belum Final

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi wisatawan mancanegara (wisman) untuk berwisata ke Bali…

Desa Nglanggeran DIY Masuk Ajang ADWI 2021

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menobatkan Desa Nglanggeran di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta sebagai satu dari tujuh Desa…

Ada Pantai Pasir Putih di Bawah Jembatan Youtefa Papua

Berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Bandara Internasional Sentani, ada Pantai Holtekamp yang menjadi destinasi wisata populer di Papua. Pantai…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Syarat Wisman Datang ke Bali, Durasi Karantina Belum Final

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyampaikan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi wisatawan mancanegara (wisman) untuk berwisata ke Bali…

Desa Nglanggeran DIY Masuk Ajang ADWI 2021

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menobatkan Desa Nglanggeran di Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta sebagai satu dari tujuh Desa…

Ada Pantai Pasir Putih di Bawah Jembatan Youtefa Papua

Berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Bandara Internasional Sentani, ada Pantai Holtekamp yang menjadi destinasi wisata populer di Papua. Pantai…