Kemudahan Layanan Dorong Ekspor Perikanan

NERACA

Batam - - Ekspor komoditas kelautan dan perikanan dari Kota Batam, Kepulauan Riau tetap positif di masa pandemi.

Kepala Stasiun Karantina, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Anak Agung Gde Agung Eka Susila mengungkapkan tren pertumbuhan ini tak lepas dari kinerja jajarannya yang tetap melakukan pelayanan prima kepada para pelaku usaha di tengah Covid-19.

Layanan tersebut diantaranya kemudahan dalam penerbitan sertifikat cara karantina ikan yang baik (CKIB) dan hazard analysis and critical control point (HACCP).

 "Pandemi bukanlah penghalang bagi kita untuk tetap bekerja secara maksimal," tegas Agung saat membuka data perlintasan dari Batam.

Agung memaparkan, volume ekspor pada Semester I tahun 2020 tercatat 2.878 ton untuk komoditas non hidup dan 473.181 ekor untuk komoditas hidup dengan nilai Rp119,6 miliar. Kemudian pada Semester II tahun 2020 tercatat 3.574 ton untuk komoditas non hidup dan 1.062.890 ekor untuk komoditas hidup dengan nilai Rp166,04 miliar.

Terakhir, pada Semester I tahun 2021 tercatat 3.834 ton untuk komoditas hidup dan 968.896 ekor untuk komoditas hidup dengan nilai Rp170,91 miliar.

"Dibandingkan Semester II 2020, nilai ekspor hasil perikanan di Kota Batam pada semester awal tahun 2021 meningkat 2,93% dan dibandingkan semester pertama tahun 2020 meningkat sebesar 42,89 %," ungkap Agung.

Dari segi komoditas, Agung menyebut lobster, kepiting bakau, rajungan, ikan kerapu, ikan betutu, lobster air tawar, udang belalang, gonggong dan kerang menjadi komoditas hidup unggulan dari Batam. Sementara rumput laut, udang vaname, ikan, kerapu, ikan tenggiri, ikan ketarap hingga ikan timun menjadi komoditas non hidup unggulan ekspor dari Batam.

 "Kita kirim ke Tiongkok, Jepang dan Vietnam serta value added breaded Shrimp dengan tujuan Jepang," jelas Agung.

Guna mempertahankan tren positif tersebut, Agung mengajak jajarannya untuk tetap berkomitmen mendukung proses kelancaran lalulintas ekspor hasil perikanan di Kota Batam. Terlebih kegiatan ekspor bisa menggerakkan roda perekonomian bangsa dimasa pandemi Covid-19.

"Harapannya upaya kita bisa memberikan dampak positif dimana diantaranya bisa mendobrak ekonomi nasional dengan meningkatkan devisa, memberdayakan potensi nelayan yang ada di pulau-pulau, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," harap Agung.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memastikan KKP akan terus hadir mendukung penuh pelaku usaha perikanan Indonesia. Diharapkan, produk kelautan dan perikanan Indonesia bisa tumbuh di pasar domestik maupun global. "Kita ingin produk-produk yang kita hasilkan unggul di luar negeri,” kata Trenggono.

Lebih lanjut,  berdasarkan data yang dirilis oleh ITC Trademap, nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai USD5,2 miliar atau tumbuh positif 5,7% dibandingkan tahun 2019. Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagian besar negara eksportir utama produk perikanan dunia mengalami penurunan cukup siginifikan dibanding 2019, seperti Tiongkok turun 7,8%, Norwegia turun 7,5%, Vietnam turun 2,1%, India turun 15,1%, Thailand turun 2,2%, dan Ekuador turun 1,5%.

Sedangkan berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), KKP bahwa Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor produk perikanan dunia dengan rata-rata nilai ekspor tahun 2016-2020 masing-masing sebesar USD23,08 miliar, USD15,26 miliar dan USD13,80 miliar.

Dalam kurun waktu tersebut, trend impor Amerika Serikat dan Tiongkok cenderung positif dengan peningkatan masing-masing sebesar 2,5% dan 15,5%, sedangkan impor Jepang mengalami penurunan sebesar 1,4%. Lebih lanjut, pangsa pasar produk perikanan Indonesia di ketiga pasar utama dimaksud mengalami peningkatan 4,6%, 1,3% dan 6,2%.

Jika dilihat berdasarkan komoditasnya berdasarkan data ITC Trademap, Udang masih menjadi komoditas unggulan disusul Tuna – Cakalang (TCT) dan Cumi – Sotong – Gurita (CSG), Rajungan – Kepiting dan Rumput Laut. Selama tahun 2020, nilai ekspor Udang Indonesia mencapai USD2,04 miliar atau 8,8% terhadap nilai impor total Udang dunia. Sedangkan, TCT sebesar USD724 juta (5,0%), CSG sebesar USD509 juta (6,0 %), Rajungan – Kepiting sebesar USD368 juta (6,8 %) dan Rumput Laut sebesar USD280 juta (11,4 %).

 

 

 

 

BERITA TERKAIT

Industri Film Lokal Harus Berjaya di Negeri Sendiri

NERACA Bogor - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menginginkan para industri di…

Barantan Komit Mengawal Ekspor dan Berkreatif

NERACA Kupang- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta jajaran Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Barantan Kementan) untuk terus mengawal ekspor…

Peradagangan Hiu dan Pari Harus Sesuai Aturan

NERACA Jakarta - Hiu dan pari termasuk komoditas perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan tengah menjadi perhatian global. Guna memastikan…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Industri Film Lokal Harus Berjaya di Negeri Sendiri

NERACA Bogor - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menginginkan para industri di…

Barantan Komit Mengawal Ekspor dan Berkreatif

NERACA Kupang- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta jajaran Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Barantan Kementan) untuk terus mengawal ekspor…

Peradagangan Hiu dan Pari Harus Sesuai Aturan

NERACA Jakarta - Hiu dan pari termasuk komoditas perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan tengah menjadi perhatian global. Guna memastikan…