Lindungi Anak dari Paparan BPA, Indonesia Maju

Masih dalam perayaan haria anak nasional, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk segera memberikan peringatan kepada konsumen pada galon guna ulang dan kemasan makanan dan minuman plastik dengan angka No.7 yang mengandung BPA.

Tujuan desakan Arist Merdeka Sirait tak lain adalah agar bayi, balita dan janin tidak mengonsumsi air yang berasal dari wadah galon guna ulang. Pasalnya, galon guna ulang yang terbuat dari polikabonat tersebut mengandung zat BPA yang dapat bermigrasi dan tercampur dengan air. “Label peringatan konsumen ini perlu dicantumkan dalam kemasan galon guna ulang untuk melindungi masa depan bayi, balita dan janin yang dikandung oleh ibu hamil agar tidak terpapar zat yang berbahaya  yang dapat mengakibatkan terganggunya hormonal perkembangan organ tubuh   dan perilaku serta gangguan kanker di kemudian hari,” ungkapnya di Jakrta, kemarin.

Masih menurut Arist Merdeka Sirait, bahwa di beberapa negara seperti Belgia (2012),  Swedia (2012), Prancis (2012), Canada (2012), Denmark (2013) dan tahun 2018 melalui lembaga Internasional SGS mengeluarkan kompilasi regulasi dunia pelarangan BPA yang kontak dengan keamanan pangan.

”Di tahun 2018 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan pedoman bimbingan teknis perizinan pembekalan kesehatan rumah tangga, salah satunya botol balita dan bayi yang harus ada sertifikat bebas BPA. Demikian juga di tahun 2021, Jepang merilis bahwa BPA    menyebabkan risiko autisme. FDA Filipina juga mengeluarkan larangan BPA untuk botol balita dan bayi. Namun sayangnya di Indonesia pengaturan BPA belum diatur secara ketat. Oleh sebab itu ada baiknya kemasan galon isi ulang diberikan label BPA agar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin yang dikandung ibu hamil,” tandas Arist.

Kata Arist, negara Asia termasuk Indonesia telah melarang penggunaan kemasan polikarbonat yang mengandung BPA yang secara langsung bersentuhan dengan wadah  atau tempat yang dipergunakan untuk konsumen konsumsi bayi, balita dan janin. Contoh, seperti botol bayi hatus free BPA. Dikarenakan  galon guna ulang atau galon isi ulang yang terbuat dari polikarbonat jelas mengandung BPA, sementara banyak ibu-ibu membuat susu dari air yang diambil dari galon isi ulang maka Komnas Perlindungan Anak mendesak BPOM memberikan label peringatan konsumen.

Sementara anggota DPR RI, Arzeti Bilbina mengatakan bahwa kalau ingin melahirkan anak-anak yang baik dimulai dari kesehatan mereka. Di saat memberikan ASI (Air Susu Ibu-red) eksklusif salah satu caranya memilih produk makanan yang baik. “Tentu saat ini melihat ada BPA – nya atau tidak.    Di situ ada tulisan label. Setelah kita memilih  makanan tersebut, apakah itu makanan atau minuman misalnya susu, susu yg kita pilih tentunya harus terbebas dari BPA,”ungkapnya.

Dirinya pun menyambut baik dan gembira berada di acara peringatan anak nasional.”Jadi saya sangat mengapresiasi terhadap forum ini di dalam rangkaian hari anak Indonesia. Kita sebagai ibu mendapat edukasi, mendapatkan pencerahan agar kita sama-sama  bisa mensosialisasikan ini. Karena saya yakin tidak semua ibu paham dengan kemasan makanan dan minuman dengan kode plastik segitiga angka 7,  yang mengandung BPA yang berbahaya bagi usia rentan yaitu bayi, balita dan janin pada ibu hamil,”tandasnya.

BERITA TERKAIT

Stok Darah Menipis, PMI Ajak Masyarakat Donor Darah

  Pembatasan mobilitas dan kekhawatiran akan penularan virus, menimbulkan berkurangnya jumlah pendonor darah selama pandemi, baik secara nasional maupun global.…

Digitalisasi Layanan Kesehatan - Telkom Dukung Unpad Menuju Hybrid University

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung memberikan dampak yang cukup besar terhadap pertumbuhan tingkat adopsi digital masyarakat sekaligus perilaku pelanggan. Pada…

Gunakan Teknologi Canggih - VIUUM Berikan Pengalaman Baru Beli Kacamata

Perluas penetrasi pasar, perusahaan retail kacamata terbaru, VIUUM resmi membuka gerai pertamanya di Pondok Indah Mall 2 pada awal September…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Stok Darah Menipis, PMI Ajak Masyarakat Donor Darah

  Pembatasan mobilitas dan kekhawatiran akan penularan virus, menimbulkan berkurangnya jumlah pendonor darah selama pandemi, baik secara nasional maupun global.…

Digitalisasi Layanan Kesehatan - Telkom Dukung Unpad Menuju Hybrid University

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung memberikan dampak yang cukup besar terhadap pertumbuhan tingkat adopsi digital masyarakat sekaligus perilaku pelanggan. Pada…

Gunakan Teknologi Canggih - VIUUM Berikan Pengalaman Baru Beli Kacamata

Perluas penetrasi pasar, perusahaan retail kacamata terbaru, VIUUM resmi membuka gerai pertamanya di Pondok Indah Mall 2 pada awal September…