Cara Perusahaan Mengembangkan Energi Panas Bumi

NERACA

Jakarta – Indonesia memiliki sumber daya panas bumi yang melimpah yaitu sebesar 23,76 GW. Namun pemanfaatannya yang mayoritas untuk pembangkit listrik masih rendah yaitu baru 2,13 GW. Lalu, bagaimana perusahaan-perusahaan energi di Indonesia mengembangkan potensi energi panas bumi yang masih besar tersebut?

Dalam Webinar bertajuk Sinergi Mendukung Percepatan Pengembangan Panas Bumi yang diselenggarakan oleh Ruang Energi pada Kamis (6/5), Direktur Utama Pertamina Geotherma Energi (PGE) Ahmad Yuniarto menjelaskan bahwa salah satu strategi dalam mengembangkan panas bumi adalah dengan multy track development.

Menurut Yuniarto, cara tersebut dapat mendongkrak invetsasi di sektor panas bumi. “Sejak awal, proses pengembangan panasi bumi harusnya tidak hanya fokus pada uapnya saja, melainkan juga apa yang terkandung dalam panas bumi. “Kita mengembangkan sumberdaya panas bumi ini by design. Misalnya kita melihat apakah kandungan mineral-mineral tertentu yang bisa dimanfaatkan secara ekonomis,” katanya.

Pihaknya juga melihat apakah bisa mengembangkan green hydrogen dari panas bumi. “Atau memanfaatkan fluida line yang diproduksi pada saat kita memproduksi uap panas bumi. Dan juga mengekstrak mineral-mineral lainnya,” papar Yuniarto.

PGE, kata dia, tengah mengembangkan multy track development. “Yaitu bagaimana kita bisa meningkatkan keekonomian pengembangan panas bumi jika kita tidak hanya fokus pada pengembangan uapnya saja,” katanya. Sebagai informasi, PGE yang mulai berkecimpung dalam bisnis panas bumi sejak tahun 1974, saat ini mengoperasikan sendiri panas bumi sebesar 672 MW. Dan 1,2 GW dioperasikan melalui joint operating contrac.

“Ambisinya pada tahun 2030 PGE untuk mengoperasikan 1,3 Giga Watt instoll capacity dan menjadi tiga besar pengembang di dunia,” tegas Ahmad, seraya mengimbuhkan pada tahun ini telah dikembangkan kapasitas 672 MW. Tentu untuk mencapai ambisi tersebut dibutuhkan investasi yang sangat besar.

Sementara itu, Direktur Utama PT Geo Dipa Riki Ibrahim menjelaskan cara perusahaan dalam mengembangkan energi panas bumi. Diantaranya menjalin kemitraan dan sinergi BUMN, melakukan joint study dan model finansial bersama dengan off-taker (PLN) dan melakukan open-book mechanism dengan off-taker (PLN).

Disamping itu, mengupayakan tingkat pengembalian yang wajar (WACC+Risk Premium wajar), melakukan utilisasi pendanaan PISP dan GREM serta optimalisasi insentif fiskal: Fasilitas Impor (PPh, PPN, Bea Masuk), Tax Allowance, Tax Holiday dan memperpanjang durasi kontrak PPA dari semula 30 tahun, menjadi 50 tahun.

Dalam kesempatan yang sama, Haris Yahya, Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservas Energi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa energi panas bumi, juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara, antara lain. Misalnya, selain untuk pembangkitan listrik, panas bumi dapat pula digunakan untuk memproduksi hidrogen, untuk pendinginan/pembuatan Es, untuk proses pengeringan pada industri.

Disamping itu, energi panas bumi dapat pula digunakan di bidang agrikultur & Rumah Kaca, untuk pengembangan budidaya perikanan (Aquaculture), untuk pemandian/tempat wisata, untuk penghangat/pendingin ruangan, untuk industri kertas, makanan, dsb dan untuk memproduksi bioethanol dan biogas.

BERITA TERKAIT

Pungli Pelabuhan, Polri Diminta Ungkap dari Perusahaan dan Lokasinya

NERACA Jakarta – Sejak ramainya berita tentang pungli yang dikeluhkan oleh operator atau supir truk angkutan distribusi barang yang keluar…

DEN Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Kurangi Emisi Gas Karbon

  NERACA   Jakarta – Sektor energi menjadi salah satu sektor yang digalakkan untuk mengurangi emisi gas karbon. Berdasarkan data…

Tekankan Ekonomi Berkelanjutan, Proyek ISED Dirasakan 10 Ribu Warga

  NERACA  Jakarta - Kerja sama pemerintah Indonesia dan Jerman di bawah proyek Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Makro

DEN Dorong Pemanfaatan Teknologi untuk Kurangi Emisi Gas Karbon

  NERACA   Jakarta – Sektor energi menjadi salah satu sektor yang digalakkan untuk mengurangi emisi gas karbon. Berdasarkan data…

Tekankan Ekonomi Berkelanjutan, Proyek ISED Dirasakan 10 Ribu Warga

  NERACA  Jakarta - Kerja sama pemerintah Indonesia dan Jerman di bawah proyek Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan…

Otonomi Daerah Dinilai Mampu Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

    NERACA Jakarta – Direktur Eksekutif CORE Piter Abdullah menyampaikan bahwa pasca berlakunya otonomi daerah, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia…