Indonesia dan Pakistan Lanjutkan Perundingan Perdagangan Barang

NERACA

Jakarta - Indonesia dan Pakistan melaksanakan perundingan putaran kedua Indonesia–Pakistan Trade in Goods Agreement (IP–TIGA) pada 28–29 April 2021 secara daring. Kedua negara melanjutkan kembali perundingan IP–TIGA setelah tertunda selama setahun akibat pandemi Covid-19.

Pertemuan kali ini merupakan kelanjutan perundingan putaran pertama IPTIGA di Islamabad, Pakistan pada 8–9 Agustus 2019 lalu. Dalam perundingan putaran kedua tersebut, Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan RI, Ni Made Ayu Marthini, yang juga merupakan Ketua Tim Perunding Indonesia untuk perundingan IP–TIGA.

Sementara itu, Delegasi Pakistan dipimpin Joint Secretary, Ministry of Commerce of Pakistan, Omar Hameed. “Pakistan saat ini merupakan negara dengan populasi terbesar ke-5 di dunia dan menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi produk-produk Indonesia. Kami berharap perundingan IP-TIGA dapat segera diselesaikan dan implementasinya dapat mereplikasi kesuksesan Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (IP–PTA), serta makin meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Pakistan,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono.

Delegasi Indonesia turut diperkuat perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Badan Standardisasi Nasional, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Pembahasan Teks Perjanjian dan Modalitas Perundingan Dimulai Setelah berhasil menyepakati kerangka acuan (terms of reference/ToR) Perundingan IP–TIGA di Islamabad dua tahun lalu, dalam pertemuan putaran kedua ini Indonesia dan Pakistan memulai pembahasan awal teks perjanjian dan modalitas perundingan IP–TIGA.

Delegasi kedua negara juga membahas penyesuaian rencana kerja (workplan) perundingan dan jadwal pertukaran dokumen masing-masing negara untuk dibahas pada putaran selanjutnya. Dalam perundingan kali ini, kedua delegasi menyepakati untuk melaksanakan sejumlah pertemuan intersesi dan pertukaran dokumen pada periode Juni–November 2021.

Sehingga, nantinya pada perundingan putaran ketiga IP–TIGA yang akan dilaksanakan secara daring pada Desember 2021, terdapat perkembangan signifikan khususnya terkait pembahasan teks perjanjian IP–TIGA dan akses pasar.

Perundingan IP–TIGA merupakan perluasan dari perjanjian IP–PTA yang ditandatangani pada 2012 dan mulai diberlakukan di kedua negara pada 2013. Menindaklanjuti hasil perundingan Review IPPTA pada 2016-2017, kedua negara menyepakati perluasan cakupan IP-PTA yang hanya mencakup sejumlah pos tarif, menjadi IP-TIGA yang akan mencakup keseluruhan pos tarif perdagangan barang. Pemberian akses pasar yang lebih luas dalam IP-TIGA diharapkan dapat semakin meningkatkan perdagangan bilateral, terutama mendorong peningkatan ekspor produk-produk potensial Indonesia ke Pakistan.

“Sejak implementasi IP-PTA pada 2013, tercatat hingga 2020 total perdagangan bilateral kedua negara tumbuh sebesar 62,9 persen dan nilai ekspor Indonesia ke Pakistan meningkat sebesar 68,6 persen. Hal ini disebabkan oleh semakin terbukanya akses pasar Pakistan yang membuat produk ekspor andalan Indonesia lebih berdaya saing,” kata Made.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian melepas ekspor cabai kering asal Sulawesi Selatan menuju pasar internasional baru, negara Pakistan. Ekspor tersebut merupakan ekspor perdana yang dilakukan PT Ransu Navigasi Nusantara dengan total bahan ekspor kurang lebih mencapai 21 ton.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemendag, nilai total perdagangan kedua negara pada 2020 mencapai USD 2,6 miliar. Pakistan menempati peringkat ke-16 sebagai negara tujuan ekspor utama Indonesia dengan nilai ekspor USD 2,4 miliar, serta menempati urutan ke-43 sebagai negara sumber impor utama Indonesia dengan nilai impor USD 194,9 juta.

Komoditas ekspor andalan Indonesia ke Pakistan pada 2020 adalah palm oil and its fraction, coal, artificial staple fibres, synthetic staple fibres, dan parts of the accessories of motor vehicles. Komoditas impor utama Indonesia dari Pakistan pada 2020 adalah semi-finished products of iron or non-alloy steel, rice, citrus fruit, undenatured ethyl alcohol, serta frozen fish.

BERITA TERKAIT

Indonesia - Mozambik Dukung Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memimpin Delegasi Republik Indonesia dalam pertemuan bilateral dengan Delegasi Kementerian Laut, Perairan…

Kemendag Gandeng Goorita, Accelerice, dan GoPlay Promosikan Produk UMKM - Jelajah Rak Sebelah

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) menggelar “Jelajah Rak Sebelah” dengan menggandeng Goorita,…

Ditengah Pandemi, Ekspor Produk Minuman Indonesia ke Malaysia Meningkat

Kuala Lumpur - Nilai ekspor produk minuman termasuk minuman energi ke Malaysia mengalami kenaikan selama tahun 2020 dan awal tahun…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Indonesia - Mozambik Dukung Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memimpin Delegasi Republik Indonesia dalam pertemuan bilateral dengan Delegasi Kementerian Laut, Perairan…

Kemendag Gandeng Goorita, Accelerice, dan GoPlay Promosikan Produk UMKM - Jelajah Rak Sebelah

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) menggelar “Jelajah Rak Sebelah” dengan menggandeng Goorita,…

Ditengah Pandemi, Ekspor Produk Minuman Indonesia ke Malaysia Meningkat

Kuala Lumpur - Nilai ekspor produk minuman termasuk minuman energi ke Malaysia mengalami kenaikan selama tahun 2020 dan awal tahun…