Platform BantuKerja, Jembatani Kebutuhan Industri dengan Keinginan Pemagang

Permasalah pengangguran masih menjadi yang perlu diselesaikan secara bersama-sama. Satu hal yang jadi penyebab tingginya angka pengangguran karena dunia industri enggan mengambil tenaga kerja yang belum siap dan terampil. Masalah utamanya yaitu kurikulum pelajaran belum sesuai dengan harapan industri. Kesempatan magang yang kurang hingga susahnya mencari industri yang siap menerima pemagang juga menjadi celah belum terserapnya tenaga kerja yang siap.

Melihat masalah tersebut, PT Matata Edu Inovasi lewat platform digitalnya yaitu BantuKerja akan menjadi solusi dari masalah yang selama ini terjadi terkait pemagang dan pemberi magang. Salah satu penggagas BantuKerja yaitu Enrico Pitono melihat bahwa ada satu hal yang mengganggu pikirannya terkait dengan kualitas pekerja magang yang dating dan pergi begitu saja.

“Mereka rata-rata tidak diperlengkapi dengan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan mereka sehari-hari,” kata Enrico, founder Matatacorp, holding company PT Matata Edu Inovasi.

Yang dia maksud bukanlah kemampuan teknis atau teoritis. Tetapi justru merujuk pada soft skills yang lebih mendasar lagi: berinteraksi, berkomunikasi, sekaligus kemampuan menempatkan diri di tengah dunia kerja yang notabene berbeda dengan dunia sekolah atau kuliah. Hal-hal seperti itu, yang tak pernah menjadi masalah alias sudah purna di negara seperti Inggris, atau sebagian besar negara Eropa dan Asia lain.  

Hal itu diamini oleh Tari Sandjojo, psikolog dan pendidik yang saat ini memimpin tim Matata Edu Inovasi. Sekian puluh tahun berkecimpung di dunia pendidikan dengan spesialisasi sebagai learning designer, Tari menyebut bahwa gap itu ada sebagai akibat dari ketidakluwesan kurikulum dalam merespon kebutuhan dari industri penyerap tenaga kerja.

“Yang saya alami dan pahami sebagai pendidik selama ini adalah siswa-siswa itu akan lebih senang dan terpacu untuk belajar jika diterjunkan langsung ke dalam situasi sebenarnya. Setelah itu barulah para pendidik bisa berperan membuat kurikulum demi mengisi kekurangan-kekurangan sesuai dengan permasalahan yang sedang dialami anak-anak didiknya itu,” terang Tari.  

Solusi Logistik

Dari pemikiran itulah, platform yang kemudian dinamakan Bantu Kerja dirancang, tepatnya mulai 2016. “Idenya adalah menjembatani kebutuhan industri dengan ekspektasi dari pemagang. Karena di situlah banyak terjadi gap,” tambah Tari. Jembatan yang dimaksud Tari di sini tak hanya mempertemukan dan membiarkan kedua belah pihak itu berinteraksi sendiri. Lebih dari itu platform Bantu Kerja juga berlaku sebagai fasilitator komunikasi antar kedua pihak mengenai berbagai proyek magang yang ditawarkan di dalamnya.

Di platform ini, tiap mitra industri yang membutuhkan tenaga magang, bisa memposting proyek-proyek magang yang mereka punya untuk kemudian di-bid oleh calon pemagang. Sebagai empunya proyek, pemberi magang bisa memberi pembekalan berupa kisi-kisi serta tips dan trik tentang proyek tersebut. 

Sejak proses bidding dan selama proyek berjalan, pemberi proyek bisa mulai menilai dan memilah pemagang mana saja yang sesuai dengan kriteria mereka. Jika kemudian hasil akhirnya sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, besar kemungkinan si pemagang akan terpilih untuk dipakai lagi sekiranya ada proyek baru lainnya.

Dilakukan sepenuhnya secara online, hal itu merupakan solusi bagi  kegelisahan industri dalam soal magang ini. “Salah satu kebingungan yang selama ini saya lihat beredar di sisi industri mengenai permasalahan pegawai magang adalah perihal kapasitas ruang dan logistik lain yang bisa mereka sediakan. Di satu sisi mereka butuh pemagang, tapi di sisi lain mereka tak sanggup jika harus mengakomodir sekian banyak orang di satu waktu tertentu secara fisik,” cerita Rico.

Bagi para calon pemagang, selain kesempatan magang di berbagai jenis dan varian proyek, platform Bantu Kerja menawarkan pembekalan berbentuk modul-modul yang isinya bersifat komplementer terhadap apa yang sudah didapatkan di bangku sekolah. “Kami membuat modul-modul tersebut berdasarkan tabulasi problem yang kerap ditemui dalam interaksi antara pemberi dan penerima magang. Lalu kami sesuaikan dengan kurikulum bersama guru-guru dari beberapa sekolah,” jelas Tari.

Setelah memenangkan bid, dalam menjalankan tugas-tugas magangnya, seperti sudah dijelaskan di atas, para pemagang akan melalu serangkaian tahap. Di tiap tahapnya mereka akan mendapatkan badge. Hanya mereka yang mengantungi badge lengkap yang berhak dinilai hasil akhirnya oleh pemberi magang. Seperti dalam game saja: kalau belum lengkap, belum bisa mencapai tahap final.  Dirancang untuk calon pemagang dalam rentang usia 14 hingga 24 tahun, unsur gamifikasi macam ini sengaja disisipkan untuk agar tetap relevan dengan kebiasaan dan alur logika berpikir mereka.

BERITA TERKAIT

Penetrasi Pasar, Olike Perluas Segmentasi ke Ranah Keluarga

Jakarta - Produsen mainan edukatif Olike mulai merambah segmentasi keluarga setelah sebelumnya hanya fokus di pasar anak-anak. Menurut CEO Olike,…

LSAF Bermitra dengan University Canada West (UCW) Ciptakan Akuntan Profesional

NERACA Jakarta - London School of Accountancy and Finance ( LSAF) sebagai Approved Learning partner ACCA Inggris Raya kembali membawa…

She-Suite As A Game Changer

NERACA Jakarta - Wanita tidak lagi hanya menjadi bayang-bayang, tidak sekadar menjadi sosok penting yang berada di belakang lelaki seperti…

BERITA LAINNYA DI

Penetrasi Pasar, Olike Perluas Segmentasi ke Ranah Keluarga

Jakarta - Produsen mainan edukatif Olike mulai merambah segmentasi keluarga setelah sebelumnya hanya fokus di pasar anak-anak. Menurut CEO Olike,…

LSAF Bermitra dengan University Canada West (UCW) Ciptakan Akuntan Profesional

NERACA Jakarta - London School of Accountancy and Finance ( LSAF) sebagai Approved Learning partner ACCA Inggris Raya kembali membawa…

She-Suite As A Game Changer

NERACA Jakarta - Wanita tidak lagi hanya menjadi bayang-bayang, tidak sekadar menjadi sosok penting yang berada di belakang lelaki seperti…