Industri 4.0

Oleh: Agus Gumiwang Kartasasmita

Menteri Perindustrian

Pemerintah meluncurkan Peta Jalan Making Indonesia 4.0 sebagai inisiatif untuk percepatan pembangunan industri memasuki era industri 4.0. Sasaran utamanya, adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai 10 negara ekonomi terbesar dunia di tahun 2030. Penerapan industri 4.0 juga dinilai dapat memberikan peluang untuk merevitalisasi sektor manufaktur agar lebih efisien dan menghasilkan produk berkualitas.

Penerapan industri 4.0 di Indonesia diharapkan akan menarik investasi di sektor manufaktur, sehingga struktur industri di dalam negeri bisa lebih dalam, serta mampu produktif dan berdaya saing tinggi dengan peningkatan kemampuan tenaga kerja dalam mengadopsi teknologi.

Salah satunya peta jalan Making Indonesia 4.0 pada 2018 menjadi inisiatif percepatan pembangunan industri memasuki era industri 4.0 dengan sasaran utama menjadikan Indonesia sebagai 10 negara ekonomi terbesar dunia pada 2030.

Adapun tujuh sektor industri telah ditetapkan sebagai fokus prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, serta alat kesehatan. Ketujuh sektor ini dipilih karena dapat memberikan kontribusi sebesar 70% dari total PDB manufaktur, 65% ekspor manufaktur, dan 60% pekerja industri.

Penerapan industri 4.0 juga dapat mendorong percepatan dalam upaya pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah selaku pembuat kebijakan akan terus memacu dan memfasilitasi kebutuhan riil sektor industri prioritas dalam mengadopsi teknologi industri 4.0 secara optimal. Dalam upaya strategis ini, pemerintah daerah juga dapat ikut berperan dalam penerapan industri 4.0 ini.

Making Indonesia 4.0 telah mengimplementasikan industri 4.0 kepada sektor industri manufaktur melalui berbagai upaya. Misalnya, pelaksanaan program Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) untuk memberikan asesmen kesiapan dan pendampingan kepada perusahaan industri manufaktur dalam implementasi industri 4.0.

Proses yang dilakukan melalui penyiapan dokumen, pelatihan, pelaksanaan asesmen, pilot project teknologi kunci industri 4.0, hingga monitoring dan evaluasi. Langkah selanjutnya, INDI 4.0 Award Winners, yakni pemberian penghargaan kepada industri yang sudah siap untuk bertransformasi ke era industri 4.0.

Kemudian Ekosistem Industri 4.0 (SINDI 4.0), dengan tujuan untuk membangun sinergi, koordinasi, kolaborasi di antara pemangku kepentinganterkait untuk mengakselerasi transformasi industri 4.0. Tentunya dalam satu ekosistem yang sama,di antara pemerintah, konsultan, akademisi, industri, finansial, dan provider teknis.

Lalu, Pelatihan Manajer Transformasi Industri 4.0, yang berisi pengetahuan utama aspek teknologi, hukum, kontrol kinerja untuk menyiapkan menjadi pemimpin dalam penerapan industri 4.0 di perusahaan. Pelatihan ini diakui oleh lembaga sertifikasi, dengan kualifikasi yang telah disusun dan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan perkembangan industri.

Saat ini dalam Pembangunan Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri 4.0 (PIDI 4.0), yang akan memberikan lima pilar layanan yaitu Showcase Center, Capability Center, Ekosistem Industry 4.0, Delivery Center, dan Innovation Center.

Kemudian penyediaan data dan informasi industri yang handal melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Sistem tersebut dapat menyediakan data dan informasi industri yang akurat, lengkap, dan terkini untuk mendukung Making Indonesia 4.0. Data di SIINas diperlukan sebagai bahan advokasi untuk industri, peluang investasi, dan penetrasi pasar global.

Sehingga untuk menyiapkan industri kecil menengah (IKM) mengadopsi teknologi digital, Kemenperin juga telah mengadakan pelatihan e-Smart IKM. Program e-smart IKM adalah sistem database IKM yang tersaji dalam profil industri sentra dan produk, yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada. Selama dua tahun ini, program e-Smart IKM sudah memberikan pelatihankepada 10.967 pelaku IKM.

BERITA TERKAIT

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…

PSC dan FSC

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Ada kabar baik bagi dunia kemaritiman nasional. Diberitakan oleh…

BERITA LAINNYA DI

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…

PSC dan FSC

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Ada kabar baik bagi dunia kemaritiman nasional. Diberitakan oleh…