Sosial Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

 

Setahun terakhir ini ternyata dampak sistemik sebaran virus corona masih belum tuntas. Dampaknya tidak saja memicu rasa kecemasan social politik tetapi juga imbas terhadap keresahan di masyarakat. Situasinya semakin runyam ketika terbersit kabar ada larangan mudik. Meski ini mengulang dari larangan serupa di lebaran 2020 tetapi imbas terhadap geliat ekonomi bisnis tetap tidak bisa dihindari. Selain itu, awal pandemi 2020 kemarin juga diwarnai kontroversi pelepasan sejumlah tahanan dari lapas yang katanya mencapai ribuan berdalih untuk mengamankan dari sebaran virus corona di lapas.

Bagaimanapun juga ini berpengaruh terhadap kehidupan sosial ketika kemudian dampaknya mulai terasa di sejumlah kasus yang muncul. Artinya, mereka berperilaku kriminal dan berpengaruh terhadap kecemasan sosial, termasuk juga imbasnya terhadap kamtibmas di masyarakat. Oleh karena dua lebaran tanpa mudik sepertinya akan menambah hambar, apalagi rumor juga beredar kemungkinan sejumlah dunia usaha yang tidak membayarkan THR.

Jika dicermati sejatinya rentang waktu setahun bukan waktu yang pendek karena pada situasi yang demikian telah mematikan semua nadi perekonomian dan geliat ekonomi di semua tahapaan di masyarakat belum lagi mata rantainya yang juga terdampak. Terkait hal ini maka beralasan jika kemudian berpengaruh terhadap ancaman terjadinya PHK di semua pabrikan dan industrialisasi. Setidaknya ini tidak terlepas dari sepinya omzet dan juga gairah konsumsi serta daya beli yang meredup.

Oleh karena itu, imbas lanjutannya yaitu terjadi kemiskinan relatif yang meningkat karena faktor pendapatan yang tereduksi karena dipengaruhi banyak faktor, misalnya PHK dan lesunya perekonomian nasional di rentang waktu setahun terakhir (dan entah sampai kapan berakhirnya situasi ini). Meski ada dana PEN dan sejumlah insentif yang digelontorkan pemerintah tapi fakta memberi bukti masih lesunya kinerja perekonomian.

Yang juga menarik dikaji adalah sebentar lagi ada kegiatan keagamaan yaitu ramadhan dan pastinya berlanjut ke lebaran. Pada situasi yang seperti biasanya terjadi peningkatan konsumsi dan geliat ekonomi bisnis semarak. Setidaknya bisa ditandai dengan maraknya para penjual takjil menjelang maghrib dan ramainya suasana ngabuburit dengan semua mata rantainya. Belum lagi aktivitas ekonomi bisnis menjelang sahur on the road, serta  meriahnya berbagai acara buka bersama yang menghadirkan kaum dhuafa. Artinya, pada situasi yang demikian terjadi geliat ekonomi bisnis yang dapat menggerakan semuanya tanpa terkecuali, baik di perkotaan maupun di pedesaan, baik di hotel bintang 5 atau di kaki lima semuanya menikmati berkah ramadhan.

Sayangnya situasi seperti ini tidak akan muncul pada ramadhan kali ini karena kegiatan ekonomi bisnis lesu, jumlah korban PHK semakin banyak dan daya beli tereduksi sebab terpengaruh banyak faktor akibat setahun terdampak sebaran virus corona. Jika sudah demikian masihkah rasional menuntut industrialisasi dan pabrikan memberikan THR ke pegawainya?

Meski dibenarkan secara regulasi dan perundangan tetapi faktanya semua terdampak virus corona dan wajar juga jika nantinya industrialisasi dan pabrikan enggan membayarkan THR. Jika sudah demikian maka janganlah saling menyalahkan tapi yang terpenting yaitu saling mengerti dan memahami memang situasinya terdampak. Artinya perlu kesadaran kolektif untuk bisa menerima dengan sabar karena memang semua pasti terdampak dan semua juga berharap situasinya bisa cepat kelar kembali normal.

Kalkulasi dari setahun terakhir pandemi dan kebijakan larangan mudik memang menjadi acuan terhadap dampak sistemik pandemi. Oleh karena itu, tidak perlu mencari kambing hitam dari situasi ini, terutama menuntut THR dengan gelombang demo massal. Situasi memang lagi tidak bersahabat dan semua terdampak pandemi sehingga perlu kearifan di balik situasi pandemi setahun terakhir. Jadi, larangan mudik juga harus dipahami secara konkret bukan kemudian menyalahkan pemerintah sehingga ramadhan dan lebaran tetap terasa syahdu tanpa harus pilu, meski imbas sosial ekonomi tetap terasa.

BERITA TERKAIT

Kontemplasi Lembaga Amil Zakat

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Keberadaan Lembaga Amil Zakat (LAZ) sangat strategis dalam mendistribusikan Zakat, Infaq dan Shodaqoh…

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…

BERITA LAINNYA DI

Kontemplasi Lembaga Amil Zakat

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Keberadaan Lembaga Amil Zakat (LAZ) sangat strategis dalam mendistribusikan Zakat, Infaq dan Shodaqoh…

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…