Planet Digital bagi Solusi Lingkungan

 

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.

Manager, Climate Reality Indonesia

Global Risk Report 2021 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menyatakan, di antara risiko dampak terbesar yang akan dihadapi manusia dalam sepuluh tahun ke depan adalah penyakit menular, diikuti kegagalan menangani perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan. Risiko lain adalah senjata pemusnah massal, krisis mata pencaharian, krisis hutang dan gangguan pada infrastruktur teknologi informasi.

Terkait teknologi informasi, sebuah survei mutakhir membuktikan bahwa COVID-19 telah membuat tranformasi digital serta penggunaan teknologinya menjadi beberapa tahun lebih cepat, dan perubahan ini akan terus terjadi untuk jangka panjang.

Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, menulis tentang kondisi transformasi digital untuk World Economic Forum. Menurutnya, tidak ada industri di Indonesia yang tumbuh secepat ekonomi digital. Diperkirakan pada tahun 2025, ekonomi digital di Indonesia akan mencapai 124 miliar dolar AS, naik dari 44 miliar dolar AS pada tahun 2020. Bahkan selama pandemi COVID-19, sektor digital di negara ini diproyeksikan akan tumbuh sebesar 10 persen, naik dari 40 miliar dolar AS pada 2019, sehingga jauh melampaui sektor lain yang saat ini mengalami stagnasi.

Strategi transformasi digital yang diadopsi oleh pemerintah, bisnis, dan berbagai organisasi lainnya, menurut Antonio Neri, Presiden dan CEO, Hewlett Packard Enterprise, harus fokus pada manusia dan planet. Transisi ke model bisnis rendah karbon untuk mengurangi krisis iklim sangat penting untuk dapat  bersaing dan berhasil di abad ke-21. Pelaku harus memanfaatkan data untuk meningkatkan proses, mengubah efisiensi, dan mengurangi dampak lingkungan, tambah Neri.

Dalam pertemuan para pakar yang digagas IBM untuk membahas “Teknologi Digital dan Lingkungan Hidup” di bulan September yang lalu ditekankan bahwa lingkungan hidup, termasuk daratan, lautan, udara serta berbagai peristiwa di dalamnya, adalah sumber data yang kaya.  Data dapat memberi informasi tentang kehidupan sehari-hari manusia termasuk  interaksi dengan alam, yang memiliki implikasi baik langsung maupun tidak langsung bagi aktivitas perekonomian.

Tindakan nyata untuk  lingkungan hidup, menurut para tokoh industri digital ternama, harus didukung oleh teknologi terbaru, termasuk observasi tentang segala hal yang terjadi di Bumi dengan pengamatan melalui satelit. Juga diperlukan  kecerdasan buatan, pemelajaran mesin dan internet untuk segala.

Melalui kombinasi teknologi digital dengan mahadata lingkungan, maka lingkungan yang lebih baik dan tujuan pembangunan berkelanjutan akan dapat dicapai. Namun keberhasilannya memerlukan tata kelola data yang tepat sehingga ada keterbukaan inovasi.

Di masa ketidakpastian sekarang ini, sektor swasta akan  semakin bergantung pada kemampuan untuk untuk menyelaraskan transformasi digital dan program menjaga lingkungan hidup yang harus didasarkan pada data. Studi global oleh Accenture menyimpulkan bahwa perusahaan yang menerapkan pendekatan ini 2,5 kali lebih mungkin berada di kalangan bisnis dengan kinerja terbaik di masa depan.

Sayangnya, penerapan data dan teknologi digital untuk solusi lingkungan hidup dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) masih sangat terbatas dan kurang dipahami para professional di bidang lingkungan hidup maupun para pemangku kepentingan lainnya, termasuk masyarakat. Studi dari Badan Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan bahwa  68 persen indikator SDGs terkait lingkungan, tidak memiliki data yang cukup untuk untuk menilai kemajuan yang dicapai. (W)

BERITA TERKAIT

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…

PSC dan FSC

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Ada kabar baik bagi dunia kemaritiman nasional. Diberitakan oleh…

BERITA LAINNYA DI

Krisis Iklim, NDC dan NZE

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D. Manager, Climate Reality Indonesia Sejak Persetujuan Paris, kesepakatan internasional tentang perubahan iklim pada 2015, istilah…

UMKM vs Milenial

Oleh: Firdaus Putra HC Ketua Komite Eksekutif ICCI (Indonesian Consortium Cooperative Inovation) Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan,…

PSC dan FSC

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Ada kabar baik bagi dunia kemaritiman nasional. Diberitakan oleh…