Kilang Balongan Diduga Bocor Namun Tidak Digubris

 

NERACA

Jakarta – Terbakarnya tangki milik PT Pertamina (Persero) di Balongan masih dicari penyebab utamanya. Berbagai macam teori dan analisis juga muncul dipermukaan yang menyebabkan 23.000 kilo liter Bahan Bakar Minyak (BBM) habis terbakar yang tak kunjung padam dalam beberapa hari. Menurut Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahean, semua dugaan-dugaan patut di cermati karena salah satunya mungkin benar. “Maka yang benar nantinya harus dijadikan dasar melakukan evaluasi perbaikan management mutu keaman kilang Pertamina agar tidak terulang hal sama,” kata Ferdinand sebagaimana dikutip dalam keterangannya, Selasa (6/4).  

Ia menjelaskan Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sempat mengatakan penyebab kebakaran adanya kebocoran tanki. “Beberapa media juga sempat mengulas bahwa sebelum adanya kejadian kebakaran, warga sudah menyampaikan adanya bau bensin menyengat namun tidak digubris. “Saya dalam hal ini menggaris bawahi kata tidak digubris, yang artinya ada unsur kesengajaan untuk mengabaikan potensi resiko bahaya terjadi dan bukan lagi sekedar kelalaian apalagi Force Mayeur yang diakibatkan alam alias sambaran petir,” katanya.

Kondisi tersebut, kata Ferdinand, sejalan dengan benang merah antara kebocoran yang disampaikan oleh Ahok dengan bau bensin yang menyengat dan sudah disampaikan warga namun tidak digubris oleh pihak kilang. “Bau itu dugaan besar karena ada kebocoran tanki. Tidak mungkin ada bau bensin jika tidak ada kebocoran. Saya sendiri sudah pernah mengunjungi kilang Balongan dan tidak ada bau bensin, artinya jika tidak ada kebocoran, maka tidak ada bau,” tukasnya.

Melihat mondisi tersebut, pihaknya meminta kepada pihak Polri khususnya Puslabfor yang akan melakukan penyelidikan atas peristiwa tersebut agar menjadikan dugaan kebocoran tersebut sebagai fokus penyelidikan. Terlebih warga sudah protes tapi tidak dihiraukan artinya bahwa ada kesengajaan membiarkan potensi bahaya tanpa penanganan.

“Jika hal tersebut yang terjadi, maka ada unsur yang memenuhi perbuatan pidana yang membuat aset negara terbakar dan menyebabkan kerugian. Maka harus ada tersangka jika ada kesengajaan pembiaran disana atas peristiwa tersebut dan management PT Kilang Pertamina Internasional atau PT KPI harus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab secara hukum,” jelasnya.

Ia juga berharap bahwa proses penyelidikan ini akan berlangsung transparan dan terbuka. “Dan kepada pihak PT KPI jika keberatan dengan pernyataan Ahok BTP soal kebocoran, silahkan dibantah terbuka karena pernyataan tersebut sudah terbuka ke public,” sebutnya.

Ferdinand mengatakan bahwa kilang Balongan yang baru saja terbakar merupakan kilang milik Pertamina yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional yang dipimpin oleh Djoko Priyono sebagai Direktur Utama. PT KPI ini adalah sub holding Pertamina yang membawahi seluruh kilang milik Pertamina dan bertanggung jawab atas produksi, keberlangsungan operasi dan keamanan kilang yang masuk dalam kategori objek vital nasional.

“Artinya, kebakaran Kilang tersebut adalah menjadi tanggung jawab PT KPI dan Djoko Priyono sebagai Direktur Utama bukan tanggung jawab Pertamina Pusat karena seluruh kewenangan operasi sudah didelegasikan ke sub holding sejak perubahan struktur Pertamina,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Bulan Mutu Karantina 2021, KKP Lepas Produk Ekspor Senilai Rp1 Triliun

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melepas ekspor produk perikanan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia sebagai…

Siemens Dukung Transformasi Digital Sektor Makanan dan Minuman

  NERACA Jakarta – Sebagai salah satu ekonomi manufaktur terbesar di Asia, Indonesia menjadi pusat perhatian pada pameran dagang terkemuka…

Batubara Melimpah, Pemanfaatan FABA Harus Maksimal

  NERACA Jakarta – Batubara masih menjadi primadona bagi pembangkit listrik di Indonesia. Selain karena murah, jumlah batubara di Indonesia…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Makro

Bulan Mutu Karantina 2021, KKP Lepas Produk Ekspor Senilai Rp1 Triliun

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melepas ekspor produk perikanan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia sebagai…

Siemens Dukung Transformasi Digital Sektor Makanan dan Minuman

  NERACA Jakarta – Sebagai salah satu ekonomi manufaktur terbesar di Asia, Indonesia menjadi pusat perhatian pada pameran dagang terkemuka…

Batubara Melimpah, Pemanfaatan FABA Harus Maksimal

  NERACA Jakarta – Batubara masih menjadi primadona bagi pembangkit listrik di Indonesia. Selain karena murah, jumlah batubara di Indonesia…