Ajukan Fee Rp80 Miliar, Pengurus PKPU GRP Dinilai Tidak Fair

 

Jakarta-Persoalan jumlah imbalan jasa Pengurus dalam kasus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Gunung Raja Paksi (GRP) masih belum mencapai kesepakatan. Hal ini disebabkan jumlah fee Pengurus yang diajukan dinilai tidak sesuai dengan tingkat kerumitan kasus, yakni sebesar Rp80 Miliar.

Kuasa Hukum GRP Rizky Hariyo Wibowo meminta agar kasus ini tidak dimanfaatkan tim Pengurus untuk meminta imbalan tinggi. Ia juga berharap Hakim Pemutus dapat menilai berdasarkan skala kerumitan dan kinerja Pengurus dalam menangani kasus.

“Apakah layak kasus yang tingkat pengurusan dan penanganannya tergolong tidak rumit ditagih sekian mahalnya? Meski di permenkumham diatur mengenai nilai persentase namun parameternya juga harus jelas dalam mencharge nilai fee, standartnya paling tidak dinilai berdasarkan tingkat kerumitan. Kalau mau fair tim pengurus harus jelaskan dasar menagih sekian mahalnya itu apa? apakah ini bagi pengurus dianggap sangat rumit? Kami tidak minta restrukturisasi, semua sesuai kesepakatan awal dengan para kreditor, hitungan penyelesaiannya pun tergolong cepat, jadi yang membuat terkesan sangat rumit itu dimana” tegas Rizky melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Angka tersebut merupakan hasil perhitungan total utang yang sudah jatuh tempo dan belum jatuh tempo milik GRP, kemudian dikalikan 4 persen. Padahal, pada sidang 1 Maret 2021, Hakim Pengawas dan mayoritas Kreditur telah menyepakati pembayaran hanya dilakukan untuk utang-utang yang telah jatuh tempo saja.

Selain itu, kuasa hukum GGRP yang lain, yakni Harmaein Lubis menegaskan bahwa jumlah fee Pengurus seharusnya ditentukan berdasarkan jumlah jam kerja dan biaya operasional yang dikeluarkan pihak Pengurus, bukan berdasarkan persentase.

“Kasus ini spesial, di mana kita menggunakan Pasal 259 untuk Pencabutan PKPU yang terdapat kekosongan terkait fee Pengurus. Kami menyimpulkan perhitungannya berdasarkan hourly atau jam kerja berdasarkan Permenkumham Tahun 2017,” ujar Harmaein Lubis

Dalam Permenkumham RI No. 2 Tahun 2017, imbalan jasa bagi Kurator dan Pengurus untuk PKPU yang berakhir dengan perdamaian diatur dengan ketentuan paling banyak 5,5% dari nilai utang yang harus dibayarkan. Namun, tambah Harmaein, hal ini tidak berlaku karena landasan yang digunakan ialah Pencabutan PKPU Pasal 259, bukan landasan homologasi atau perdamaian. “Kita bisa melihatnya dari tingkat kerumitan dan jam kerja Pengurus juga. Tidak tepat kalau menggunakan aturan persentase” jelasnya.

Di tempat terpisah, Presiden Direktur GRP, Abednedju Giovano Warani Sangkaeng menilai fee Pengurus yang yang diminta tidak mencerminkan nilai keadilan. Ia mengungkapkan bahwa nilai utang pemohon atau PT Naga Bestindo Utama (NBU) hanya sebesar Rp 1,9 Miliar, sangat jauh di bawah nilai fee Pengurus yang diminta.

"Nilai utang Pemohon kan tidak sampai Rp 2 Miliar, apakah wajar untuk pihak Pengurus meminta imbalan yang sangat besar? Menurut saya tidak fair," ujar Sangkaeng dalam keterangannya kepada media.

Selain jumlah imbalan yang dinilai terlalu tinggi, Sangkaeng menerangkan ketidaksepakatan ini turut menghambat proses Permohonan Pencabutan PKPU secara efektif. Apalagi Hakim Pengawas meminta nominal fee Pengurus disepakati terlebih dahulu sebelum mengajukan Permohonan Pencabutan PKPU secara formal.

“Tentu saja menghambat. Tapi kuasa hukum nanti akan mengajukan surat keberatan terkait fee untuk direkomendasikan ke Hakim Pemutus. Kami yakin Hakim dapat menilainya secara bijak,” tambah Sangkaeng. mohar

BERITA TERKAIT

SesKemenkopUKM: Tidak Ada Pengurangan Jumlah Pelaku Usaha Formal dan Informal Hingga 30 Juta Orang

NERACA Jakarta - Jumlah pelaku usaha mikro dan kecil memang mengalami perubahan sebagai akibat dampak pandemi Covid-19."Namun, perubahan tersebut tidak…

Larangan Mudik, Doni Monardo: Jangan Ada Yang Keberatan Agar Tidak Menyesal

NERACA Bengkulu - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni…

Wuling Ambil Bagian di Indonesia International Motor Show Hybrid 2021

NERACA Jakarta - Wuling Motors (Wuling) mengambil bagian dalam pameran otomotif hybrid pertama di Indonesia dengan turut serta dalam Indonesia…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Daerah

SesKemenkopUKM: Tidak Ada Pengurangan Jumlah Pelaku Usaha Formal dan Informal Hingga 30 Juta Orang

NERACA Jakarta - Jumlah pelaku usaha mikro dan kecil memang mengalami perubahan sebagai akibat dampak pandemi Covid-19."Namun, perubahan tersebut tidak…

Larangan Mudik, Doni Monardo: Jangan Ada Yang Keberatan Agar Tidak Menyesal

NERACA Bengkulu - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni…

Wuling Ambil Bagian di Indonesia International Motor Show Hybrid 2021

NERACA Jakarta - Wuling Motors (Wuling) mengambil bagian dalam pameran otomotif hybrid pertama di Indonesia dengan turut serta dalam Indonesia…