UMKM Minahasa Utara Ekspor 16 Ton Olahan Tuna ke Amerika

NERACA

Jakarta - Sebanyak 16 ton olahan tuna beku diekspor ke Amerika Serikat (AS). Kegiatan ini menjadi istimewa lantaran dilakukan oleh unit pengolah ikan (UPI) yang baru ekspor perdana. UPI tersebut ialah usaha mikro kecil menengah (UMKM) UD Tomini Bay Seafood, yang belum sepekan mengantongi sertifikat hazard analysis and critical control points (HACCP) dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai KIPM) Manado.

“Ucapan terima kasih terutama kepada Balai KIPM Manado atas support yang terus diberikan yakni sertifikasi HACCP kepada kami dengan pelayanan yang super cepat," kata Direktur UD Tomini Bay Seafood, Agus Suparjo.

Bahkan saking cepatnya, Agus mengaku kaget sekaligus bangga karena produknya kini telah menjangkau pasar AS. “Hanya dengan 2 hari kerja, sertifikat HACCP kami bisa diterbitkan,” UJAR Agus.

Sementara itu, Kepala Balai KIPM Manado, M Hatta Arisandi memastikan jajarannya selalu memberikan dukungan kepada setiap UPI untuk melakukan ekspor. Terlebih jika UPI tersebut sudah mengantongi permintaan dari pembeli dari luar negeri.

“Kita mendukung sepenuhnya kepada UPI yang akan melakukan ekspor, pak Direktur UD Tomini ini sudah lama menyampaikan rencana terkait ekspor ke AS terlebih UPI ini sudah mengantongi permintaan PO dari buyer Amerika,” jelas Hatta.

, Balai KIPM Manado telah melakukan Inspeksi pada UPI UD. Tomini Bay Seafood di Minahasa Utara.

UD Tomini Bay Seafood ini pun secara resmi telah mengantongi ijin ekspor untuk produk frozen tuna. UPI tersebut tidak membuang-buang waktu untuk melakukan launching ekspor perdana dari Manado ke USA.

Dalam kegiatan ekspor perdana ini juga dihadiri oleh Direktur Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Syahrial serta Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Minahasa Utara selaku perwakilan Pemerintah Daerah Propinsi Sulawesi Utara.

“Saat ini aktivitas pemasaran juga sudah dibiayai oleh LPMUKP,” kata Syarif.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut peningkatan kualitas produk perikanan harus dimulai dari hulu. Jadi selain alat uji yang mutakhir, tim BKIPM diminta rutin turun ke lapangan untuk memastikan proses produksi di unit-unit pengolahan ikan berjalan sesuai standar.

Pemutakhiran alat uji hingga penguatan pengawasan ini, diakuinya sebagai bagian dari langkah strategis dalam menyasar pasar Internasional. Sebab hampir semua negara menerapkan standar tertentu untuk produk perikanan yang masuk (impor).

Sehingga dalam hal ini, harus diakui salah satu bentuk UMKM, Unit Pengolah Ikan (UPI) memainkan peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional.

 

Berdasarkan data Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, tercatat sebanyak 62.389 UPI se-Indonesia di tahun 2019.

Dari jumlah tersebut, volume produksi olahan ikan yang dihasilkan mencapai 6,85 juta ton. Fakta ini menjadi salah satu indikator bahwa sektor perikanan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan perekonomian nasional, terutama dalam meningkatkan perluasan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, dan peningkatan taraf hidup masyarakat.

Karenanya,menurut Sekretaris Ditjen PDSPKP, Berny A. Subki,  inovasi produk olahan ikan sangat diperlukan guna memberikan pilihan sekaligus memudahkan masyarakat mengonsumsi ikan.

“Saat ini yang diperlukan oleh masyarakat adalah produk produk yang ready to cook dan ready to eat. Pangsa pasar potensial saat ini adalah kaum millennial yang populasinya di Indonesia mencapai 90 juta jiwa, dan yang menarik minat mereka adalah produk yang kekinian dengan kemasan menarik,” terang Berny.

Lebih lanjut, kata Berny, perluasan akses pasar menjadi salah satu kunci pengembangan UPI. Sebagai bentuk respons, KKP telah menyiapkan platform Pasar Laut Indonesia atau program promosi produk-produk unggulan UMKM binaan sebagai bagian dari gerakan "Bangga Buatan Indonesia" (BBI).

Bahkan sebelumnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga terus berupaya peningkatan kapasitas produksi industri pengolahan ikan di dalam negeri untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga mengisi permintaan ekspor. Oleh karena itu, keberlangsungan sektor kelautan ini perlu ditopang pasokan bahan baku yang kontinyu.

“Industri pengolahan ikan membutuhkan bahan baku dengan jenis ikan yang spesifik dan standar kualitas tertentu, serta suplai yang kontinyu,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

 

 

BERITA TERKAIT

UKM Indonesia Masuk Pasar Rusia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan selalu mendukung para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) memasuki pasar ekspor ke…

Koperasi Pesantren Potensi Membangun Jaringan Ritel Modern

NERACA Lamongan - Pondok pesantren berpotensi menjadi pusat penggerak ekonomi yang sangat besar apalagi didukung banyaknya santri yang menimba ilmu…

Impor Maret 2021 Naik 26,55 Persen

NERACA Jakarta - Kenaikan ekspor Maret 2021 turut diimbangi permintaan impor Indonesia yang juga meningkat. Impor Indonesia pada Maret 2021…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

UKM Indonesia Masuk Pasar Rusia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan selalu mendukung para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) memasuki pasar ekspor ke…

Koperasi Pesantren Potensi Membangun Jaringan Ritel Modern

NERACA Lamongan - Pondok pesantren berpotensi menjadi pusat penggerak ekonomi yang sangat besar apalagi didukung banyaknya santri yang menimba ilmu…

Impor Maret 2021 Naik 26,55 Persen

NERACA Jakarta - Kenaikan ekspor Maret 2021 turut diimbangi permintaan impor Indonesia yang juga meningkat. Impor Indonesia pada Maret 2021…