Terbitkan 2,86 Miliar Saham Baru - Mitra Investindo Akuisisi Perusahaan Pelayaran

NERACA

Jakarta – Perkuat struktur permodalan guna mendanai akuisisi perusahaan pelayaran, PT Mitra Investindo Tbk. (MITI) berencana untuk menerbitkan saham baru sebanyak-banyaknya 2,86  miliar saham melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Asal tahu saja, perseroan berencana untuk melakukan HMETD dengan melepas saham dalam jumlah sebanyak-banyaknya 2.864.601.194 miliar saham dengan nilai nominal Rp50 per saham. Jumlah saham yang diterbitkan juga telah memperhatikan persentase porsi HMETD IRL sebesar 48,87% yang akan diserahkan kepada PT PAC atau setara Rp70 miliar.

Adapun, dana dari aksi korporasi ini akan digunakan untuk dua hal. Pertama, mengakuisisi 99,81% saham PT. Wasesa Line milik PT PAC senilai Rp. 70 Miliar. Selanjutnya, MITI juga akan melakukan pembelian piutang sebesar Rp15 miliar milik PT PAC. Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak atas Waktu HMETD akan dilakukan pada 26 Januari 2021. Sementara tanggal cum dan ex HMETD di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi masing-masing ditetapkan pada 22 Januari dan 25 Januari 2021.

Distribusi HMETD akan dilaksanakan pada 27 Januari 2021, sementara pelaksanaan dan perdagangan HMETD akan dilakukan pada 28 Januari hingga 3 Februari 2021. Bersamaan dengan aksi itu, perseroan juga akan menggabungkan nilai nomimal saham atau reverses stock dengan nomimal Rp50 per saham. Sebelumnya, otoritas pasar modal Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan sinyal bakal segera menghapus aktivitas perdagangan saham PT Mitra Investindo Tbk. di lantai bursa.

Mengutip keterangan BEI, langkah tersebut tertuang dalam surat No: Peng-00020/BEI.PP1/09-2020 sebagai akibat dari penghentian sementara (suspensi) emiten berkode MITI tersebut yang telah berlangsung selama 18 bulan.

Merujuk pada regulasi yang dikeluarkan oleh otoritas pasar modal, BEI mempunyai kewenangan untuk mendepak sebuah emiten apabila telah disuspensi selama 24 bulan. Adapun, aktivitas perseroan di pasar negosiasi tidak masuk dalam hal yang dipersyaratkan oleh BEI. Saat ini, kepemilikan saham mayoritas MITI dikuasai oleh publik dengan persentase 51 persen. Sementera sisanya, dipegang oleh Interra Resources.

MITI sendiri belum membukukan perdagangan sejak Juni 2020. Saat itu, emiten spesialis sektor pertambangan itu tercatat mengalami kerugian Rp 10,7 miliar. Disinyalir, anjloknya kinerja perusahaan sebagai akibat dari kontrak TAC IBN yang disebut-sebut tidak diperbaharui. Kemudian, hantaman pandemi yang terjadi saat ini diakui perseroan membuat ruang recovery kian terbatas.

 

BERITA TERKAIT

Penjualan Rokok Turun 19,3% - HM Sampoerna Genjot Sigaret Kretek Tangan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan rokok di tahun ini, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) bakal memacu penjualan segmen sigaret…

PTPP Raih Kontrak Mandalika Rp 940 Miliar

Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP), BUMN konstruksi dan investasi, menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dalam pembangunan Paket I Mandalika…

Investasikan Dana Rp 2,43 Triliun - Macquarie Capital Serap Saham Merdeka Copper

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Penjualan Rokok Turun 19,3% - HM Sampoerna Genjot Sigaret Kretek Tangan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan rokok di tahun ini, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) bakal memacu penjualan segmen sigaret…

PTPP Raih Kontrak Mandalika Rp 940 Miliar

Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP), BUMN konstruksi dan investasi, menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dalam pembangunan Paket I Mandalika…

Investasikan Dana Rp 2,43 Triliun - Macquarie Capital Serap Saham Merdeka Copper

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu…