Fitch Beri Rating B+ MTN Ciputra Development

NERACA

Jakarta – Fitch Ratings memberi peringkat B+ dengan outlook stabil untuk medium-term notes (MTN) yang akan diterbitkan emiten properti PT Ciputra Development Tbk. (CTRA). Informasi tersebut disampaikan lembaga pemeringkat internasional dalam laporan terbarunya di Jakarta, kemarin.

Fitch Ratings menjelaskan dana yang didapat dari penerbitan MTN itu sebagian besar akan digunakan Ciputra Development untuk membayar MTN yang jatuh tempo pada September 2021 senilai 150 juta dolar Singapura. Sisanya, berencana menggunakan dana dari MTN tersebut untuk mendanai ulang (refinancing) utang yang lain, akuisisi, modal kerja, dan belanja modal.

Rating B+ untuk CTRA dengan outlook stabil menegaskan pandangan kami bahwa perseroan dapat mempertahankan level prapenjualan yang dapat diatribusikan lebih dari Rp4 triliun pada 2021—2022, terlepas dari kondisi ekonomi yang menantang. Menurut Fitch, prospek marketing sales CTRA itu ditopang oleh diversifikasi produk yang dimiliki perseroan dengan permintaan rumah tapak terjangkau yang terus meningkat. 

Tak hanya itu, CTRA juga memiliki landbank yang cukup luas sekitar 2.341 hektar per akhir 2019. Adapun, luas cadangan lahan itu dinilai bisa mendukung pengembangan properti perseroan untuk 15 tahun. Lebih lanjut, outlook stabil mengindikasikan bahwa CTRA akan mempertahankan profil leverage yang moderat dengan likuiditas yang kuat.

Adapun, MTN milik CTRA senilai 150 juta dolar singapura dengan bunga 4,85% akan jatuh tempo pada 20 September 2020. Surat utang tersebut diterbitkan pada 20 September 2017. Sebagai informasi, emiten properti ini memperkirakan pendapatan sepanjang gtahun 2020 akan turun seiring dengan kelesuan di sektor properti akibat pandemi Covid-19. Sejalan dengan itu, perseroan memperkirakan laba bersih bakal turun 15% hingga 20% dibandingkan dengan 2019.

Direktur Ciputra Development, Tulus Santoso pernah bilang, hingga sembilan bulan 2020, pendapatan perseroan sudah menurun bila dibandingkan dengan periode tahun lalu. Tren penurunan pendapatan diharapkan bisa tertahan pada kuartal IV/2020 seiring dengan penjualan properti untuk tujuan investasi yang kembali menggeliat.”Kami akan pertahankan secara konsisten untuk menurun maksimal sekitar 10% di sisi pendapatan untuk 2020. Sehingga bottom line laba turun sekitar 15% - 20% dibandingkan 2019,” ujarnya.

Kendati belum dapat mengumumkan data pendapatan prapenjualan atau marketing sales per November 2020, Tulus menyebut tren pemulihan permintaan properti sudah terlihat. Dengan pendapatan yang kembali naik cukup signifikan, dia menilai biaya operasional bisa menjadi lebih efisien. Hingga September 2020, CTRA membukukan marketing sales senilai Rp3,8 triliun. Perolehan itu mencerminkan ketercapaian target sebesar 82,22% dari target yang telah direvisi senilai Rp4,5 triliun.

BERITA TERKAIT

Penjualan Rokok Turun 19,3% - HM Sampoerna Genjot Sigaret Kretek Tangan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan rokok di tahun ini, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) bakal memacu penjualan segmen sigaret…

PTPP Raih Kontrak Mandalika Rp 940 Miliar

Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP), BUMN konstruksi dan investasi, menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dalam pembangunan Paket I Mandalika…

Investasikan Dana Rp 2,43 Triliun - Macquarie Capital Serap Saham Merdeka Copper

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Penjualan Rokok Turun 19,3% - HM Sampoerna Genjot Sigaret Kretek Tangan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan rokok di tahun ini, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) bakal memacu penjualan segmen sigaret…

PTPP Raih Kontrak Mandalika Rp 940 Miliar

Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP), BUMN konstruksi dan investasi, menandatangani kontrak perjanjian kerjasama dalam pembangunan Paket I Mandalika…

Investasikan Dana Rp 2,43 Triliun - Macquarie Capital Serap Saham Merdeka Copper

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menggelar penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu…