Peremajaan Armada dan Teknologi - Blue Bird Siapkan Belanja Modal Rp 500 Miliar

NERACA

Jakarta – Danai ekspansi bisnisnya di tahun ini, PT Blue Bird Tbk (BIRD) akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 500 miliar. Head of Investor Relations Blue Bird, Michael Tene seperti dikutip investor daily di Jakarta, kemarin mengatakan, penggunaan capex akan difokuskan pada peningkatan pelayanan dan mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk memudahkan pelanggan.

Menurutnya, dengan strategi tersebut nantinya para pelanggan perseroan dapat lebih mudah melakukan pemesanan kendaraan yang diharapkan meningkatkan efisiensi operasi armada. “Sebab itu, anggaran belanja pada tahun ini akan digunakan untuk sebagai biaya peremajaan kendaraan dan juga investasi teknologi. Capex ini bersumber dari bank dan juga kas internal,”ujarnya.

Dijelaskan Michael, hal ini dilakukan karena taksi reguler masih jadi kontributor utama pendapatan perseroan. Dari segi diversifikasi, lanjut dia, perseroan selalu terbuka pada peluang bisnis baru yang sejalan dengan core business perseroan. Adapun sebelumnya, sepanjang 2020 Blue Bird telah merealisasikan belanja modal sebanyak Rp 500 miliar dari total Rp 1,5 triliun yang dianggarkan. Pandemi Covid-19 jadi sebab utama melemahnya realisasi tersebut.

Kata Direktur Blue Bird, Eko Yuliantoro, perseroan dalam menggunakan capex untuk tahun ini sangat selektif dengan tidak melakukan ekspansi secara besar-besaran. Maka demikian, belanja yang direalisasikan tahun ini hanya sepertiganya saja dari total Rp 1,5 triliun. “Pada awal tahun, kinerja perseroan masih sangat baik. Namun, dengan adanya pandemi Covid-19, kami harus selektif dan juga bertahan,” ujar dia.

Hingga September 2020, Blue Bird membukukan pendapatan sebanyak Rp 1,55 triliun, jumlah ini terpangkas 47.64%. Secara rinci, terjadi penurunan pendapatan dari lini kendaraan taksi sebesar 50,85% atau setara dengan Rp 1,16 triliun, padahal segmen ini sebelumnya berkontribusi hingga Rp 2,36 triliun pada September 2019. Hal yang sama juga dialami segmen sewa kendaraan yang turun 36,65% menjadi Rp 400,45 miliar. Kemudian beban langsung pada periode ini tercatat sebanyak Rp 1,29 triliun, menurun 40% dari Rp 2,15 triliun, sehingga laba bruto yang diperoleh perseroan berjumlah Rp 253,70 miliar. Beban usaha yang ditanggung oleh perseroan penyedia taksi ini juga turun menjadi Rp 430,73 miliar.

Kemudian, pendapatan dan beban, segmen denda dan klaim menguat hingga Rp 59,70 miliar. Namun, Blue Bird berhasil membalikkan rugi menjadi untung dari laba selisih kurs menjadi Rp 7,26 miliar. Meski demikian perolehan ini kembali ditekan oleh beban bunga yang naik menjadi Rp 77,38 miliar. Sehingga di periode 9 bulan pertama, Blue Bird masih membukukan rugi berjalan Rp 157,94 miliar, dari sebelumnya untung 229,75 di periode yang sama tahun 2019. Sedangkan total aset hingga September berjumlah Rp 7,44 triliun, terdiri atas aset lancar Rp 1,23 triliun dan aset tidak lancar Rp 6,21 triliun. Sedangkan pada total liabilitas berjumlah Rp 2,19 triliun dan total ekuitas Rp 5,25 triliun.




BERITA TERKAIT

Minim Sentimen Positif Bawa IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/1) sore kemarin, ditutup di zona…

Optimisme Pemulihan Ekonomi - Pasar Saham Masih Menarik Investor Asing

NERACA Jakarta – Meski sentiment negatif pandemi Covid-19 masih menghantui perekonomian Indonesia dan termasuk pasar saham, namun menurut PT Manulife…

Geliat Bisnis Ban ke Amerika - Menakar Kekuatan Fundamental Gajah Tunggal

NERACA Jakarta – Kabar investor kawakan Lo Kheng Hong borong saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membawa harga saham emiten…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Minim Sentimen Positif Bawa IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/1) sore kemarin, ditutup di zona…

Optimisme Pemulihan Ekonomi - Pasar Saham Masih Menarik Investor Asing

NERACA Jakarta – Meski sentiment negatif pandemi Covid-19 masih menghantui perekonomian Indonesia dan termasuk pasar saham, namun menurut PT Manulife…

Geliat Bisnis Ban ke Amerika - Menakar Kekuatan Fundamental Gajah Tunggal

NERACA Jakarta – Kabar investor kawakan Lo Kheng Hong borong saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membawa harga saham emiten…