Saham CITY dan IRRA di Pengawasan BEI

NERACA

Jakarta – Mempertimbangkan adanya peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), PT Bursa Efek Indonesia tengah mencermati pola transaksi saham PT Natura City Developments Tbk (CITY) dan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menegaskan, pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

Disampaikan Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Lidia M. Panjaitan dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan BEI, Irvan Susandy, bursa menginformasikan bahwa informasi terakhir mengenai saham CITY adalah informasi tanggal 21 Desember 2020 yang dipublikasikan melalui website PT Bursa Efek Indonesia terkait laporan hasil public expose tahunan.

Sedangkan informasi terakhir mengenai saham IRRA adalah informasi tanggal 21 Desember 2020 terkait laporan hasil public expose tahunan. Sehubungan dengan terjadinya UMA atas perdagangan saham CITY dan IRRA, BEI meminta para investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa.

Selain itu, Bursa juga menghimbau agar para investor mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, serta mengkaji kembali rencana corporate action perseroan apabila belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

Pada penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (11/1) saham PT Natura City Developments Tbk terpantau berlanjut menguat dengan naik 33,69% atau bertambah 62 poin ke harga Rp246 per saham. Sementara itu hingga jeda siang, Senin (11/1) saham PT Itama Ranoraya Tbk tercatat naik signifikan 22,63% atau bertambah 670 poin ke harga Rp3.630 per saham.

Tahun ini, PT Itama Ranoraya Tbk menargetkan penjualan produk swab antigen test milik Abbott mencapai 5 juta-10 juta unit. Direktur Pemasaran dan Penjualan Itama Ranoraya, Hendry Herman pernah bilang, pihaknya optimistis mampu menjual 5 juta – 10 juta unit swab antigen test pada 2021 atau meningkat 2 – 4 kali lipat dari realisasi penjualan 2020.

Tercatat di Januari 2021 saja, terdapat penjualan 1 juta unit dan apalagi dalam waktu dekat akan masuk produk swab antigen test baru dari Abbott dengan metode nasal yang lebih memberikan kenyamanan bagi penggunanya dengan kualitas yang sama. Oleh karena itu, Hendry meyakini penjualan produk swab antigen test milik Abbott tersebut akan berkontribusi signifikan terhadap total pendapatan perseroan ke depan.

 

BERITA TERKAIT

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - SMF Tawarkan Tingkat Bunga Hingga 5,75%

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF berencana menerbitkan obligasi dan…

Produksi CPO Dharma Satya Tumbuh 4,4%

NERACA Jakarta- Sepanjang tahun 2020 kemarin,  PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) mencatatkan volume produksi crude palm oil (CPO) 636.947…

Permintaan PCR Naik Lima Kali Lipat - DGNS Menuai Berkah di Libur Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Kebijakan pemerintah yang mewajibkan warganya melakukan tes swab bagi yang ingin berpergian jauh baik lewat darat, laut…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun - SMF Tawarkan Tingkat Bunga Hingga 5,75%

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF berencana menerbitkan obligasi dan…

Produksi CPO Dharma Satya Tumbuh 4,4%

NERACA Jakarta- Sepanjang tahun 2020 kemarin,  PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) mencatatkan volume produksi crude palm oil (CPO) 636.947…

Permintaan PCR Naik Lima Kali Lipat - DGNS Menuai Berkah di Libur Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Kebijakan pemerintah yang mewajibkan warganya melakukan tes swab bagi yang ingin berpergian jauh baik lewat darat, laut…