Fakta dan Bahaya Swab Antigen Sendiri

Swab antigen belakangan banyak dipilih karena harganya yang lebih murah dibandingkan swab PCR dan hasilnya lebih akurat dibandingkan dengan rapid tes antibodi. Seperti rapid tes antibodi, swab antigen menghasilkan hasil yang cepat dalam waktu kurang lebih 30 menit.

Swab tes antigen mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, bukan mendeteksi antibodi tubuh terhadap penyakit Covid-19. Swab dilakukan dengan cara memasukkan atau mencolokkan alat ke bagian dalam hidung hingga tenggorokan atau nasofaring untuk mengambil sampel lendir. Sampel itu kemudian diuji menggunakan alat serupa seperti rapid tes untuk melihat hasilnya.

Bila melihat prosesnya, pengujian menggunakan swab antigen memang tampak mudah dan cepat, serta seolah bisa dilakukan sendiri. Hanya saja, dokter spesialis paru, Erlang Samoedro menegaskan bahwa swab sebaiknya dilakukan oleh petugas terlatih dan menggunakan alat perlindungan diri (APD).

Pasalnya, melakukan swab antigen sendiri menimbulkan risiko penularan Covid-19 hingga ancaman kematian. "Melakukan swab sendiri ke orang lain itu risiko tertularnya sangat besar. Pertama, tidak tahu orang ini positif atau enggak," katanya dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (4/1).

Dia lanjut mengatakan, "Kedua, kalau tidak pakai APD kan swab itu langsung dari hidung, jadi kemungkinan virusnya menyebar dan terhirup dengan kontak yang sangat erat." Selain itu, dia juga mengatakan bahwa kesalahan dalam melakukan swab menyebabkan kematian."Ada bahayanya. Efeknya bisa menimbulkan kematian karena refleks vagal. Makanya, perlu dilakukan oleh petugas terlatih," kata Erlang.

Vagal atau vagus merupakan bagian saraf yang terletak di leher. Saraf ini berhubungan erat dengan saluran pencernaan, sistem pernapasan, dan jantung. Bila saraf ini tertekan maka dapat menyebabkan refleks vagal seperti batuk, muntah, pingsan, hingga kematian.

Swab antigen dibandingkan dengan PCR

Meski sama-sama menggunakan metode swab, tetapi tes antigen berbeda dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erlina Burhan sempat mengatakan pada Agustus lalu bahwa jangan sampai metode swab antigen disamakan sebagai tes PCR.

Rapid tes antigen tetap membutuhkan metode swab dari hidung atau tenggorokan untuk mengambil sampel antigen demi mengetahui keberadaan protein yang dikeluarkan oleh virus, termasuk Covid-19. Antigen dapat terdeteksi ketika ada infeksi yang sedang berlangsung di tubuh seseorang. Karena itu, rapid test antigen dapat mendeteksi keberadaan antigen virus corona pada orang yang sedang mengalaminya.

"Yang diambil adalah swab hidung atau tenggorokan dan ini dimasukkan ke dalam alat dan melihat reaksi antigen Covid-19. Jadi virusnya yang dideteksi adalah bagian luar virus," tutur Erlina kala itu.Dia kemudian mengatakan bahwa PCR tetap merupakan standar tertinggi atau gold standard pendeteksian Covid-19 meski swab antigen menawarkan akurasi yang tinggi dibandingkan rapid tes antibodi. Sebab, swab antigen tetap merupakan rapid tes dengan tingkat akurasi yang lebih rendah dibandingkan PCR yang melakukan pengujian melalui laboratorium. Erlina menjelaskan penelitian di Belgia menunjukkan deteksi dari rapid test antigen adalah 105 kali lebih kurang sensitif dibandingkan dengan pemeriksaan RT PCR.

BERITA TERKAIT

Bahaya Berbaring Setelah Makan

Perut begah setelah makan terkadang mendorong hasrat untuk berbaring atau rebahan sejenak. Kondisi tersebut mungkin membuat Anda merasa nyaman, tapi…

6 Bulan Usai Sembuh, Pasien Covid-19 Masih Bergejala

Sebuah penelitian di China menemukan sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 masih mengalami berbagai gejala enam…

Parasit dalam Daging Setengah Matang Picu Risiko Kanker Otak

Sebagian orang, lebih memilih daging yang dimasak setengah matang untuk mendapatkan tekstur juicy saat menikmatinya. Namun, kini sebuah penelitian terbaru…

BERITA LAINNYA DI Kesehatan

Bahaya Berbaring Setelah Makan

Perut begah setelah makan terkadang mendorong hasrat untuk berbaring atau rebahan sejenak. Kondisi tersebut mungkin membuat Anda merasa nyaman, tapi…

6 Bulan Usai Sembuh, Pasien Covid-19 Masih Bergejala

Sebuah penelitian di China menemukan sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 masih mengalami berbagai gejala enam…

Parasit dalam Daging Setengah Matang Picu Risiko Kanker Otak

Sebagian orang, lebih memilih daging yang dimasak setengah matang untuk mendapatkan tekstur juicy saat menikmatinya. Namun, kini sebuah penelitian terbaru…