STANDAR WHO MAKSIMAL 5% - Positivity Rate Covid-19 di Indonesia Masih Tinggi

Jakarta-Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, mengatakan positivity rate Covid-19 di Indonesia per 29 November 2020 berada di level 13,55%. Angka ini menurun tipis dari Oktober 2020 yang mencapai 16,11%. Sementara pada Juni 2020, positivity rate masih berada di angka 11,71%, kemudian Juli naik menjadi 13,36% dan Agustus 2020 mencapai 15,43%.

NERACA

Meski pada November menurun, positivity rate Covid-19 di Indonesia masih jauh di atas standar World Health Organization (WHO). Standar aman menurut WHO, positivity rate pada negara yang dilanda pandemi Covid-19 adalah 5%.  "Harus diingat meskipun positivity rate kita agak turun di Oktober, November tapi ini masih tetap ada di atas standar WHO," ujar Dewi di Gedung BNPB, Rabu (2/12).

Positivity rate merupakan persentase orang yang memiliki hasil tes positif Covid-19 dibandingkan jumlah orang yang dites.

Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengungkapkan testing Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 90,64% dari target WHO. "Walaupun sempat mengalami berbagai fluktuasi, jumlah testing yang dilakukan pada bulan November 2020 mencatatkan tren peningkatan setiap minggunya dari 67,15% pada minggu pertama, naik menjadi 90,64% pada minggu ke-4," ujarnya.

Wiku menyebut, jumlah testing Covid-19 di Tanah Air semakin mendekati target yang ditentukan WHO. Capain ini tidak mudah karena melewati beberapa kendala. Seperti ketersediaan reagen, jumlah SDM, kapasitas laboratorium serta kondisi geografi Indonesia. "Oleh karena itu, saya mengapresiasi tenaga kesehatan yang sudah bekerja keras untuk meningkatkan jumlah testing ini," ujarnya.

Selain itu, Dewi mengungkapkan kendala jumlah testing Covid-19 belum merata di semua provinsi. Salah satunya keberadaan laboratorium belum tersebar dengan baik. "Sebaran laboratorium tidak merata, provinsi besar memiliki sebaran lab yang cukup banyak, seperti di DKI, Jatim, Jabar, tapi lain halnya dengan Aceh, Riau, atau Jambi, jumlah labnya kurang dari 10, itu juga menjadi faktor," ujarnya.

Faktor lainnya, keterbatasan jumlah dan kapasitas SDM yang mumpuni melakukan testing penyakit infeksius. Menurut Dewi, proses pengetesan Covid-19 memiliki beberapa titik krisis sehingga berpengaruh terhadap sampel diuji.

"Jadi SDM harus mumpuni dalam pengambilan dan pengiriman sampel, mereka harus bisa menjaga kualitasnya dan memastikan alat pengujian berjalan baik dengan logistik yang cocok," tutur dia.

Dewi menambahkan, komitmen SDM penguji sampel dan kualitas laboratorium bervariatif yang berbeda dari jumlah tes dilakukan perharinya bisa cenderung berbeda, antara tes dilakukan pada hari biasa dan akhir pekan. Dewi mengamati, angka di akhir pekan jumlah sampel diuji bisa lebih rendah ketimbang hari biasa. "Jadi ini dibutuhkan komitmen agar bisa merata antara yang dites setiap harinya, agar antara data akhir pekan dan hari biasa jumlahnya bisa sama, tidak terjadi penurunan," ujarnya.

Bantuan Uni Eropa

Untuk mendukung sistem kesehatan di ASEAN, Uni Eropa menggelontorkan bantuan senilai €20 juta atau setara Rp 342,3 miliar (kurs Rp 17.115/EUR) untuk program bernama Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Pandemi di Asia Tenggara. "Kemarin, kami umumkan program dukungan baru bernama Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Pandemi Asia Tenggara senilai €20 juta," kata Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Igor Driesmans dalam konferensi pers virtual, Selasa (2/12).

Sebagai informasi, program Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Pandemi di Asia Tenggara akan dilaksanakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja sama dengan pemerintah pusat negara-negara ASEAN dan Sekretariat ASEAN. Program ini bertujuan meningkatkan koordinasi regional untuk penanggulangan pandemi Covid-19 dan memperkuat kapasitas sistem kesehatan di Asia Tenggara, sekaligus memberikan fokus pada kelompok rentan.

Menurut dia, program yang berdurasi selama 42 bulan itu juga bertujuan untuk memperkuat kapasitas pengetesan Covid-19 di negara anggota ASEAN. Selain itu, bantuan ini diharapkan dapat mendukung institusi kesehatan dan para pekerja sektor kesehatan untuk menangani kasus Covid-19 serta menjaga layanan kesehatan esensial. Tak hanya itu, program ini juga bertujuan untuk mendukung komunikasi yang transparan mengenai pandemi Covid-19. Kemudian, bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan penyebaran informasi mengenai pencegahan Covid-19 bagi masyarakat di daerah terpencil dan pedesaan. "Program ini akan membantu negara-negara di ASEAN serta meningkatkan koordinasi melalui ASEAN," ujarnya.

Uni Eropa mengumumkan bantuan € 20 juta untuk mendukung sistem kesehatan di ASEAN. Ini sebagai bagian dari respon global dari Tim Eropa terhadap pandemi virus korona. Program bantuan baru senilai € 20 juta untuk mendukung kapasitas kesiapsiagaan dan tanggap darurat dari mitra-mitra kami di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). 

Program Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Pandemi di Asia Tenggara akan dilaksanakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bekerja sama dengan pemerintah pusat Negara-negara ASEAN dan Sekretariat ASEAN. Program ini bertujuan meningkatkan koordinasi regional untuk penanggulangan Covid-19 dan memperkuat kapasitas sistem kesehatan di Asia Tenggara, sekaligus memberikan fokus khusus pada kelompok  rentan. 

Komisioner untuk Kemitraan Internasional, Jutta Urpilainen, mengumumkan program tersebut pada Pertemuan Menteri Luar Negeri Uni Eropa-ASEAN ke-23. “Program Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat terhadap Pandemi Asia Tenggara adalah bagian dari bantuan dan solidaritas Uni Eropa sebesar € 350 juta untuk mendukung para mitra kami di ASEAN untuk mengatasi pandemi Covid-19. Koordinasi yang kuat di tingkat regional terhadap akses informasi, peralatan dan vaksin merupakan hal yang krusial untuk mengatasi krisis ini. Kita sama-sama mengalami krisis ini dan sebagai mitra kita lebih kuat jika menghadapinya bersama,” jelasnya. 

Bantuan Uni Eropa dalam menanggapi pandemi virus korona di kawasan Asia Tenggara mencapai € 350 juta. Dengan tambahan kontribusi dari Negara-negara Anggota Uni Eropa, maka total bantuan dari Tim Eropa mencapai lebih dari € 800 juta. 

Demi mengatasi dampak kesehatan dan sosial-ekonomi dari pandemi virus korona, Uni Eropa telah menyusun kembali program-programnya di Asia Tenggara, dengan memfokuskan secara khusus pada kebutuhan untuk melakukan komunikasi publik dan penelitian. Sebagai contoh, dukungan Uni Eropa untuk Indonesia adalah dengan melibatkan solusi digital untuk melacak pengeluaran pemerintah terkait Covid-19, serta membantu memastikan transparansi dan akuntabilitas anggaran tersebut.

Uni Eropa merupakan mitra kerja sama pembangunan utama bagi ASEAN dan negara-negara anggotanya. Dalam periode 2014-2020, Uni Eropa telah mendukung Sekretariat ASEAN dan upaya integrasi kawasan ASEAN dengan bantuan dana lebih dari € 250 juta, sedangkan bentuk dukungan bilateral Uni Eropa kepada negara-negara anggota ASEAN mencapai € 2 miliar. bari/mohar/fba 

BERITA TERKAIT

Pemerintah Perpanjang PPKM Hingga 8 Feb. - PELARANGAN WNA MASUK RI DIPERPANJANG

Jakarta-Pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari 2020 mendatang. Keputusan ini diambil karena belum ada…

Pengamat: Bertentangan dengan Regulasi, KCI Diakuisisi MRT

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai rencana aksi korporasi PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk…

KEJAGUNG SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PENGELOLAAN KEUANGAN - Penyidik Periksa 20 Pegawai BPJS Ketenagakerjaan

Jakarta-Kejaksaan Agung RI diketahui tengah menyelidiki dugaan perkara tindak pidana korupsi pada pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Badan…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

Pemerintah Perpanjang PPKM Hingga 8 Feb. - PELARANGAN WNA MASUK RI DIPERPANJANG

Jakarta-Pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari 2020 mendatang. Keputusan ini diambil karena belum ada…

Pengamat: Bertentangan dengan Regulasi, KCI Diakuisisi MRT

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai rencana aksi korporasi PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk…

KEJAGUNG SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PENGELOLAAN KEUANGAN - Penyidik Periksa 20 Pegawai BPJS Ketenagakerjaan

Jakarta-Kejaksaan Agung RI diketahui tengah menyelidiki dugaan perkara tindak pidana korupsi pada pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Badan…