NTP Jadi Barometer Ekonomi Petani

NERACA

Jakarta – Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani melalui kemampuan daya beli petani di pedesaan. Kenaikan NTP juga menunjukkan bahwa daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat NTP nasional pada bulan November 2020 mencapai 102,86 atau naik sebesar 0,60 persen. Kenaikan terjadi Karena harga yang diterima petani (it) naik sebesar 1,00 persen, atau lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,40 persen.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, kenaikan tersebut terjadi lantaran subsektor hortikultura mengalami kenaikan sebesar 2,85 persen. Selain itu, ada dua subsektor lain yang juga mengalami kenaikan pada periode November 2020.

"Pertama subsektor tanaman perkebunan naik sebsar  2,25 persen dan kedua subsektor peternakan yang naik sebesar 0,58 persen, sehingga total NTP pada bulan November (m to m) naik sebesar 0,60," ujar Setianto di Jakarta, pekan ini.

Selain itu, menurut dia, kenaikan juga terjadi pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanuan (NTUP) pada periode yang sama, yakni di bulan November 2020. Tercatat, NTUP di bulan tersebut mencapai 103,28 atau naik 0,84 persen jika dibanding NTUP bulan sebelumnya. Kenaikan terjadi karena indek yang dibayar petani juga ikut naik sebesar 0,40 persen.

"Kenaikan NTUP polanya sama dengan NTP, dimana subsektor hortikukultura naik sebesar 2,13 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,53 persen serta peternakan naik sebesar 0,66 persen, sehingga total kenaikan NTUP (m to m) sebesar 0,84 persen," ujarnya. 

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, Setianto mengatakan bahwa Nilai ekspor pertanian pada bulan Oktober 2020 juga mengalami pertumbuhan positif, yakni sebesar USD 0,42 miliar atau tumbuh 1,26 persen (m to m) jika dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan terjadi karena adanya dukungan mobilitas ekonomi di sejumlah negara yang juga terus membaik. Secara yoy pun, ekspor sektor pertanian tumbuh 23,80 persen. "Yang jelas, ekspor nonmigas kita menyumbang 95,03 persen dari total ekspor Januari-Oktober 2020, dimana 11,38 persen diantaranya berasal dari sektor pertanian," ujarnya. 

BPS juga merilis bahwa sektor pertanian tumbuh sebesar 2,15 persen (y on y). Pertumbuhan ini tak lepas dari kondisi harga komoditas pangan kelapa sawit dan kedelai di pasar internasional pada triwulan ke III yang naik secara (q to q) maupun (y on y).

Setianto pun menerangkan, sejauh ini pangsa ekspor nonmigas terbesar Indonesia masih diduduki oleh 3 negara besar baik di Asia maupun di Amerika. Ketiganya adalah Tiongkok,  Amereka Serikat dan Jepang. "Yang jelas, ekapor nonmigas kita menyumbang 95,03 persen dari total ekspor Januari-Oktober 2020, dimana 11,38 persen diantaranya berasal dari sektor pertanian," ujarnya. 

Melihat angka tersebut, Staf Ahli Menteri Pertanian Bambang merasa optimistis ekspor tiga kali lipat (Gratieks) itu bukanlah hal yang sulit. Bahkan Gratieks bukan berarti hanya volumenya saja yang ditingkatkan, akan tetapi nilai dan daya saingnya juga menjadi fokus perhatian.  Jajaran kementerian perindustrian dan pelaku industri akan terdorong untuk mengembangkan keragaman dan mutu produk yang akan diekspor. 

Masyarakat dunia usaha difasilitasi merekayasa pengolahan produk pertanian sesuai preferensi dan permintaan pasar ekspor.  Ke depan tentunya diharapkan ekspor pertanian tidak hanya berorientasi pada produk primer saja. 

Pertanian menjadi peluang besar bagi pertumbuhan industri dalam negeri sekaligus berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja.  “Setiap komoditi pertanian (pangan, perkebunan, hortikultura dan peternakan) berpotensi dapat dikembangkan untuk menghasilkan berbagai produk turunan yang sangat diminati pasar,” ujar Bambang.

Sementara itu, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM-Institut Pertanian Bogor (IPB) Sahara menegaskan sektor pertanian sangat Tangguh di tengah kondisi pandemi covid-19. Kendati demikian, dirinya menyarankan supaya pemerintah memperkuat seperti  dwelling time di pelabuhan. “Ini yang harus dikurangi. Lamanya waktu bongkar muat membuat tidak efisien,”tegas Sahara.

Terkait dengan negara tujuan ekspor, menurut Sahara diperlukan langkah preventif bagi para eksportir mendiversifikasi pasar tujuan ekspor. “Kalau ekspor hanya andalkan satu negara sama seperti menyimpan telur dalam satu keranjang. Risiko pecahnya sangat tinggi,” ujarnya. groho/iwan

 

 

 

BERITA TERKAIT

Pemerintah Perpanjang PPKM Hingga 8 Feb. - PELARANGAN WNA MASUK RI DIPERPANJANG

Jakarta-Pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari 2020 mendatang. Keputusan ini diambil karena belum ada…

Pengamat: Bertentangan dengan Regulasi, KCI Diakuisisi MRT

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai rencana aksi korporasi PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk…

KEJAGUNG SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PENGELOLAAN KEUANGAN - Penyidik Periksa 20 Pegawai BPJS Ketenagakerjaan

Jakarta-Kejaksaan Agung RI diketahui tengah menyelidiki dugaan perkara tindak pidana korupsi pada pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Badan…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

Pemerintah Perpanjang PPKM Hingga 8 Feb. - PELARANGAN WNA MASUK RI DIPERPANJANG

Jakarta-Pemerintah kembali memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga 8 Februari 2020 mendatang. Keputusan ini diambil karena belum ada…

Pengamat: Bertentangan dengan Regulasi, KCI Diakuisisi MRT

NERACA Jakarta - Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Deddy Herlambang menilai rencana aksi korporasi PT MRT Jakarta (Perseroda) untuk…

KEJAGUNG SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PENGELOLAAN KEUANGAN - Penyidik Periksa 20 Pegawai BPJS Ketenagakerjaan

Jakarta-Kejaksaan Agung RI diketahui tengah menyelidiki dugaan perkara tindak pidana korupsi pada pengelolaan keuangan dan dana investasi oleh PT Badan…