Imbas Pandemi Covid-19 - Pendapatan PGAS Terkoreksi 23,49%

NERACA

Jakarta – Di kuartal tiga 2020, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) atau PGAS membukukan pendapatan sebesar US$ 2,15 miliar atau sekitar Rp31,51 triliun. Realisasi itu turun 23,49% dari priode yang sama tahun lalu membukukan pendapatan US$ 2,81 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sementara laba bersih juga turun 58% menjadi US$53,35 juta, dibandingkan dengan priode yang sama tahun lalu US$129,10 juta. Perseroan menjelaskan bahwa pendapatan yang dibukukan sekitar Rp31,51 triliun mengacu kepada kurs tengah rerata kuartal III/2020 Rp14.647 per dolar Amerika Serikat. PGN mengungkapkan pendapatan sebagian besar berasal dari kinerja operasional penjualan gas. Dengan demikian, perseroan mencatat laba operasi sebesar US$315,49 juta dan EBITDA US$601,91 juta.

Kata Direktur Keuangan Perusahaan Gas Negara, Arie Nobelta Kaban, pencapaian kinerja keuangan kuartal III/2020 sangat dipengaruhi kondisi perekonomian yang saat ini masih belum pulih. Pihaknya menyebut dampak pandemi Covid-19 masih berlanjut sehingga belum meningkatkan permintaan gas bumi. Selain itu, lanjut dia, harga migas dunia masih belum naik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga masih fluktuatif."Triple shock tersebut berpengaruh kepada bisnis PGN yaitu demand terhadap gas bumi, sektor hulu yang tergantung pada market terutama harga minyak dan gas, serta harga LNG,” ujarnya.

Arie menjelaskan bahwa kondisi keuangan perseroan saat ini dalam kondisi cukup baik. Posisi kas dan setara kas snilai US$1,19 miliar per 30 September 2020. Posisi itu menurutnya lebih baik dibandingkan dengan posisi US$1,04 miliar per 31 Desember 2020. Selain itu, PGAS mengklaim kemampuan dalam memenuhi kewajiban masih baik. Current ratio sebesar 268% per 30 September 2020 atau lebih tinggi dari 197% pada 31 Desember 2019.

Manajemen PGN menyebut bisnis distribusi terpengaruh kondisi perekonomian. Namun, penurunan pendapatan dapat diikuti dengan penurunan beban pokok pendapatan. Selain itu, perseroan juga melakukan efisiensi. Dengan demikian, beban usaha perseroan turun US$107,5 juta. Manajemen PGN menyatakan berupaya maksimal untuk meningkatkan pendapatan perseroan sampai dengan akhir tahun. Langkah efisiensi dari sisi biaya tetap dilakukan sehingga kinerja keuangan menjadi lebih baik.

 

 

 

 

BERITA TERKAIT

RUPSLB HOKI Menyetujui Stock Split Saham

NERACA Jakarta -Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menyetujui rencana aksi korporasi untuk…

Kejar Pendapatan Rp 1 Triliun - Telefast Bakal Buka 1000 Jaringan Ritel

NERACA Jakarta -Optimisme tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya menjadi keyakinan bagi PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) dalam…

Terbitkan Surat Utang US$ 400 Juta - Delta Dunia Cetak Oversubscribed 2,9 Kali

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA)…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

RUPSLB HOKI Menyetujui Stock Split Saham

NERACA Jakarta -Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menyetujui rencana aksi korporasi untuk…

Kejar Pendapatan Rp 1 Triliun - Telefast Bakal Buka 1000 Jaringan Ritel

NERACA Jakarta -Optimisme tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya menjadi keyakinan bagi PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) dalam…

Terbitkan Surat Utang US$ 400 Juta - Delta Dunia Cetak Oversubscribed 2,9 Kali

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) melalui anak usahanya, PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA)…