Laba Bersih Saraswanti Makmur Tumbuh 5,69%

NERACA

Jakarta – Di kuartal tiga 2020, PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF) mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp75,35 miliar atau naik sekitar 5,69% dibandingkan laba tahun berjalan pada September 2019 sekitar Rp71.29 miliar. “Kinerja itu ditopang kenaikan harga CPO sejak bulan Mei 2020 dan terus mengalami kenaikan hingga saat ini,”kata Direktur Utama SAMF, Yahya Taufik dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, tren kenaikan harga CPO berdampak pada peningkatan permintaan pupuk oleh konsumen SAMF yang sebagian besar merupakan perkebunan kelapa sawit. Dirinya menambahkan, distribusi pupuk ke konsumen semakin membaik dan lancar seiring dengan adanya pelonggaran PSBB.

Pada kuartal tiga 2020, kinerja perseroan mulai membaik dan berhasil mencatatkan penjualan sekitar Rp994,89 miliar, atau naik sekitar 3,01% dibandingkan penjualan pada September 2019 yang tercatat sekitar Rp965.78 miliar. Dirinya melanjutkan, perseroan akan tetap optimis bahwa kinerja keuangan pada tahun ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.”Kami optimis, bahwa kinerja Perseroan yang sempat mengalami penurunan di semester I/2020 akan tertutupi dengan membaiknya kinerja pada semester II ini,” kata dia.

Sebagai informasi, perseroan memproyeksikan adanya pertumbuhan kinerja tahun ini di tengah pandemi Covid-19. Dimana perseroan menargetkan pendapatan tahun ini tumbuh sekitar 8%. Direktur Saraswanti Anugerah Makmur, Dadang Suryanto seperti dikutip kontan pernah bilang, pandemi Covid-19 memang sempat membatasi perputaran bisnis perusahaannya. "Terjadi hambatan distribusi pupuk ke kebun karena transportasi sangat terbatas. Di samping itu, PSBB juga membuat para pekebun tidak bisa memupuk," ungkapnya.

Meskipun begitu, menurut Dadang, penjualan pada kuartal II-2020 sudah lebih baik dibanding triwulan pertama. Untuk mencapai target pertumbuhan pendapatan 2020 di tengah pandemi Covid-19 ini, Saraswanti Anugerah Makmur juga sudah merancang beberapa strategi bisnis. Pertama, SAMF akan lebih fokus pada para pelanggan yang memiliki rekam jejak yang baik. Dadang mengatakan, saat ini pihaknya memiliki 500 pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mayoritas pelanggannya adalah perkebunan sawit yang berada di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Akan tetapi, SAMF juga memiliki pelanggan yang menanam komoditas lain, seperti tebu, kopi, dan karet.

Strategi yang kedua adalah dengan mencari alternatif bahan baku dari kawasan atau negara yang tidak terlalu terdampak Covid-19. Dengan begitu, SAMF dapat tetap memenuhi permintaan yang masih bergulir di tengah pandemi.

 

BERITA TERKAIT

Euforia Pelantikan Biden - Profit Taking Investor Tekan Penguatan IHSG

NERACA Jakarta  - Mengakhiri perdagangan Kamis (21/1) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah seiring…

Peroleh Fasilitas Kredit Rp 41 Miliar - Graha Layar Menaruh Asa Betangan Layar Bioskop

NERACA Jakarta – Meski geliat bisnis hiburan bioskop belum juga menunjukkan tren pertumbuhan positif seiring dengan kembali diberlakukannya pembatasan sosial…

TBIG Kantungi Pinjaman Rp 3,86 Triliun

NERACA Jakarta- Pertebal likuiditas guna menunjang ekspansi bisnisnya, emiten menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) terus menghimpun pendanaan dari…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Euforia Pelantikan Biden - Profit Taking Investor Tekan Penguatan IHSG

NERACA Jakarta  - Mengakhiri perdagangan Kamis (21/1) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah seiring…

Peroleh Fasilitas Kredit Rp 41 Miliar - Graha Layar Menaruh Asa Betangan Layar Bioskop

NERACA Jakarta – Meski geliat bisnis hiburan bioskop belum juga menunjukkan tren pertumbuhan positif seiring dengan kembali diberlakukannya pembatasan sosial…

TBIG Kantungi Pinjaman Rp 3,86 Triliun

NERACA Jakarta- Pertebal likuiditas guna menunjang ekspansi bisnisnya, emiten menara PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) terus menghimpun pendanaan dari…