Perkuat Jejaring Kerja Antara Perempuan di ASEAN

NERACA

Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengungkapkan pentingnya penguatan jejaring kerja sama antara perempuan di negara-negara anggota ASEAN.


"Jejaring kerja atau 'network' antara perempuan penting untuk saling memberikan inspirasi dan berbagi pengalaman," kata Retno Marsudi di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (14/11).


Retno menyampaikan hal tersebut saat menghadiri ASEAN Women Leaders' Summit secara virtual."Di dalam pertemuan tersebut saya memberikan contoh jaringan kerja antara para menteri luar negeri perempuan yang sangat kokoh memperjuangkan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan," tambah Retno.


Salah satu keaktifan Indonesia di dalam memperkuat jejaring yang kerja tersebut adalah dalam the Southeast Asian Network of Women Peace Negotiators and Mediators.


"Indonesia juga melakukan pelatihan pada tingkat kawasan untuk para diplomat perempuan. Kolaborasi antara jejaring kerja perempuan harus diperkuat sebagai bagian dari 'Global Alliance for Women Peace and Security'. Selain itu kita juga harus membangun kemitraan dengan lingkungan kita, termasuk kaum laki-laki karena peran laki-laki sangat penting dalam isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan," ungkap Retno.


Untuk Indonesia hal tersebut menurut Retno, dicerminkan dalam peran yang dimainkan oleh Presiden Jokowi sebagai salah satu "champion" dalam HeForShe Initiative."Pemerintah Indonesia juga memasukkan isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di dalam Rencana Pembangunan Nasional untuk tahun 2020-2024," tambah Retno.


"Diplomasi Indonesia sangat aktif dalam mengedepankan isu pemberdayaan perempuan. Indonesia aktif untuk isu 'women peace and security'. Indonesia juga aktif dalam mengarusutamakan peran perempuan dalam perdamaian," tambah Retno.


Saat Indonesia menjadi presiden Dewan Keamanan PBB pada Mei 2020 lalu, Indonesia bahkan menginisiasi satu resolusi baru mengenai resolusi baru mengenai "Women Peace Keepers".


"Resolusi ini merupakan resolusi pertama Dewan Keamanan PBB yang membahas mengenai penjaga perdamaian perempuan," tegas Retno.


Menurut Retno, ASEAN hanya memiliki waktu 4 tahun untuk mencapai ASEAN Community Vision 2025 yaitu cita-cita ASEAN untuk memiliki masyarakat yang inklusif dan hanya dapat dicapai dengan mendorong isu kesetaraan gender dan pemberdayaan negara.


"Negara ASEAN harus terus menjalankan perkembangan positif di berbagai bidang contohnya yaitu isu kesetaraan gender yang telah berada di semua konstitusi negara anggota ASEAN," tambah Retno.

Namun penting juga untuk terus melakukan perbaikan termasuk di dalam implementasi kebijakan dan terus mendorong kemajuan kesetaraan gender dengan perubahan cara berpikir (mind set). Ant

 

 

 

BERITA TERKAIT

Pemahaman Perempuan di Bidang Politik Ditingkatkan

NERACA Jakarta - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan pemahaman perempuan di bidang politik harus terus…

UU Ciptaker Justru Melindungi Pekerja

NERACA Jakarta - Anggota Badan Legislasi DPR RI Taufik Basari menegaskan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja…

Nilai Karakter Pancasila Ditanamkan Sedini Mungkin

NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ir Hendarman MSc PhD mengatakan nilai karakter Pancasila…

BERITA LAINNYA DI

Pemahaman Perempuan di Bidang Politik Ditingkatkan

NERACA Jakarta - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan pemahaman perempuan di bidang politik harus terus…

UU Ciptaker Justru Melindungi Pekerja

NERACA Jakarta - Anggota Badan Legislasi DPR RI Taufik Basari menegaskan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja…

Nilai Karakter Pancasila Ditanamkan Sedini Mungkin

NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ir Hendarman MSc PhD mengatakan nilai karakter Pancasila…