Bersinergi Mempromosikan Poduk Lokal

Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng seluruh diaspora Indonesia di luar negeri untuk ikut mempromosikan produk buatan lokal. Salah satunya, dapat diwujudkan dengan membeli dan menggunakan produk Indonesia.

NERACA

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menghimbau, “ayo beli dan gunakan produk buatan Indonesia di manapun Anda berada karena Indonesia memiliki banyak karya-karya dan produk yang membanggakan. Diaspora memegang peranan yang sangat penting dalam penggunaan produk Indonesia karena komunitas memiliki jaringan yang kuat dan memahami kondisi terkini di lapangan.”

Lebih lanjut, menurut Agus, Indonesia memiliki banyak karya-karya dan produk yang membanggakan. Produk yang berkualitas dihasilkan tidak hanya oleh industri skala multinasional, namun juga oleh industri rumahan, petani, dan nelayan Indonesia.

Produk-produk ini harus menjadi kebanggaan sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar serta bangga terhadap hasil karya bangsanya sendiri. “Dengan terus menerus mempromosikan penggunaan produk Indonesia di luar negeri diharapkan akan diikuti dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk Indonesia yang berujung pada peningkatan ekspor dan tentu saja bermuara pada perbaikan perekonomian nasional,” jelas Agus.

Bahkan, Agus mengakui, berdasarkan catatannya, kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2020 menunjukkan peningkatan di tengah perlambatan perekonomian global. Kinerja ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD 13,7 miliar atau naik 14,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan impornya menurun sebesar 2,7 persen dibandingkan Juni 2020 (MoM).

 “Kita mulai melihat penguatan rantai nilai domestik dimana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersedian produk-produk di dalam negeri. Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.”

 Agus pun memaparkan, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan, baik pada Juli 2020 maupun secara kumulatif pada periode Januari—Juli 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 surplus USD 3,3 miliar, naik hampir tiga kali lipat dibandingkan Juni 2020 yang surplus USD 1,2 miliar.

 “Peningkatan tersebut didorong perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit,” jelas Agus.

Agus pun mengugkapkan menyampaikan, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari—Juli 2020 surplus USD 8,7 miliar. Capaian pada semester pertama 2020 lebih baik dari periode yang sama tahun 2019 yang mengalami defisit USD 2,2 miliar.

“Perbaikan neraca perdagangan ini dikarenakan terjadinya penurunan impor yang lebih tajam dibandingkan penurunan ekspornya,” jelas Agus.

Bahkan, kata Agus, produk ekspor nonmigas yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah logam mulia, perhiasan/permata (HS 71), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Ekspor logam mulia dan perhiasan/permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hong Kong, dan Singapura.

Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filipina, Vietnam, dan Jepang. “Peningkatan nilai ekspor logam mulia disebabkan adanya kenaikan harga emas dunia pada Juli 2020 sebesar 6,6 persen (MoM). Sedangkan peningkatan ekspor kendaraan dan bagiannya menunjukkan produk otomotif asal Indonesia semakin kompetitif dan digemari di pasar Asia,” terang Agus.

Agus pun mengakui, secara tahunan, ekspor nonmigas pada Januari—Juli 2020 turun sebesar 4,0 persen seiring dengan kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat pandemi Covid-19. Pada Juni 2020, IMF memperkirakan pertumbuhan perekonomian global 2020 mengalami penurunan 4,9 persen.

Melihat fakta tersebut maka penggunaan dan kebanggaan terhadap produk-produk dalam negeri oleh konsumen Indonesia tentunya akan dapat memperkuat perekonomian bangsa.

Tidak hanyak produk lokal, panganan lokal juga sangat bagus diterapkan karena diproduksi dan dikembangkan masyarakatnya sesuai dengan potensi sumber daya wilayah dan budaya setempatnya. Terlebih Indonesia merupakan negara yang dikaruniai pangan lokal berlimpah.

"Kita perlu mengidentifikasi dan memberikan inovasi bagi pangan lokal yang memiliki dampak besar bagi ketahanan pangan nasional," ujar Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM), Eni Harmayani.

Meski begitu, menurut Eni tetap harus memperhatikan sustainable food, dimana tujuan utamanya bukan pada sisi pengembangan saja. Melainkan pangan yang diproduksi, diproses dan diperdagangkan dengan memasukan beberapa aspek.

"Kita harus melihat apakah  pangan tersebut berkontribusi pada perekonomian lokal dan kesejahteraan yang berkesinambungan," terang Eni.

 

BERITA TERKAIT

Pemerintah Mendorong UKM Pernak-Pernik

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terus melanjutkan kerja sama penyelenggaraan In Store…

Tingkatkan Daya Saing dan Transformasi UMKM

Surabaya – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali menegaskan komitmennya mendukung program peningkatan daya saing dan penggunaan produk…

KTT G20 Mengupas Penanganan Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

NERACA Jakarta - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar secara virtual pada tanggal 21-22 November 2020 mengesahkan Deklarasi Pemimpin…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Pemerintah Mendorong UKM Pernak-Pernik

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terus melanjutkan kerja sama penyelenggaraan In Store…

Tingkatkan Daya Saing dan Transformasi UMKM

Surabaya – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali menegaskan komitmennya mendukung program peningkatan daya saing dan penggunaan produk…

KTT G20 Mengupas Penanganan Pandemi dan Pemulihan Ekonomi

NERACA Jakarta - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar secara virtual pada tanggal 21-22 November 2020 mengesahkan Deklarasi Pemimpin…