Sagu, Pangan Sehat untuk Indonesia Maju

Jakarta - Pemerintah terus menjaga ketahanan pangan nasional, salah satunya dengan diversifikasi produk dan konsumsi. Pandemi Covid-19 juga menjadi momentum untuk membangun kedaulatan pangan melalui diversifikasi, termasuk dengan mengembangkan sagu sebagai salah satu pangan pokok yang berbasis kearifan lokal.

NERACA

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud menjelaskan, Indonesia memiliki luas lahan sagu terbesar di dunia. Dari 6,5 juta hektare (ha) lahan sagu di seluruh dunia, sebesar 5,5 juta ha berada di Indonesia dan lebih dari 94,55% terfokus di wilayah Papua seluas 5,2 juta ha. 

Adapun jenis Sagu yang tumbuh di wilayah Papua pun menghasilkan “pati” yang lebih tinggi dibandingkan sagu yang tumbuh di daerah lain. Sayangnya, dari segi konsumsi terhitung masih sangat rendah yaitu 0,4-0,5 kg/kapita/tahun sedangkan konsumsi beras cukup besar hingga 95 kg/kapita/tahun dan konsumsi tepung terigu meningkat tajam hingga 10-18 kg/kapita/tahun.

Dalam hal kontribusi sagu terhadap penyediaan lapangan pekerjaan, jumlah tenaga kerja atau petani sagu mencapai 286.007 KK. Sedangkan dalam hal kontribusi ekspor, nilai ekspor sagu di tahun 2019 adalah sebesar Rp108,89 miliar dan total volume 26.625 ton, dengan 5 negara tujuan utama ekspor sagu Indonesia yaitu India, Malaysia, Jepang, Thailand, dan Vietnam. 

“Kondisi ini menunjukkan bahwa produk sagu Indonesia diminati oleh pasar global, sehingga perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk, serta meningkatkan kontribusi ekspor sagu terhadap devisa Negara,” imbuh Musdhalifah. 

Disisi lain, Musdalifah menyampaikan, kontribusi ekspor sagu di tahun 2019 mencapai 108,89 miliar dari total volume ekspor sebanyak 26,6 ribu ton dengan negara tujuan India, Malaysia, Jepang, Thailand, dan Vietnam.

“Kondisi ini membuktikan bahwa produk sagu Indonesia sangat diminati pasar global. Terlebih sagu memiliki potensi yang sangat penting dan bukan hanya menjaga ketahanan pangan saja tetapi untuk menghasilkan devisa negara dan kesejahteraan rakyat,” jelas Musdalifah.

Atas dasar itulah kegiatan Pekan Sagu Nusantara (PSN) 2020 kali ini melibatkan lintas Kementerian/Lembaga (K/L) terkait dan juga diikuti oleh 13 Provinsi penghasil sagu, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, dan Aceh.  

“Acara ini juga diharapkan dapat menggali potensi bisnis sagu Nusantara dan meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan dalam melakukan optimalisasi manfaat sagu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terang Musdhalifah. 

Musdhalifah pun menegaskan, sagu sebagai pangan sehat perlu terus disosialisasikan dan dikembangkan melalui program pembangunan sagu yang dilakukan secara terpadu dari hulu ke hilir. 

“Tentunya dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terkait dan terus digulirkan menjadi program berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh sagu, khususnya untuk mendukung ketahanan pangan dan energi,” jelas Musdhalifah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono mengatakan bahwa makanan sagu bisa menjadi alternatif pangan sehat dan bergula rendah yang bisa dikonsumsi masyarakat Indonesia. Berkaitan dengan hal ini, kata Momon, pemerintah baru saja mengoptimalkan lahan sagu seluas 314.000 hektare.

“Dari 5,5 juta hektare, baru 314.000 hektare saja yang digunakan, itu pun dengan provitas 3,57 ton per hektare, yang sebenarnya bisa ditingkatkan lagi jadi 10 ton,” kata Momon.

Menurut Momon, provitas yang rendah disebabkan lebih kepada metode pengolahan yang masih tradisional. Untuk itu, Kementan sedang menyiapkan beberapa kebijakan agar optimalisasi sagu menjadi bahan pangan pokok alternatif pengganti beras.

“Kebijakan itu berupa perluasan area tanaman sagu serta upaya peningkatan produktivitas dan peningkatan kualitas dari sagu itu sendiri. Untuk produktivitas ini tentu teman-teman LitBang agar provitas meningkat, lalu kualitas ditingkatkan melalui fasilitasi sarana prasarana sagu dan diversifikasi produk tidak hanya untuk papeda namun juga yang lain,” ungkap Momon.

Di tempat yang sama, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengaku optimistis bahwa Provinsi Papua Barat mampu mengembangkan sagu dengan pesat. Apalagi luas areal sagu di Provonsi Papua Barat mencapai 510 ribu dan baru digarap sebagai dusun dan kebab sagu seluas 20 ribu hektare atua sekitar 3,9 persen.

“Ini harus menjadi momentum gerakan awal untuk merangkai kerjasama yang erat antara berbagai stakeholder, supaya pengelola sagu mulai dari hulu hingga ke hilir memiliki dampak pada kesejahteraan masyarakat,” pungkas Dominggus.

BERITA TERKAIT

Kontainer Langka, Ekspor Terhambat, Dunia Usaha Merugi

NERACA Jakarta - Ditengah upaya mempertahankan kelangsungan usaha akibat krisis Covid-19, saat ini para pelaku usaha kembali dihadapkan pada permasalahan…

Pertamina Menggandeng BPPT Perkuat Serapan TKDN

NERACA Jakarta - Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan penggunaan produk dan jasa dalam negeri sebagai langkah nyata mendorong perekonomian nasional.…

15 Start Up Milenial Raih Modal Rp 200 Juta

NERACA Jakarta - Perhelatan Pertamina Youthpreneur 2020 akhirnya tuntas. Ajang yang digelar untuk menjaring potensi wirausahawan muda di bidang startup…

BERITA LAINNYA DI Perdagangan

Kontainer Langka, Ekspor Terhambat, Dunia Usaha Merugi

NERACA Jakarta - Ditengah upaya mempertahankan kelangsungan usaha akibat krisis Covid-19, saat ini para pelaku usaha kembali dihadapkan pada permasalahan…

Pertamina Menggandeng BPPT Perkuat Serapan TKDN

NERACA Jakarta - Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan penggunaan produk dan jasa dalam negeri sebagai langkah nyata mendorong perekonomian nasional.…

15 Start Up Milenial Raih Modal Rp 200 Juta

NERACA Jakarta - Perhelatan Pertamina Youthpreneur 2020 akhirnya tuntas. Ajang yang digelar untuk menjaring potensi wirausahawan muda di bidang startup…