Prospek Ekonomi Indonesia

Kondisi perekonomian global dan Indonesia sekarang berubah total setelah pandemi Covid-19 menjalar ke hampir seluruh negara. Sehingga, perekonomian global maupun domestik mengalami kejatuhan yang luar biasa, termasuk Indonesia terkena dampaknya. Singapura, negara tetangga RI, sudah jelas masuk ke lembah resesi setelah dua periode berturut-turut memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang minus.

Dampak resesi Singapura tentunya ada terhadap Indonesia. Tinggal seberapa besar kadarnya yang mempengaruhi perekonomian domestik. Indikasi itu terlihat dari sejumlah prediksi dari Menkeu, Gubernur BI dan kalangan ekonom, yang menduga pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar minus 2% hingga 4% pada kuartal III-2020. 

Salah satu dampak berantai dari kejatuhan ekonomi dunia, adalah melemahnya sektor investasi, yang sebelumnya menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan investasi di era globalisasi telah berhasil mendukung pembangunan dan kemakmuran ekonomi di hampir semua negara. Khususnya, di negara-negara miskin dan sedang berkembang.

Kini yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah laju pertumbuhan investasi global akan tetap sama setelah munculnya krisis ekonomi yang disebabkan karena pandemi Covid-19? Salah satu aspek penting dalam investasi ialah ketersediaan dana atau modal. Namun, sayangnya setelah pandemi muncul, hampir semua negara mengalokasikan anggaran yang dimiliki untuk menangani krisis kemanusiaan.

Upaya untuk menyelamatkan nyawa manusia dari penularan virus Covid-19 menjadi agenda utama dari semua negara. Sehingga, kegiatan pembangunan lainnya dan investasi bukan lagi menjadi prioritas penting. Apabila kegiatan investasi tetap harus dijalankan, perlu dicermati mengenai sumber pembiayaannya dari mana, khususnya untuk investasi yang memerlukan biaya besar.

Tidak hanya itu. Bank sebagai salah satu sumber dana untuk membiayai kegiatan investasi tentunya akan sangat selektif dan sangat berhati-hati sekali. Mengingat, tingginya potensi kredit macet akibat pandemi. Tidak semua bank memiliki kemampuan yang sama dalam menyalurkan pinjaman, karena sebagian mungkin harus berkonsentrasi melakukan restrukturisasi kredit, ataupun berkurangnya sumber dana masyarakat. Sehingga, membuat mereka rentan sekali dalam menyalurkan pinjaman baru.

Fakta di lapangan memperlihatkan, dua pertiga pembiayaan investasi di Eropa masih bersumber dari bank. Namun, saat ini bank-bank tersebut lagi sibuk menghadapi potensi kredit macet dan berkurangnya likuiditas. Sehingga, kemampuan memberikan kredit baru menurun drastis. Sejumlah bank di negara maju maupun di negara sedang berkembang mengisyaratkan kemungkinan bail-out, sehingga bank tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya sebagai sumber utama untuk membiayai investasi.

Bank Dunia sendiri, yang biasanya memberikan pinjaman lunak untuk berbagai kegiatan investasi pembangunan infrastruktur di negara-negara sedang berkembang, telah memfokuskan dananya untuk bantuan darurat menangani penyebaran Covid-19. Kita berharap kondisi ini tidak menimbulkan credit crunch yang semakin mendalam dan mengganggu sumber pembiayaan untuk investasi. Turunnya credit rating Selain perbankan, pasar modal juga menjadi alternatif lain dalam pembiayaan investasi global. Sepertiga dari korporasi di Amerika Serikat masih mendapatkan sumber dana bank guna membiayai investasi mereka. Namun, dua pertiganya sudah mengandalkan pasar modal.

Dengan disahkannya RUU Omnibus Law Cipta Kerja menjadi UU di DPR, Senin (5/10), setidaknya harapan untuk meningkatkan investasi di dalam negeri menjadi lebih terbuka. UU yang dikenal juga sebagai UU Sapu Jagad itu setidaknya menghilangkan hambatan birokrasi perizinan, kepastian hukum serta kepastian jaminan hak buruh di Indonesia, akan menjadi bahan pertimbangan investor asing untuk melirik Indonesia, sebagai salah satu tujuan negara investasi di Asia Tenggara.

BERITA TERKAIT

Cegah Covid-19, Taati Prokes

Di tengah kondisi pandemi masih berlangsung hingga kini, sebagian masyarakat merasa seakan amnesia dadakan dan berani menabrak aturan protokol kesehatan…

Kebiasaan Baru Cegah Covid-19

Pandemi  Covid-19 di Indonesia hingga kini belum juga kunjung mereda. Terhitung sejak  2 Maret 2020 hingga saat ini, yang  berarti…

Bantu Kesulitan Masyarakat

Di tengah keprihatinan pandemi Covid-19, Pemerintah dipastikan memperpanjang berbagai program subsidi bantuan untuk mengatasi kontraksi ekonomi dan mendukung pemulihan ekonomi…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Cegah Covid-19, Taati Prokes

Di tengah kondisi pandemi masih berlangsung hingga kini, sebagian masyarakat merasa seakan amnesia dadakan dan berani menabrak aturan protokol kesehatan…

Kebiasaan Baru Cegah Covid-19

Pandemi  Covid-19 di Indonesia hingga kini belum juga kunjung mereda. Terhitung sejak  2 Maret 2020 hingga saat ini, yang  berarti…

Bantu Kesulitan Masyarakat

Di tengah keprihatinan pandemi Covid-19, Pemerintah dipastikan memperpanjang berbagai program subsidi bantuan untuk mengatasi kontraksi ekonomi dan mendukung pemulihan ekonomi…