Bagikan Kaki Palsu - Angkasa Pura II Membuka Asa Disabilitas di Riau

Bantu penyandang disabilitas agar tetap berdaya saing dan hidup mandiri, tentunya perlu uluran tangan antar sesama. Berangkat dari misi kemanusiaan, PT Angkasa Pura II (Persero) memberikan bantuan kaki palsu untuk warga disabilitas di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepualauan Riau.

Direktur of Finance PT. Angkasa Pura II (Persero), Wiweko Probojakti mengatakan, bantuan berupa 29 kaki palsu merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan serta kemitraan dan bina lingkungan PT Angkasa Pura II, sekaligus menyerahkan taman bacaan masyarakat yang dikelola oleh balai pustaka. "Konten dari taman bacaan ini semuanya disuplai oleh balai pustaka,"ujarnya di Riau, kemarin.

Menurutnya, taman bacaan masyarakat (TBM) ini dibangun untuk meningkatkan literasi dan kegemaran membaca masyarakat pulau Penyengat khususnya dan Tanjungpinang secara umum agar mereka bisa menjadi anak muda yang lebih kompetitif, sehingga lahir pemimpin bangsa di kemudian hari. Wiweko mengaku bangga bisa datang ke pulau yang menjadi sejarah sebagai lahirnya bahasa Indonesia sekian ratus tahun silam, oleh karenanya pihaknya bangga bisa menjadi bagian dari kontribusi buat negeri."Ini bagian dari amanah kami, Kementerian BUMN. Kami berharap, apa yang telah diberikan, baik taman bacaan maupun kaki palsu untuk penyandang disabilitas ini bisa bermanfaat buat masyarakat Pulau Penyengat," ucapnya.

Wiweko juga menitip pesan kepada masyarakat bahwa kita harus bersahabat dengan Covid-19. Masyarakat harus bisa melewati badai ini dengan menjadi lebih kuat lagi."PT. Angkasa Pura II yang mengelola 19 bandara di seluruh Indonesia siap untuk membantu meningkatkan kembali pariwisata nasional, pariwisata Indonesia, dan menghubungkan orang dari titik ke titik agar berkontribusi buat negara," tuturnya.

Sementara Wali Kota Tanjungpinang, Rahma mengapresiasi PT. Angkasa Pura II karena bantuan kaki palsu ini sangat luar biasa bagi masyarakat yang membutuhkan. "Mudah-mudahan bantuan kaki palsu ini memberikan manfaat yang luar biasa, yang mungkin mereka selama ini terbatas geraknya, setelah memakai kaki palsu ini dapat leluasa. Tentu, ini sangat diinginkan oleh mereka," kata Rahma.

Kemudian soal TBM, dirinya menyambut baik. Apalagi koleksi bukunya sangat lengkap dan bisa diakses secara digital. Dia berharap keberadaan taman bacaan ini bisa menjadi motivasi, terutama bagi pelajar yang memiliki waktu cukup banyak karena tidak belajar tatap muka di sekolah. "Setelah belajar daring dari sekolah, silakan datang ke taman bacaan ini. Di sini anak-anak bisa mendapatkan ilmu yang luar biasa," ujar dia.

Asal tahu saja, kaki palsu menjadi penting bagi mereka para disabilitas dalam menunjang beraktifitas. Namun mahalnya biasa kaki palsu membuat mereka yang membutuhkan harus menunda karena keterbatasan finansial. Menjawab hal tersebut, banyak gerakan kemanusiaan menggelar bantuan atau donasi kaki palsu. Bahkan tidak jarang, mereka para disabilitas juga ikut peduli dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan kaki palsu, seperti yang dilakukan Sholikin (64), warga Desa Brengkok, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur berbagi dengan sesama yang kekurangan.

 

Berbagi Antar Sesama

 

Seperti yang dikutip kompas, pria yang hanya memiliki satu kaki ini berbagi kaki palsu gratis kepada warga yang mengalami kejadian serupa seperti dirinya. Sholikin menceritakan, kisahnya berawal pada tahun 1997. Saat itu ia bekerja sebagai penambang batu kapur di Gunung Moyoruti, yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Saat bekerja, dia mengalami kecelakaan hingga harus kehilangan kaki kanan. "Awal kali kena musibah ya syok, apalagi kemudian saya diberitahu dokter jika salah satu kaki harus diamputasi," ujar Sholikin.

Sholikin sempat depresi. Namun, perlahan Sholikin mencoba untuk bangkit. Sholikin kemudian mencari orang yang bisa membuatkan atau menjual kaki palsu. Berkat bantuan dari seorang penyiar radio, ia kemudian mendapati alamat tersebut di Solo, Jawa Tengah. "Pada tahun 1998 saya dan keluarga kemudian pergi ke Solo untuk membeli kaki palsu, di sebuah yayasan yang khusus menangani orang cacat. Saya waktu itu belinya Rp 1 juta dan kemudian saya pakai," ucap dia. Seiring perjalanan waktu, Sholikin mulai merasakan kaki palsu yang dibelinya tersebut kurang nyaman untuk digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Kaki palsu yang digunakan terasa berat untuk digunakan sehari-hari. "Jadinya kurang leluasa dalam menjalankan aktivitas. Akhirnya, saya coba membuat kaki palsu sendiri di rumah," ujar dia.

Membuat kaki palsu Sholikin kemudian mulai mencoba membuat kaki palsu sendiri dengan berbekal peralatan seadanya. Bahan yang digunakan diperoleh Sholikin dari barang-barang bekas, mulai dari lempengan plat besi, bekas rambu lalu lintas yang sudah tidak dipakai, hingga pipa paralon dengan ketebalan sekitar 1 sentimeter.

Kejadian yang menimpa dirinya, membuat Sholikin menyadari betapa beratnya kehilangan kaki. Sehingga dia memutuskan untuk membuat dan memberikan kaki palsu hasil buatannya kepada mereka yang juga kehilangan kaki, baik cacat bawaan sejak lahir maupun karena kecelakaan. "Kalau sampai sekarang, mungkin sudah sekitar 17 orang yang saya kasih kaki palsu buatan sendiri. Tidak hanya yang tinggal di Lamongan, tapi beberapa daerah lain di Jawa Timur," ucap Sholikin.

BERITA TERKAIT

Hari Dokter Indonesia, Wom Finance Donasikan Alat Kesehatan untuk 3 RSUD

NERACA Jakarta – Di tengah pandemi COVID-19 yang kini juga melanda Indonesia, dokter menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien COVID-19.…

Digitalisasi Bawa Cuan Bagi Pedagang Saat Pandemi

Nyaris bangkrut dan terlilit utang puluhan juta karena tidak mampu bayar, derita yang harus diterima Diana (40) pedagang pakaian kaki…

Dorong Kemandirian dan Go Internasional - YDBA Bantu UMKM Kuliner Alat Pelatihan Memasak

Membangun kemandirian para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan menggali pontensi yang dimiliki selalu dilakukan Yayasan Dharma Bhakti…

BERITA LAINNYA DI CSR

Hari Dokter Indonesia, Wom Finance Donasikan Alat Kesehatan untuk 3 RSUD

NERACA Jakarta – Di tengah pandemi COVID-19 yang kini juga melanda Indonesia, dokter menjadi garda terdepan dalam penanganan pasien COVID-19.…

Digitalisasi Bawa Cuan Bagi Pedagang Saat Pandemi

Nyaris bangkrut dan terlilit utang puluhan juta karena tidak mampu bayar, derita yang harus diterima Diana (40) pedagang pakaian kaki…

Dorong Kemandirian dan Go Internasional - YDBA Bantu UMKM Kuliner Alat Pelatihan Memasak

Membangun kemandirian para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan menggali pontensi yang dimiliki selalu dilakukan Yayasan Dharma Bhakti…